Visi Prabowo

Bangsa Indonesia Tidak Boleh Numpang Di Kampung Sendiri

By  | 

Jakarta – Bakal calon presiden dari Partai Gerindra, Prabowo Subianto, berpendapat, kedaulatan ekonomi Indonesia pasca reformasi meleset dari harapan dan perkiraan. Sistem ekonomi saat ini, menurut dia, tidak membawa kemajuan dan kesejahteraan rakyat.

“Seolah-olah kita jadi tamu di negara kita sendiri, seolah-olah kita jadi penumpang di kampung kita sendiri. Seolah-olah kita harus hormat, tunduk, dan minta izin kepada mereka-mereka yang justru mencuri,” kata Prabowo di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Kamis (30/5/2013).

Prabowo berbicara dalam acara bedah buku karyanya yang berjudul Masa Depan Indonesia, Bunga Rampai Tantangan Bangsa, yang digelar Asosiasi Dosen Indonesia dan Institute Madani Nusantara. Hadir ratusan orang dari kalangan akademisi.

Prabowo mengatakan, Indonesia sudah menganut sistem ekonomi kapitalisme tidak terkendali. Peran pemerintah dalam kegiatan ekonomi terus dikurangi dan diserahkan ke pasar dan sayangnya peran yang semakin sedikit itu dianggap lebih baik.

Dalam pidatonya, Prabowo memaparkan data-data ekonomi yang dianggap adanya ketimpangan ekonomi. Contohnya, data gini ratio Indonesia di tahun 2012 yang sudah diangka 0,41.

“Satu persen dari populasi Indonesia menguasai 41 persen kekayaan,” kata Prabowo.

Ia juga mengkritik peredaran uang di Indonesia yang sekitar 60 persennya beredar di Jakarta. Sebanyak 30 persen beredar di kota-kota besar dan hanya 10 persen di desa. Padahal, kata dia, 50 persen rakyat Indonesia tinggal di desa.

Kritik lain yang ia sampaikan adalah kecilnya alokasi anggaran untuk sektor pertanian. Ia memberi contoh, dari sekitar Rp 1.200 triliun di APBN 2012, pemerintah hanya mengalokasikan Rp 34 triliun atau 3 persen untuk sektor pertanian. Padahal, 60 persen penduduk Indonesia hidup dari pertanian. (Kompas)

Comments are closed.