Berita

Amien Rais : Prabowo Akan Otoriter itu Halusinasi

By  | 

Jakarta – Sosok M Amien Rais, tokoh reformasi 1998, dalam Pilpres 2014 ini masih menjadi magnit. Pernyataannya kerap membuat tipis telinga pihak yang berseberangan secara politik. Ia juga dikenal lugas dan apa adanya. Amien kini pendukung Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

Satu pekan terakhir, pernyataan Amien Rais menjadi bahan bahasan berbagai kalangan. Mulai pengamat, politisi hingga kalangan akademisi. Ini bermula dari pernyataannya istilah “Perang Badar”. Akibat istilah tersebut mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini di”bully” di media sosial dan media mainstream.

INILAH.COM secara khusus mewawancarai guru besar Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (3/6/2014) di kediaman pribadinya di bilangan Gandaria, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Gaya Amien tidak berubah. Ia masih sama saat bersuara tentang suksesi di era Presiden Soeharto dulu; lantang dan tanpa tedeng aling-aling. “Bagi saya, anjing mengonggong kafilah tetap berlalu karena gonggongan anjing tidak pernah menggigit,” seloroh Amien menanggapi respons publik atas pernyataan dan manuver poliitknya.

Amien berbicara tentang pernyataannya yang direspons secara luas oleh publik. Ia juga berbicara tentang masa depan reformasi di tangan Prabowo Subianto jika kelak terpilih menjadi RI 1. Tidak sekadar itu, Amien juga menegaskan tidak ada pintu dan jendela bagi Prabowo Subianto untuk bersikap otoriter jika kelak terpilih menjadi Presiden RI, sebagaimana disuarakan oleh sekelompok orang. Berikut wawancara lengkapnya:

Pernyataan Anda tentang perang badar disalahartikan oleh publik. Apa sebenarnya konteks pernyataan perang badar yang Anda maksud tersebut?

Jadi saya ketika membaca reaksi dari beberapa tokoh yang overeksesif dan tidak kena substansinya itu hanya bisa prihatin. Bagaimana mungkin, mereka tidak datang, hanya dengan membaca sepotong paragraf di media mereka ramai-ramai memberikan reaksi yang malah justru menggelikan dan menyedihkan.

Mereka lepas konteks, dan mereka tidak datang dan percaya dari kicauan satu media massa yang tidak lengkap. Untung Pak Anton Tabah sudah mengedarkan SMS ke beberapa tokoh yang mengatakan kira-kira “Saya datang sendiri di masjid al-Azhar dan Pak Amin maksudnya sama sekali bertolak belakang dengan yang dimengerti orang-orang yang tidak datang itu” saya mendapat tembusan SMS dari Pak Anton tabah. Dan alhamdulillah, tokoh-tokoh yang mendapat SMS dari Pak Anton Tabah itu positif dan malah minta maaf.

Duduk perkaranya, sebagai berikut. Saya masih punya memori yang bagus, saya mengatakan bahwa dari lima partai Islam yang empat sudah bergabung dengan koalisi merah putih. Satu mengambil jalan sendiri. Dalam kaitan ini kita harus memegang teguh kode etik al-Quran bahwa tidak boleh sesama orang beriman saling mengejek atau meremehkan. Kata quran dalam surat al-Hujarat, siapa tahu yang diajak justru lebih mulia dan lebih benar daripada yang mengejek dan meremehkan.

Jadi, semangat saya semangat ukhuwah, semangat merangkul. Dalam konteks berbeda, saya mengatakan marilah kita melihat contoh dalam sejarah nabi, kalau kita berjuang dan bekerja keras dengan ikhlas mencapai sesuatu yang luhur tanpa mengedepankan kepentingan atau pamrih maka insya Allah akan berakhir dengan keberhasilan.

Ketika perang badar, kaum muslimin tidak berpikir apakah akan mendapat rampasan perang atau tidak tapi mereka betul-betul berjuang menyambung nyawa untuk memelihara martabat, eksistensi serta masyarakat baru yang sedang dikepung dengan masyarakat jahiliyah waktu itu.

