Seputar Prabowo

Kedisiplinan dan Nasionalisme di Masa Kecil Prabowo

By  | 

Mengintip kehidupan masa kecil, orangtua Anda adalah seorang ahli ekonomi terkenal dan terpandang, berarti Anda hidup di keluarga yang nggak pernah susah ya?

Kesadaran pertama saya sebagai anak kecil adalah saya dibesarkan orangtua saya dalam suasana yang baru merdeka. Latar belakang keluarga saya adalah keluarga republikan, keluarga yang pro Republik Indonesia, karena saat itu banyak keluarga yang tidak pro dengan Republik Indonesia yang mendukung Belanda dan mendukung negara federal. Jadi suasana keluarga saya adalah sangat nasionalis.

Saat kecil Anda tinggal di mana?

Saya tinggal di Jl. Sisingamangaraja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Saat itu Jakarta masih sangat indah dan jalanan tidak macet. Ayah saya Sumitro Djojohadikusumo saat itu sudah menjadi Guru Besar di Fakultas Ekonomi UI dan menjadi Dekan Fakultas Ekonomi UI di Salemba.

Apa yang paling Anda ingat saat kecil?

Sejak kecil saya sering diajak ke Taman Makam Pahlawan Tangerang, di situ dikebumikan kedua paman saya yang gugur dalam perang mengusir penjajah dalam merebut kemerdakaan. Kedua paman saya, Subianto dan Suryono gugur di hari yang sama pada tanggal 26 Januari 1946, yang dikenal dengan peristiwa Daan Mogot yang dipimpin oleh Mayor Daan Mogot. Itu adalah kesadaran saya yang pertama.
Dalam peristiwa itu, Daan Mogot yang sudah menjadi Direktur Akademi Militer Tangerang, dengan kandep paman saya Suryono, serta kakaknya Subianto yang sudah menjadi TRI (Tentara Republik Indonesia), menyerang kamp Jepang ntuk merebut senjata. Dalam peristiwa tersebut yang gugur sebanyak 30 orang, termasuk kedua paman saya.

Siapa yang saat itu cukup berpengaruh dalam hidup Anda?

Masa kecil saya banyak dipengaruhi oleh kakek saya, Margono Djojohadikusumo, seorang pejuang perintis kemerdekaan. Bahkan nama tengah saya ditambahkan nama paman saya yang gugur Subianto, sementara nama tengah adik saya Hashim ditambahkan nama paman saya yang gugur juga Suryono. Dengan pemberian nama tersebut kakek saya ingin saya dan adik saya seolah-olah menggantikan cita-cita putranya yang gugur.

Jadi di keluarga Anda selalu diajarkan nasionalisme ya?

Iya, jadi suasana dalam keluarga adalah selalu diamanatkan untuk mendengar cita-cita kepahlawanan dan ksatria.

Kisah apa yang biasanya diceritakan?

Karena kakek saya orang Jawa tulen, maka yang paling disukainya adalah wayang, seperti cerita-cerita Mahabharata. Setiap kali saya main ke rumah kakek saya, saya selalu disambut dengan lagu-lagu pewayangan dan kakek saya selalu menjuluki saya Gatot Kaca.

Selain itu, apa ada hal-hal lain yang cukup membekas di masa kecil Anda?

Pada tahun 1957/1958 terjadi pergolakan ideologis, saat itu PKI kuat dan pertentangan sudah mulai ada yaitu apakah ke kiri dengan komunisme atau ke arah kanan dengan agama atau Pancasila. Ayah saya sebagai pihak yang tidak setuju dengan komunis, sehingga beliau bergabung dengan partai sosialis dan bekerja sama dengan partai-partai tengah.
Saya juga masih ingat, ketika saya kecil rumah saya diserang oleh massa PKI karena kita dianggap sebagai anti-PKI. Setelah PKI, pecah PRRI maka ayah saya ikut PRRI mengungsi ke Sumatera. Ketika PRRI kalah, ayah saya mengajak keluarga mengungsi ke Singapura dan akhirnya kita melanglang buana di sana. Jadi bukan berarti keluarga saya nggak pernah susah, itu persepsi yang keliru karena keluarga saya juga mengalami masa susah.

Bagaimana didikan orangtua Anda?

Orangtua saya sangat keras, saya nggak pernah dimanja. Saya juga diajarkan untuk prihatin seperti untuk makan saya tidak boleh tanya-tanya ingin makan apa? Jadi apa yang ada di meja harus dihabiskan.

Karena tinggal di luar negeri, berarti Anda sekolah di sana?

Saya terpaksa harus sekolah di luar negeri dan bersekolah di sekolah Inggris di Singapura. Saat itu Singapura masih jajahan Inggris. Saya juga pernah sekolah Inggris di Hongkong, yang juga masih jajahan Inggris. Di sekolah itu bisa dibilang saya satu-satunya siswa yang bukan berasal dari orang kulit putih, tetapi itu adalah suatu pengalaman yang sangat mendidik dan berharga.

