Berita

90% Warga Muhammadiyah ke Jokowi-JK Hanya Ilusi

By  | 

Jakarta – Dukungan 90% suara warga Muhammadiyah, untuk pasangan Jokowi-JK, hanya klaim dari pihak yang tidak paham misi dakwah Muhammadiyah.

“Pernyataan itu cuma klaim, tidak ada dasarnya, bisa jadi cuma ilusi,” ujar Guru Besar sejarah dan pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof Siswanto Masruri, di Jakarta, Sabtu (21/6/2014).

Dia menyayangkan, adanya klaim soal dukungan Muhammadiyah untuk Jokowi-JK. Apalagi, hal itu muncul justru dari orang yang kuat dalam tradisi akademik.

“Ini memalukan martabat Guru Besar terutama di UIN Sunan Kalijaga. Seharusnya akademisi, apalagi seorang guru besar, berbicara menggunakan data. Sebab yang saya tahu hasil riset Universitas HAMKA (UHAMKA) menunjukkan 66% suara Muhammadiyah ke Prabowo-Hatta. Bukan soal hasilnya, tapi dasar yang digunakan,” ungkapnya.

Siswanto mengatakan, menjelang pilpres, memang banyak akademisi termasuk guru besar yang tidak kuat menolak godaan politik kekuasaan. Hasilnya, mereka rela memberikan dukungan politik kepada kandidat capres.

“Mereka tidak kuat menahan syahwat politik sehingga bersedia menjadi pelayan capres tertentu. Ini sangat mencemaskan, karena dapat mengikis moral intelektualitas. Seharusnya guru besar dapat menjadi suri tauladan,” terang mantan Pengurus Badan Pendidikan dan Kader, PP Muhammadiyah tersebut.

Sebagai organisasi dakwah, Muhammadiyah sudah menyatakan bersikap netral dalam pilpres mendatang. Namun, masih ada pihak yang tetap ingin menarik masuk Muhammadiyah ke dalam politik praktis.

Jum’at (20/6/2014) lalu, sejumlah tokoh Muhammadiyah lakukan pertemuan dengan Capres Jokowi.

Usai pertemuan, tokoh Muhammadiyah Abdul Munir Mulkhan yang juga Guru Besar UIN Sunan Kalijaga menyatakan, 90% warga Muhammadiyah memilih Jokowi. [gus- inilah.com]