Seputar Prabowo

Catatan Prabowo : Saya dan Olah raga

By  | 

Salam perjuangan Indonesia Raya,

Para sahabat yang saya banggakan, Pada hari libur ini saya ingin akan berbagi kepada para sahabat sesama anak bangsa, mengapa saya gemar berolahraga – pada khususnya olahraga polo berkuda.

Sejarah Polo Berkuda Dunia

Olahraga polo berkuda adalah salah satu olahraga beregu yang paling tua di dunia. Polo berkuda pertama kali dimainkan oleh kaum pejuang Normadic didaerah Persia (sekarang Iran) pada abad ke 6 sebelum Masehi. Untuk pertama kalinya dimainkan oleh pasukan kavaleri berkuda tanpa batasan jumlah pemain, kadang-kadang dilakukan sampai 100 orang Prajurit per timnya. Pada saat itu polo masih merupakan “miniatur perang”, dimana yang diperebutkan adalah kepala kambing dengan tujuan untuk melatih para prajurit Persia agar lebih trampil, berani, percaya diri, kompak dalam satu kesatuan utuh, disiplin dalam melaksanakan taktik maupun strategi, pantang menyerah sampai akhir didalam menghadapi musuh-musuh nya yang juga juga menggunakan kuda sebagai “alat perang” dan ajang diujinya jiwa kepemimpinan para Komandan di lapangan. Sebagai miniatur perang, polo berkuda dimainkan sejak jaman Konstatinopel hingga jaman samurai di Jepang di abad ke 6 sebelum Masehi.

Pertandingan polo berkuda pertama dalam sejarah terjadi sekitar tahun 600 SM. Pada saat itu, Kerajaan Turkoman mengalahkan Kerajaan Persia dalam pertandingan yang disaksikan oleh publik. Kemudian Persia dan Mogul menaklukan India dan dimulailah penyebaran olahraga Polo di Dunia Timur, dan Kaisar Cantaccuzenus (penguasa Byzantium 1341-1347), merupakan salah satu korban pertama dan meninggal yang tercatat dalam sejarah perkembangan olahraga ini.

Perkembangan olahraga Polo Moderen

Kata “polo” berasal dari bahasa Tibet “pulu” yang berarti “bola”. Pada abad ke 18 para perwira kavaleri Inggris memperkenalkan permainan polo berkuda di daratan Inggris Raya dan secara resmi dipopulerkan di Inggris mencontoh permainan polo berkuda yang dilakukan penduduk Manipur di India. Seorang Irlandia bernama Captain John Watson dari British Cavalry 13 th Hussars adalah orang yang pertama membukukan peraturan permainan polo berkuda pada tahun 1874. Bisa dikatakan, polo termasuk olahraga dengan peraturan yang sangat ketat.

Mengapa olahraga Polo adalah salah satu olahraga yang peraturan nya sangat ketat ? Karena olahraga ini termasuk dalam katagori olahraga “risiko tinggi”. Kecelakaan ringan sampai berat kerap terjadi, baik yang menimpa penunggang nya maupun kudanya.

Olahraga polo berkuda dimainkan di lapangan terbuka dengan ukuran 300m x 140m. Setiap tim terdiri 4 empat pemain (dan kuda yang ditungganginya). Setiap game berlangsung 7 (tujuh) menit atau disebut 1 chukkas ( asal kata chukka bahasa Hindi yang artinya lingkaran/roda).

Seperti permainan beregu lainnya, olahraga polo berkuda dimainkan oleh 2 tim. Tim yang menang adalah tim yang memasukan bola kayu warna putih seukuran bola tenis kegawang lawan. Pemain memukul bola ini dari atas kuda menggunakan mallet dengan panjang 50 sampai 54 inci.

Pada umumnya, permainan polo berkuda dimainkan selama 4, 6 atau 8 chukkas. Pada akhir setiap chukka, para pemain perlu mengganti kuda yang ditungganginya. Ini berarti, dalam sebuah permainan polo yang dimainkan sepanjang 4 chukka, dibutuhkan 4 kuda untuk masing-masing pemain per chukka dikali empat pemain dan dikali empat chukka. Ini belum termasuk kuda untuk wasit dan kuda cadangan. Alhasil, sebuah permainan polo berkuda pada umumnya membutuhkan 50 – 60 kuda.

