Opini

Antara Dua Masa, Prabowo Subianto dan Romo Mangun

By  | 

Romo Mangun : “Kita Lebih Bodoh dari Generasi Soekarno-Hatta”
Prabowo Subianto : “Bangsa Kita Kadang Naif dan Goblok”

Sangat jarang terjadi, seorang tokoh, apakah mereka pemimpin ataupun negarawan yang secara terbuka menyindir bangsanya sendiri. Sekitar 30 tahun silam, Yusuf Bilyarta Mangunwijaya (1929-1999) atau yang dikenal Romo Mangun menyindir bangsa Indonesia dalam bukunya berjudul, “Kita Lebih Bodoh Dari Generasi Soekarno-Hatta”. Kala itu, Romo Mangun menyindir hasil transisi ORDE BARU yang disebutkannya tidak lebih cerdas, bahkan lebih bodoh dari generasi Soekarno-Hatta.

Tanggal 27 Mei 2014, bertepatan dengan acara “Konsolidasi Nasional Pemenangan Pilpres 2014”, Calon Presiden (Capres) Prabowo Subianto secara gamblang dan penuh emosional melontarkan kritiknya terhadap mental orang Indonesia yang dianggap terlalu ramah, naif, dan lugu. Lalu disebutkan, “Lugu” tidak lain singkatan dari “Lucu dan Goblok” (Republika.Co.Id, Selasa, 27 Mei 2014, 20:19 WIB).

Dua masa yang berbeda, dua tantangan dan permasalahan yang berbeda pula. Tetapi toh tidak menggeser sedikit pun kualitas mental maupun paradigma berpikir bangsa Indonesia. Romo Mangun menggunakan perspektif berpikir pada era Soekarno dan transisinya hingga masa kematangan di era ORDE BARU yang dipimpin oleh Soeharto. Sementara itu, Prabowo Subianto mengambil perspektif masa demokrasi multi partai atau yang disebut masa reformasi. Keduanya, antara Romo Mangun dan Prabowo Subianto, sama-sama mengambil perspektif dengan pendekatan kritik terhadap cara berpikir (mindset) bangsa Indonesia.

Romo Mangun tidak secara eksplisit mengkritik kepemimpinan Soekarno, melainkan dengan menggunakan penyebutan “Generasi Soekarno-Hatta”. Faktanya memang demikian, demokrasi liberal multi partai di masa Soekarno sempat membuat kekacauan besar hingga membuat Indonesia sulit berdiri setelah merdeka. Cita-cita menjadi bangsa yang besar beberapa kali mesti terganggu oleh gagasan-gagasan naif tentang “Negara”, sehingga energi bangsa habis hanya untuk tarik-menarik kepentingan tertentu.

Cita-cita menjadi bangsa yang besar harus tertunda, lalu Soekarno berujar “Revolusi Belum Usai”. Era Orde Baru yang dipimpin oleh Soeharto nampaknya belum pula bisa mewujudkan cita-cita untuk menjadi bangsa yang besar. Paradigma berpikirnya selalu menghabiskan energi hanya untuk sentralisasi kekuasaan. Fondasi negara yang sudah dibangun dan diberikan oleh generasi Soekarno malah menjadi mati suri. Indonesia hanya menjadi bangsa konsumtif di tengah fenomena tingginya angka pertumbuhan ekonomi.

Pernyataan Prabowo di atas bukan saya dapatkan dari kubu pendukung capres Prabowo-Hatta, melainkan justru saya ketahui dari kubu pendukung Joko Widodo-Jusuf Kalla. Sayangnya, kubu pendukung Joko Widodo-Jusuf Kalla memberikan apresiasi negatif. Ini yang membuat saya tertarik untuk membaca tautan berita. Kemudian saya begitu terkejut, karena perspektif yang diutarakan oleh Prabowo Subianto mirip dengan perspektif yang sebelumnya diutarakan oleh Romo Mangun.

Prabowo mengutarakan, bahwa bangsa Indonesia seharusnya bisa menjadi bangsa yang sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Bangsa yang mandiri dan berdikari, bukan menjadi bangsa pasar bagi negara-negara maju. Pada prinsipnya, kemandirian bukan sekedar soal konsep kebijakan, melainkan mental dan cara berpikir suatu bangsa. Perhatikanlah mereka seperti Korea Selatan, Jepang, ataupun Taiwan, fenomena negara yang minus sumber daya alam, tetapi mampu mensejajarkan dirinya dengan bangsa-bangsa yang lebih dulu maju perekonomiannya.

Apakah masih mengelak disebut bangsa yang goblok?

Tahun 2007, akibat dari krisis global di Amerika Serikat membuat harga sejumlah barang primer meningkat cukup drastis. Terutama harga BBM yang menyebabkan masyarakat Amerika harus menunda sejumlah konsumsi dan kegiatannya yang menggantungkan dengan BBM. Kontradiksi dengan bangsa Indonesia di tahun 2007. Ketika itu, harga BBM dinaikkan lebih dari 100%, tetapi masa penyesuaiannya hanya sekitar 3 bulan, kemudian permintaan kendaraan bermotor secara perlahan meningkat cukup meyakinkan. Naiknya harga BBM itu pun tidak menggeser perilaku konsumtif bangsa Indonesia.

Masih ingat ketika Telkomsel mengeluarkan paket bundling iPhone? Orang Indonesia tahu, harga iPhone di dalam negeri sudah didongkrak cukup tinggi, tetapi peminatnya membanjir seperti antrian sembako. Sudah tahu harga daging sapi direkayasa oleh mafia impor, toh tidak sedikit pun mengurangi minat dan kebiasaan konsumsi akan daging sapi. Alhasil, permintaan daging sapi dengan harga di atas Rp 80.000/kg terus meningkat tajam menjelang lebaran. Masyarakat yang bodoh, selalu berpikir tidak logis, tidak realistis. Ilustrasi di atas hanyalah gambaran sederhana cara berpikir yang ditemukan dalam sehari-hari.

Prabowo bukanlah tokoh yang pertama kali di era reformasi yang mengkritik bangsanya sendiri. Sebelumnya, Ketua DPR RI, Marzuki Alie pernah berujar dengan kritik pedas, “Orang Miskin Karena Malas Kerja” (Inilah.Com, 8 Juli 2012). Tetapi pernyataan Marzuki diutrakan bukan pada konteks kebangsaan, melainkan dalam aspek sempit mengenai perilaku sosial di masyarakat pada umumnya.

Leo Kusuma,
Yogyakarta, 30 Mei 2014, 04.15 WIB

Mari Kita Budayakan Kampanye Positif