Karena niatnya ikhlas, sunnatullah mengatakan kemenangan akan diberikan Allah kepada para pejuang yang ikhlas tanpa pamrih. Itu persis seperti yang terjadi dalam perang badar. Sebaliknya, kalau yang dikedepankan dalam niatnya mencari kepentingan duniawi, berhitung sebesar apa yang akan diperoleh kemudian sudah membayangkan bagi-bagi rampasan perang itu akhirnya dalam perang uhud kaum muslimin menderita kekalahan telak.

Nah saya menghimbau umat Islam darimanapun datangnya agar semangat badar itu yang kita pegang. Jangan sampai negeri kita ini “kalah perang” melawan dominasi ekonomi asing, penjajahan budaya asing sehingga masalah pertahanan keamaman kita, ekonomi, diplomasi kita bisa jadi subordinat kekuatan asing.

Saya mengatakan bahwa masalah Indonesia tidak mungkin dipikul oleh umat Islam, tapi harus ada sayap nasionalis yang bisa membawa terbang bangsa ini dengan semangat kebersamaan, patriotisme dan nasionalime. Saya yakin bangsa ini akan dimenangkan oleh Tuhan YME.

Jadi bukan sama sekali saya memecah belah Islam, saya tidak sebodoh dan tidak sengawur itu. Hanya saya menyayangkan, kalau mengukur orang lain jangan dengan ukuran sendiri. Kelemahan kita itu kadang-kadang kita mengukur orang lain dengan ukuran kita sendiri, tingkah laku kita.

Dalam agama jangan sampai kita berpurba sangka. Dalam surat yang sama, orang berpurbarsangka itu bagaikan memakan bangkai atau mayat saudaranya, tentu jijik kalau memakan bangkai saudara sendiri. Saya kira hanya itu. Ada rekaman dan videonya, bisa dicek ke panitia penyelenggara.

Di media sosial disebutkan Anda pada 1998 mengatakan Prabowo merupakan pihak yang bertanggungjawab dalam kerusuhan Mei. Namun saat ini justru mendukung Prabowo. Anda bisa menjelaskan hal tersebut?

Kalau ada wartawan tv, media cetak yang bisa menunjukkan kata-kata saya itu baik tertulis maupun di radio bahwa saya mengatakan Prabowo bertanggungjawab, saya akan jalan kaki bolak-balik Yogja-Jakarta tujuh kali. Saya tidak bicara seperti itu.

Saya Alhamdulillah, bukan tipe orang menjatuhkan palu godam semena-mena. Apalagi Prabowo itu sahabat lama saya. Sejak awal reformasi, saya dengan Prabowo sering bertemu bahkan sebelum saya menjadi ketua partai, ketika nama saya mencuat karena bicara pentingnya suksesi dan reformasi, saya dipanggil Prof Dr Soemitro Djohohadikusumao, di rumah Bapak Muljoto Djoyomartono (Dirut Bank Exim).

Pak Mitro minta Pak Muljoto supaya saya datang ke Jakarta karena Pak Mitro mengirimkan pesan kepada saya. Ketika bertemu, bicara banyak masalah. Yang penting sekali dalam pertemuan tersebut adalah saya kutip lebih kurang “Saudara Amin saya senang anak saya berteman dengan kamu. Anak saya cerdas, suka baca buku dan punya konsistensi, tapi karena umurnya seringkali agak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan” Saya jawab siap pak, saya sudah saling bertemu beberapa kali.

Seminggu setelah itu saya dan Prabowo sowan ke Pak AH Nasution di kediaman beliau di Jalan Diponegoro. Paginya di koran ditulis AH Nasution mengatakan Amien-Prabowo pemimpin ideal Indonesia. Nah, bahkan saking dekatnya dengan Prabowo, saya pernah antar Prabowo ketemu Kolonel Khadafi sekitar 2002-2003. Saya juga pernah antar Prabowo bertemu menteri-menteri Rafsanjani di Teheran.

Dukungan saya ke Prabowo membuat banyak orang gusar, disangka saya menjual diri. Dulu melawan Orba kok sekarang bersahabat dengan Prabowo. Saya bisa memisahkan antara Orba dan bagaimana seorang Prabowo, seorang sahabat. Yang saya membuat jatuh hati pada Prabowo karena saya punya kesamaan, sama-sama bermimpi untuk kedaulatan ekonomi.

