Debat Capres

Catatan Debat : Prabowo Tidak Suka Menjatuhkan Orang

By  | 

Karakter Prabowo Subianto yang sebenarnya nampak dalam Debat Capres Cawapres perdana semalam (9/6) di Balai Sarbini, Jakarta, Prabowo tidak suka menjatuhkan orang, meskipun dia dalam keadaan “terpojok” sekalipun. Seperti kita lihat pada debat tersebut, yang awalnya hanya debat capres untuk yang perdana ini, tapi entah mengapa pihak Koalisi Sebelah meminta debat diadakan untuk pasangan capres dan cawapres. Debat dengan tema ‘Pembangunan Demokrasi, Pemerintahan Bersih dan Kepastian Hukum‘ ini diawali dengan penyampaian visi misi singkat, Prabowo seperti biasanya mengusung gagasan konseptual dan visi kedepan, antara lain mengenai demokrasi haruslah produktif dan tidak destruktif, demokrasi adalah alat untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat, sementara jokowi mengedepankan blusukannya sebagai bukti pernyataan bahwa demokrasi adalah mendengarkan suara rakyat dengan berdialog.

Secara umum penyampaian visi misi prabowo seperti biasanya konseptual dan visioner berdasarkan kejadian-kejadian lapangan, sedang jokowi-jk lebih ke penonjolan pengalaman-pengalaman pemerintahannya. Namun Perhatian Publik lebih banyak kepada bagaimana pada sesi pertanyaan antara peserta debat cawapres Jusuf Kalla memberikan pertanyaan tentang penyelesaian HAM atas kasus Mei 1998, Pertanyaan itu jelas menohok kepada Prabowo, karena peristiwa mei 1998 telah menjadi stigma melekat pada mantan Pangkostrad dan Danjen Kopassus ini.

Reaksi Prabowo Atas Pertanyaan Penyelesaian Kasus Pelanggaran HAM

Apa reaksi Prabowo dengan pertanyaan tersebut, apakah dia berbalik memojokkan Jokowi-JK, apakah dia memasang muka sinis dan agresif menyerang lawan debatnya? apakah tatapan matanya nanar menyulutkan ekspresi kemarahan? Tidak.., Inilah karakter sebenarnya Prabowo yang sudah didera bertahun-tahun dengan stigma HAM, yang telah menyudutkan dirinya secara politik dan telah memutus karir gemilangnya di TNI. Di luar dugaan banyak orang Prabowo justru tersenyum dengan tatapan mata sayu, dan Dia dengan ikhlas menyadari bahwa inilah yang harus dihadapi, dan sudah disadari sebelumnya bahwa dia pasti akan menghadapi “serangan” tersebut, tetapi bukan dengan  menyerang balik atau bahkan ngumpet dengan menyalahkan pihak lain.

Jawabannya lugas bahwa Hak asasi manusia yang paling mendasar adalah hak untuk hidup, UUD 1945  menyatakan bahwa tugas negara adalah untuk melindungi segenap tumpah darah bangsa Indonesia dari segala ancaman. Baik itu dari ancaman dalam negeri atau pun luar negeri. Dia menambahkan pengabdiannya kepada Negara sebagai prajurit, adalah sebagai alat negara untuk menjamin kemerdekaan dan kedaulatan, serta hak asasi manusia di segala lapisan. Manakala ada rongrongan baik itu dari dalam dan dari luar yang menggunakan cara-cara kekerasan, maka dia harus siap ditugaskan bahkan ditempat-tempat yang susah untuk mengambil tindakan menyelamatkan rakyat yang tidak bersalah. Bahkan dibagian akhir jawaban pertanyaan Jusuf Kalla Prabowo memberikan penegasan ““Jadi Pak Jusuf Kalla, saya bertanggung jawab dan hati nurani saya bersih, saya pembela HAM yang paling keras di Republik Indonesia ini,”. 

Prabowo Juga tidak membanggakan diri, keberhasilan operasi mapenduma, atau bagaimana dia harus mengorbankan kebahagiannya sebagai pengantin baru, untuk bertugas di timor-timur, ini jelas bukan blusukan yang cuma dalam hitungan menit, dan blusukan prabowo ini, dengan tingkat hambatan yang lebih kejam berupa nyamuk-nyamuk ganas, dan binatang buas.

Prabowo pun tidak menyerang Jusuf Kalla dengan Pertanyaan balik, Bagaimana Pak Jusuf Kalla bisa menanyakan kepada saya sekarang, mengenai dugaan pelanggaran HAM kepada saya, sementara Pak Jusuf Kalla pernah jadi Wakil Presiden, bukankan anda bisa menyelesaikan kasus tersebut waktu itu?.