Ada hal yang paling berkesan selama bersekolah bersama orang-orang bule?

Yang saya ingat pada tahun 1950an hingga 1960an, rasa superior bangsa kulit putih sangat tinggi. Di sekolah saya sering dihina dan selalu berada di kelompok minoritas. Ketika saya bersekolah di Swiss, lagi-lagi di sana saya satu-satunya yang bukan kulit putih, jadi saya bisa merasakan bagaimana menjadi kaum minoritas. Tetapi justru rasa nasionalisme saya terbentuk sangat kental, karena orangtua saya selalu bercerita tentang Majapahit, Gajah Mada, Sriwijaya, Diponegoro, Sudirman dan Bung Karno.

Ngomong-ngomong ketika di sekolah, pelajaran apa yang paling disukai?

Saya suka pelajaran sejarah dan bahasa, karena banyak dipengaruhi oleh guru-guru sekolah. Sampai sekarang saya masih sangat suka sejarah karena saya belajar banyak hal dari sejarah. Sampai ada sebuah adagium yang saya baca ’kalau kita tidak belajar dari sejarah maka suatu saat kita akan dihukum mengulangi kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan oleh pendahulu’.
Saya kira hal itu sangat membantu saya dalam menganalisis suatu persoalan, dalam mengambil sikap, bertindak, berpendapat, dan berjuang. Perjuangan politik saya sangat dibantu oleh kegemaran saya untuk belajar sejarah. Sampai sekarang saya tidak pernah lepas untuk membaca buku setiap hari. Dan buku favorit saya sejarah dan ekonomi, karena ekonomi tidak dapat dipisahkan dari politik.

Ada pelajaran yang paling tidak disukai?

Saya paling nggak suka pelajaran matematika, apalagi kalau gurunya kurang mahir membuat kita bandel dan malas. Tetapi ketika saya masuk tentara, saya harus banyak belajar matematika. (Tertawa).

Saat kecil sebenarnya apa cita-cita Anda?

Karena saya lahir di tahun 1950an yang penuh heroisme sehingga dari kecil saya ingin menjadi tentara. Jadi jika saya bermain bersama kelompok, saya menjadi pemimpin kelompok dan kita membuat bendera. Keinginan menjadi tentara semakin kuat manakala saya berkunjung ke rumah kakek saya di Jl. Taman Matraman No. 10, Amir Hamzah, yang merupakan markas GKR pertama, yang kemudian menjadi cikal bakal markas TNI (Tentara Nasional Indonesia).

Mengapa setiap ke rumah kakek semakin ingin menjadi tentara, apa yang diajarkan oleh kakek?

Setiap kali saya datang ke rumah kakek, saya dibawa ke kamar belakang, kamar paman-paman saya. Tempat tidurnya masih dari roda, serta ransel, tenda dan helmnya juga masih ada, tidak diubah sedikit pun. Mungkin karena sejak kecil saya sudah disosialisasikan dengan kepahlawanan dari paman-paman saya. Semacam itulah penggemblengan dan pembentukan watak yang secara tidak sadar dari kakek saya. Selain itu juga ketika di meja makan ada cerita-cerita kepahlawanan, serta sering dibawa ke Taman Makam Pahlawan.

Keluarga Anda biasa makan bersama di meja makan?

Ya, saya masih ingat zaman dulu karena mungkin sisa-sisa dari jaman Belanda yang masih kental dalam kehidupan Jakarta saat itu. Ayah saya biasa masuk kantor pukul 07.00, lalu siang harinya sekitar pukul 13.30 ayah saya sudah pulang ke rumah untuk makan siang. Anak-anak juga diwajibkan tidur siang dan sore harinya wajib berolahraga. Sekitar pukul 17.00 kegiatan saya adalah minum teh. Tetapi sekarang sudah berubah, dengan dunia modern dan globalisasi hidup menjadi tidak teratur lagi karena jadwal sangat padat.

Selain kedisiplinan dan nasionalisme, apa lagi yang diajarkan orangtua Anda?

Satu hal yang diajarkan orangtua adalah kita harus menaruh hormat pada semua orang dan harus selalu berpikir tentang rakyat kecil.

Karena diajarkan harus memikirkan rakyat kecil, apakah Anda sering diajak ke tempat-tempat rakyat kecil seperti ke pasar?

Kondisi saat itu memang cukup memprihatinkan karena semua bangsa sedang mengalami kemiskinan. Saat itu tidak ada gedung-gedung dan mal-mal mewah. Suasana kerakyatan sangat kental sekali dan memang saat itu keluarga saya, terutama ayah dan kakek sangat dekat dengan Bung Hatta. Saat kecil saya juga pernah diajak ke istana bertemu Bung Karno. Dulu kan idola seluruh bangsa Bung Karno dan Bung Hatta. Kita dituntun dan diajarkan bahwa merekalah yang memimpin bangsa di saat susah. (DR/TK- Portalpolitik.com)