Di Nusantara Polo Club (Jagorawi), saya memiliki dua jenis kuda polo. Kuda-kuda yang digunakan bermain polo adalah kuda kelas medium goal dan ini hanya bisa ditunggangi oleh para atlet nasional polo berkuda yang dipersiapkan menuju Sea Games XXV/2009. Jenis kuda kedua yang saya miliki adalah jenis kuda untuk pemula. Kuda-kuda ini pada umumnya lebih jinak, kalem dan tidak agresif. Siapapun dapat belajar berkuda dengan mudah.

Olahraga Polo di Indonesia

timnas-polo-berkuda-indonesia-di-SEA-GAMES-2007-Thailand

Pada abad 18 di Indonesia berdiri perkumpulan polo berkuda yang didirikan oleh orang Belanda di Indonesia bernama “Batavia Polo Club”. Klub ini berpusat di lapangan Banteng (sekarang). Pada tahun 1992, adik saya Hashim Djojohadikusumo bersama teman-teman nya mendirikan perkumpulan polo dan equestrian yang bernama “Jakarta Polo and Equestrian Club” yang berpusat di Sentul Selatan. Pada tahun 1998 perkumpulan tersebut bubar.

Saya sendiri baru mengenal olahraga berkuda, dan polo berkuda, pada tahun 2000. Saat itu saya berusia 49 tahun.

Saya menekuni olahraga ini agar para kaum muda di Indonesia tertarik memilih olahraga Polo sebagai olahraga kegemaran nya sekaligus menjadi pilihan nya. Akhirnya pada tahun 2005 sudah mulai terbentuk atlet polo yang terdiri dari segala lapisan masyarakat seperti mahasiswa, perawat kuda dsb. Dan ditahun tersebut diputuskan untuk pertama kalinya olahraga polo akan dipertandingkan di Sea Games XXIV/2007 di Bangkok-Thailand.

Saya ditugaskan oleh Indonesia Polo Association / Komisi Polo Indonesia PP PORDASI, untuk mempersiapkan tim nasional polo berkuda yang akan bertanding di Sea Games XXIV. Tentu saja tugas ini saya laksanakan dengan penuh kesungguhan karena keikut sertaan Indonesia di olahraga polo berkuda SG XXIV/2007 bukan semata-mata merupakan partisipasi saja.

Ini merupakan tanggung jawab yang mempertaruhkan kehormatan, harga diri bangsa, kewibawaan bangsa dan bagaimana rasanya kalau sampai Indonesia tidak ikut pertandingan hanya karena tidak punya atlet dan kuda polo.

Pada bulan Februari 2007 saya kirimkan para calon atlet tim nasional polo berkuda Indonesia ke Argentina, tepatnya kota Del Monte. Di kota ini terletak San Miguel Polo Club dan Las Aguilas Polo Club, yang sering disebut sebagai salah satu sekolah polo berkuda terbaik di dunia.

Tentu saja para atlet kita juga harus disiapkan kuda-kuda polo kelas “medium goal” sesuai dengan tingkat kemampuan atlet kita. Dan kita siapkan 40- 60 kuda untuk persiapan SEA Games XXIV/2007. Latihan keras dijalani oleh para atlet sampai dengan Nopember 2007 atau selama 9 (sembilan) bulan. Pada saat SEA Games kita memang belum berhasil menuai prestasi karena memang kita baru mengenal Polo selama 2 tahun, sedangkan negara tetangga sudah seratus tahun sejak menjadi Negara Persemakmuran. Semua biaya pemusatan latihan, penyiapan kuda dan sebagainya ditanggung oleh Nusantara Polo Club yang diketuai saya sendiri, tanpa menjadi beban KONI Pusat atau Negara.