Setiap saya ketemu Prabowo, “Mas Amien bagaimana dengan pasal 33 yang sudah dimasukkan di lemari es, ini adalah ekonomi pasar, neolib”. Makanya Prabowo selalu mengatakan, “mas Amien cuma tolong Anda ketahui kalau saya berhasil menjadi Presiden tidak serampangan untuk melakukan negosiasi ulang tetap step by step dan tidak pernah ada kata nasionalisasi sama sekali, seperti yang diplesetkan orang. Prabowo bukan orang yang bodoh, dia orang pandai, dia juga disebut IQ paling tinggi.

Saya tahu siapa dia. Sekarang ini tidak henti-hentinya dianggap melanggar HAM. Bagi saya, Prabowo pernah menjadi cawapres resmi ibu mega, tapi sekarang diungkit lagi oleh kelompok yang dulu menjagokan Prabowo. Ini saya kira sudah politisasi.

Tapi apapun, saya ini punya pendirian dalam hidup ini, kalau saya dipuji insya allah tidak pernah besar kepala, tapi kalau dicaci dihujat tidak pernah kecil hati karena itulah manusia. Saya selalu ingat KH Ali Yafie, waktu era reformasi banyak yang tidak suka sama saya dengan kata-kata kasar dan ugal-ugalan. Tetapi bagi saya, anjing mengonggong kafilah tetap berlalu karena gongongan anjing tidak pernah menggigit. Apalagi KH Ali Yafie mengatakan nabi yang sempurna saja dituduh sakit ayan, gila apalagi kita-kita ini yang tidak ada apa-apanya dibanding nabi.

Prabowo selalu dengungkan ekonomi pro rakyat, tapi kemarin di hadapan pengurus Partai Demokrat secara tegas mendukung dan melanjutkan program SBY. Bagaimana dengan konsistensi Prabowo?

Saya kira seperti yang disampaikan Pak Hatta, continuity and change. Jadi saya kira yang diteruskan itu adalah memperbesar ekonomi nasional. Yang diteruskan adalah mengangkat daya beli masyarakat Indonesia, jadi kelompok 20, ini merupakan kekuatan kita, yang diubah tentu pola ekonomi pasar yang hanya membesarkan mereka di lapisan atas dan melupakan ada lapisan bawah. Jadi tidak sekadar melanjutkan tapi perubahan. Kalau perubahan mulai dari nol lagi bisa-bisa runtuh.

Jadi yang ideal kontinuitas dan perubahan. Tapi kalau semua diruntuhkan, waduh itu mudah. Jadi step by step. Perubahan step by step. Lima tahun saya kira bisa. Dalam bayangan Prabowo itu yang juga disorong partai pendukung, perbaikan secara konsisten harus bisa, dan semua memang harus diperbaiki seperti UU Penanaman Modal, UU Pertanian, UU Migas, hampir semua itu merugikan negara, pelan-pelan kita lihat prioritas. Begitu juga dalam pemberantasan korupsi yang gede-gede bidang perpajakan dan pertambangan.

Bagaimana dengan politisasi agama yang belakangan marak?

Agama itu sumber moral. Kalau politk tanpa moral itu kumpulan manusia srigala. Tapi kalau politik ada moral dan etika, itu berwajah manusia. Nah di atas hukum itu ada moral. Di atas moral itu agama. Moral atau akhlak, etika itu sumbernya agama. Kalau moral itu sandarannya pada Marxisme atau komunisme itu menghalalkan segala cara, itu bisa chaos, negara bisa menjadi kacau balau.

Agama difungsikan karena moral dari agama moral yang permanen. Yang dikatakan politisasi agama itu, agama diseret ke bawah dijadikan alat memukul, itu yang tidak boleh. Jadi untuk justifikasi sesuatu yang sesungguhnya konyol dicarikan dalil yang lepas dari konteks. Saya setuju agama tidak boleh dipolitisasi tapi saya sangat menentang bila moral agama dihilangkan alam politik.

Eskalasi politik yang dinamis apakah akan berakhir dengan pilpres yang damai?

Indoensia ini negeri ajaib. Dari Orba yang intinya masyarakat terpasung, tidak boleh ada kebebasan bicara, kebebasan pers dibredel, republik kerajaan. Tapi setelah reformasi yang damai itu kita menjadi negeri demokrasi terbesar ketika setelah India dan Amerika.

