Debat Capres

Catatan Debat : Mencari Presiden, bukan Kepala Daerah

By  | 

Menghabiskan uang belanja itu mudah, mencari uang itu susah. Banyak pemimpin yg lihai menghabiskan anggaran. Tapi tak banyak pemimpin yang mampu dan mau berpikir keras bagaimana menambah pendapatan dan menambal kebocoran negara secara cepat dan dalam jumlah yang besar.

Banyak sahabat baikku yg terjebak pada persoalan mikro. Menutup mata dari isu kebangsaan yang besar dan strategis. Padahal kita tahu, kepentingan asing di tanah air adalah menguasai SDA. Mereka datang tidak tertarik untuk menguasai SDM kita, kecuali utk sweat shop (belanja keringat upah murah). Bukan berarti SDM tak penting, tapi jangan logikanya terbalik-balik oleh fanatisme. Shg menafikan bangsa ini yang sudah lama menjerit krn kehilangan kekayaan SDA-nya yg luar biasa besar.

Menonjolkan isu mikro seperti singkatan TPID, boleh jd bukan karakter negarawan. Instead of cerdas, saya khawatir publik menilainya ada niat jebakan, karena TPID tidak disebutkan secara lengkap. Terlebih jawaban koordinasi inflasi sudah diberikan secara memadai.

Disisi lain, Prabowo Subianto memberikan clue yang memudahkan rivalnya menjawab pertanyaannya. Kelemahan rivalnya yang luput memahami OJK (bukan lagi BI) yang berwenang atas pembukaan KC bank, juga tidak dipersoalkan. Mungkin demi menjaga kehormatan negara atas salah satu capresnya.

Juga isu angka kebocoran fantastis yang mengutip angka Ketua KPK, terus digiring media guna menenggelamkan isu penting: visi seorang pemimpin thd implementasi pasal 33, amanat UUD 45.

Mudah-mudahan, mata bathin kita akhirnya bisa melihat. Bahwa, pemimpin yang ikhlas tak perlu malu bertanya, memastikan maksud satu singkatan. Menandakan karakter pribadinya yang terbuka, rendah hati dan tidak sok tahu.

Marilah terus kita belajar bersama, melihat substansi dari debat. Melihat kapasitas pemimpin memaparkan visinya, keluasan wawasan pengetahuan dan kecerdasan emosinya. Agar kita dapatkan pemimpin terpantas buat bangsa yang besar ini.

(# bukalah mata hati. Janganlah terus mau tersihir oleh penggiringan opini palsu dari media-media mainstream, yang bertentangan dgn kepentingan bangsa mendapatkan pemimpin sejati).

Prayudhi Azwar
Romantic City, Perth, 16 Juni 2014.