Pada bulan Februari 2008, kuda-kuda Sea Games dibawa ke Indonesia dan dipusatkan di Nusantara Polo Club, sebagai Pusat Pembinaan Polo Berkuda di Indonesia dan berada di bawah naungan Komisi Polo Indonesia PP Pordasi. Tugas kedepan adalah menyiapkan tim Polo untuk South East Asian Polo Games pada bulan Agustus 2009 di Kelantan Malaysia.

Manfaat bagi masyarakat sekitar kawasan seluas 13 ha ini antara lain, selain menciptakan lapangan pekerjaan juga dari kotoran kuda bercampur serbuk organik ini, menghasilkan 15 ton pupuk organik per bulan dibagikan kepada para petani padi organik disekitar kawasan Polo Club. Sedangkan kuda-kuda di Hambalang itu adalah kuda jenis Art Dressage, tidak semata-mata olahraga berkuda tapi sudah bagian dari Keseniaan tingkat tinggi.

Intinya kenapa saya menyenangi olahraga polo berkuda ? Karena sebenarnya tantangan dari olahraga ini adalah mengkombinasikan kemampuan atletik dengan berkuda dalam satu kesatuan. Artinya kita harus mempunyai jiwa “horsemanships” ( menyayangi kudanya). Satu-satunya olahraga yang menggunakan mahluk hidup lain adalah olahraga berkuda, yang tentu saja tidak bisa dipisah-pisahkan antara penunggang dan yang ditungganginya. Sekali lagi mereka merupakan satu kesatuan utuh ! Didalam permainan nya sendiri tidak hanya membutuhkan stamina prima, akan tetapi juga harus mempunyai keberanian, disiplin, kekompakan, kemampuan berkuda tinggi dan tanggung jawab sebagai bagian dari satu tim serta menumbuhkan jiwa kepemimpinan . Peraturan ketat diterapkan karena olahraga ini juga merupakan olahraga risiko tinggi, baik bagi penunggang maupun bagi kudanya.

Olah Raga Terjun Payung

Olahraga lain yang saya gemari adalah olahraga terjun payung, khususnya pada katagori free fall atau ‘skydiving’. Pada tahun 1980 pada saat latihan terjun bebas militer, saya juga mendalami dan menyenangi olahraga terjun payung.

Mengapa saya menggeluti olahraga ini ? Karena di olahraga yang satu ini saya merasakan tantangan dimana karakter-karakter yang menjiwai antara lain kecepatan bertindak, kerjasama, harus mampu mengukur kekuatan kita sendiri kapan harus terjun kapan istirahat dengan kata lain kita tidak memaksakan diri kita hanya untuk terjun, mempunyai perhitungan yang tepat seperti dimana, kapan dan bagaimana keluar pesawat serta dimana kita mendarat, tanggung jawab dan disiplin tanpa melupakan kegembiraan. Semua ini menjadi penting karena walau langit dan angkasa begitu luas, tapi kita tidak mentolerir kesalahan sekecil apapun karena akan berakibat fatal.

Saya juga senang olahraga rugby, dimana di kesatuan saya dulu rugby menjadi pilihan selain sepak bola, panjat tebing, silat, karate, merpati putih dan judo dsb. Karena seperti yang saya sampaikan olahraga tidak semata-mata menjaga kebugaran/ stamina, tapi ada yang lebih penting dari itu yaitu mampu membangun manusia Indonesia berjati diri dengan dilandasi idealisme, nasionalisme dan patriotisme. Semua ini menjadi bagian dari diri saya yang tidak bisa dipisah-pisahkan.

Demikian sekilas tentang beberapa cabang olah raga yang saya geluti. Hidup dan olah raga merupakan “pasangan” yang tidak mungkin kita kesampingkan dalam kehidupan ini. Hal ini identik dengan siang dan malam. Mentari dan rembulan. Saya percaya, seluruh anak bangsa tentu akan memiliki kesukaan masing-masing dalam memilih cabang olah raga yang diminati nya.

Harapan saya, semoga pengalaman kecil ini akan mampu mengajak segenap anak bangsa untuk semakin menggairahkan lagi kehidupan olahraga di tanah air.

Salam,

Prabowo Subianto