Memang hampir dikatakan 95% pilkada, pileg itu aman. Hanya 1-2, KPU dibakar. Tapi saya kira bangsa ini cukup dewasa untuk mengelola perbedaan, cukup toleran untuk membiarkan kelompok lain mengembangkan perspektif dan merebut hati rakyat dengan cara elegan.

Saya punya keyakinan, berbeda dengan banyak orang, banyak yang mengatakan karena capres hanya dua pertarungan akan sangat sengit nanti ada bahaya, pertarungan antarkampung antardesa itu berlebihan. Keajaiban Indonesia ini adalah menonjolkan harmonisasi, damai itu indah itu memang betul-betul ada. Kita alhamdulillah hanya ada sedikit goncangan dari Pak Harto ke Habibie tapi seterusnya biasa. Apalagi TNI Polri netral, jadi menjaga fairness, luber jurdil dari pilres, insya Allah yang menang tidak jumawa yang kalah tdiak protes karea memamng aturan main dilaksanakan.

Karena itu saya kadang-kadang terperanjat, ketika buka internet ada pihak yang mendramatisasi. Saya mencurigai yang ugal-ugalan itu justru dibuat oleh kelompoknya sendiri agar dapat simpati dari orang lain, tapi saya kira itu bunuh diri juga. Resepnya berhentilah membuat disinformasi, distorsi atau fitnah.

Apakah jika Prabowo menang akan melanjutkan agenda reformasi yang Anda gulirkan pada 1998 lalu?

Ada jaminan. Saya bicara dengan tokoh-tokoh pendukung koalisi mengatakan bahwa bedanya poros ini dengan koalisi sebelumnya itu dasarnya bukan pakta integritas, solidaritas maupun untuk mempertahankan kekuasaan. Tapi dasarnya apa yang ditulis dalam visi-misi. Itu taruhan Prabowo-Hatta.

Kalau Insya Allah Prabowo menang, dan mereka bergeser dari visi misi itu, seperti akan buka kran buka ekonomi neolib maka akan serta merta rakyat mengatakan mereka telah ngibulin rakyat dan oposisi betul-betul memanfaatkan posisi yang tidak benar. Saya optimis, ikatan saat ini adalah ide, program, kebersamaan untuk membawa negeri ini lebih bagus berdasarkan buku visi misi.

Tapi ada yang mengatakan itu idealisme, justru idealisme itu bintang pembimbing di lapangan. Saya tidak ingin melihat seperti koalisi yang dulu itu, karena tidak ada penyamaan visi misi. Hanya berkumpul karena membangun kekuatan politik, maka terjadi hal-hal yang menggelikan. Seperti ada sebagian koalisi ingin menaikkan BBM ada anggota koalisi lainnya yang menolak kenaikan harga BBM. Ada yang melindungi kasus Bank Century supaya tetap tertutup ada juga yang membuka.

Ini tidak terjadi lagi nanti. Jadi yang membundel program dan komitmen, kebersamaan dalam menjalankan yang telah disepakati, tidak sekadar hitung-hitungan, berpura-pura membela rakyat, sehingga yang terjadi koalisi konyol-konyolan. Kita harus belajar dari masa lalu.

Bagaimana dengan kekhawatiran yang dihembuskan bila Prabowo menjadi presiden maka kita akan dibawa pada alam otoriter?

Itu sudah tidak mungkin lagi. Andaikata prabowo tiba-tiba bersikap otoriter, tidak ada jendela dan pintu. Dwifungsi ABRI telah menjadi bagian dari masa lalu, kita sudah masuk pada demokrasi yang matang dimana Menteri Petahanan dari kalangan sipil. Jadi sesungguhnya saat ini sudah berubah dibanding masa lalu itu. Dulu Gubernur, Bupati dan Walikota dari TNI, Komisaris dan Direktur BUMN dari TNI, serta 1/5 kursi DPR gratisan dari DPR pusat sampai DPRD tingkat II. Fenomena dimana sipil tersubordinasi di bawah militer menggejala. Sekarang berubah sangat radikal. Jadi membayangkan prabowo akan otoriter itu halunisasi. [mdr – inilah.com]