Banyak skenario jika Prabowo berniat agresif sedari awal, bahkan ketika diberikan kesempatan pertama untuk menanyakan kepada lawan debat, dia tetap mengedepankan penajaman visi dan misi, yang ditanyakan adalah mengenai kriteria pemekaran dan alasan dilakukan pemekaran.

Bukankah dia bisa “mematikan” dinamika jokowi dengan menyerang sinis, “Saya pikir Pemerintahan Bersih yang pak Jokowi usung ini hanya sekedar wacana, Bagaimana anda bisa membicarakan pengalaman anda dalam menyusun pemerintahan bersih, sementara dalam 1,5 tahun anda jadi Gubernur DKI, anak buah saudara (Udar Pristono) sudah terkena indikasi Korupsi Bus Trans Jakarta?”.

Atau Pertanyaan diajukan ke Jusuf Kalla, mengenai Pengalaman dia memimpin, apakah dia bisa menjamin pemerintahan yang bersih jika Pada saat dia jadi Wakil Presiden, terjadi bail out Bank Century yang hingga sekarang kasusnya berlarut-larut? atau bahkan isu-isu KKN yang selama ini santer di media?

Inilah Prabowo sebenarnya yang memegang teguh komitmen awal, Jika Debat Capres cawapres ini tujuannya adalah penajaman visi misi dan penguasaan konsep, seorang pemimpin, maka tidak ada setitik noktah pun dipikirannya untuk menyerang dan menjatuhkan lawan baik secara pribadi maupun secara rekam jejak jabatan. Karena ini akan kontra produktif dan justru membuat rakyat akan semakin jengah.

Tim Sukses Prabowo Pastilah punya daftar-daftar panjang mengenai catatan-catatan Jokowi dan Jusuf Kalla jika mau digunakan sebagai amunisi serangan. Prabowo memilih jalan lain dengan berdebat secara elegan dengan fokus pada visi misi kalaulah ada “serangan” Prabowo pastilah tidak jauh dari serangan gagasan. Karena pada intinya debat ini adalah media rakyat untuk melihat pemimpinnya adu gagasan bukan menjatuhkan satu dengan lainnya.

Pasangan Jokowi-JK bicara soal istri

Pada bagian akhir debat ada hal yang menurut saya diluar konteks debat walaupun itu sangat baik tujuannya. Capres Jokowi bicara soal istri, dimana pada kesempatan closing statement, Prabowo mengemasnya dengan lugas dan apik, Jokowi menutupnya dengan diawali uraian singkat seperti layaknya pidato kemenangan dengan mengucapkan terima kasih kepada Ibu, dan terima kasih kepada istri dan anak-anak masing-masing pasangan tersebut, dengan diikuti berdirinya Iriana Jokowi dan Mufidah Jusuf Kalla.  Kalau pun tidak diungkapkan sebagai sindiran, walau pasangan Jokowi-JK, sudah sering mengungkapkan sindiran soal istri ini di kesempatan sebelumnya, maka ini diluar konteks debat,  pada akhirnya pernyataan ini lebih cocok diucapkan jika dia sudah terpilih nantinya.

Prabowo Ikhlas dan tak Bergeming

Kita sebagai rakyat yang memiliki hati nurani dan akal sehat pastilah bisa menangkap gejala bagaimana sekelompok Jenderal Purnawirawan berbondong-bondong ke kubu sebelah, dan mengeroyoknya dengan isu-isu lama. Prabowo Subianto adalah Prajurit yang dipecat tidak pantas memimpin negara, Prabowo gila dan psikopat, Prabowo adalah monster, Prabowo menggerakkan babinsa untuk memilih dirinya dan akan menghidupkan kembali dwi fungsi ABRI. Ini adalah permainan usang, sebagaimana kita dengan jelas melihat bahwa Kasus Mei 1998 seperti dipelihara untuk mengaburkan Tanggung Jawab Institusi TNI dan membebankan kepada dirinya seorang.

Dan ketika seorang wartawan menanyakan tentang isu hasil test pra kesehatan perwira (prakeswa) yang dilontarkan hendropriyono, bahwa prabowo dinyatakan gila dan psikopat, Prabowo pun ikhlas dan tak bergeming, dia menjawab “saya tidak tahu. ini soal apa ya?”, tanpa berlanjut untuk mengklarifikasi ataupun menyerang Hendropriyono.

Prabowo dengan keyakinannya. dengan tanpa maksud melemparkan tanggung jawab kepada pihak lain, dan selalu berprinsip bahwa di dalam dirinya adalah Patriot yang cinta tanah air,  dan selalu berujar dengan pepatah jawa “Becik Ketitik Olo Ketoro”. Selamat Berjuang Jendral, semoga Rakyat Indonesia akan memahami niat baik dan tulusmu dan akan  mempercayakan amanahnya kepadamu. Karena pada akhirnya masyarakatlah yang akan memberikan penilaian. (aw)