Seputar Prabowo

Kesaksian Gusdur tentang Prabowo Subianto

By  | 

Oleh : Mega Simarmata, Pemimpin Redaksi KATAKAMI.COM

Jakarta, 7 November 2013 (KATAKAMI.CO)  —  Kita semua tahu bahwa KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur hanya sebentar menjadi Presiden ke 4 di Indonesia ini yaitu dari tahun 1999 sampai tahun 2001.

Tetapi perkenalan dan perkawanan saya dengan Gus Dur, jauh sebelum beliau menjadi presiden.

Rumahnya di Ciganjur, hampir setiap hari saya datangi.

Sebab dari seorang Gus Dur, akan banyak cerita, informasi dan hal-hal lucu yang bisa saya dapatkan.

Ini yang tidak diketahui Pasukan Pengamanan Presiden atau Paspampres saat saya menjadi wartawan Istana, berbarengan dengan naiknya Gus Dur sebagai Presiden.

Bayangkan sebagai anak baru di lingkungan wartawan istana yang jumlahnya ratusan, hanya kalau saya menyapa dan memanggil baru Gus Dur mau berhenti sejenak berbincang dengan wartawan.

Karena penglihatan Gus Dur memang terganggu, maka jurus yang paling jitu untuk memberitahu Gus Dur bahwa saya sebagai kawan lamanya ada didekatnya adalah setengah berteriak menyapa sekaligus memberitahukan nama saya “

“Gus apa kabar, saya Mega Simarmata”.

Pasti kalau sudah mendengar sapaan saya, Gus Dur akan berhenti.

Lama-kelamaan Paspampres jadi menghapal bahwa wartawati yang namanya Mega Simarmata harus diwaspadai.

Mengapa diwaspadai ?

Sebab kalau misalnya Gus Dur sudah dijadwalkan untuk meninggalkan Istana untuk pergi ke satu tempat, lalu wartawan berkerumun di sekitar tempat iring-iringan mobil kepresidenan yang akan membawa Gus Dur, maka semua akan jadi kacau balau kalau “Si Wartawati” yang kerap menyapa Gus Dur akan bikin ulah.

Sebenarnya bukan ulah yang negatif.

Beliau teman saya.

Wajar dong kalau saya menyapa.

Tetapi yang dimaksud Paspampres adalah kalau Gus Dur terlalu lama bercengkrama dan berbasa-basi dengan saya, padahal sudah saatnya berangkat dan polisi di jalanan sudah terlanjur menyetop arus lalu lintas yang akan dilalui iring-iringan mobil presiden.

Dan fenomena Gus Dur yang pasti akan berhenti kalau mendengar suara saya menjadi sorotan tajam Paspampres juga.

Lama-kelamaan kalau Gus Dur akan lewat, lalu wartawan-wartawan (terutama saya) sudah ketahuan berkumpul di satu tempat maka akan diutus seorang anggota Paspampres membawa tali pembatas agar wartawan tidak ada yang boleh mendekat.

Oleh wartawan-wartawan senior di kalangan Istana Kepresidenan, tali pembatas Paspampres itu diberi nama “Barikade Anti Mega”.

Sebab tali pembatas itu dimaksudkan untuk mencegah Gus Dur membalas sapaan dan menghampiri kawan lamanya yang kerap berteriak sangat ceria.

“Gus, apa kabar ? Ini Mega Simarmata”

Bahkan karena Paspampres sudah sangat putus asa karena tidak pernah ada yang bisa melarang Gus Dur menyapa balik dan menghampiri saya, maka saya pernah didatangi oleh Danplek (Komandan Komplek) Istana yang juga adalah anggota Paspamres.

Kebetulan Danplek ini juga sama-sama orang Batak seperti saya.

“Ito (maksudnya adik), tolonglah kami anggota-anggota ini. Janganlah lagi panggil-panggil bapak presiden kalau kebetulan sudah mau berangkat. Nanti kacau semua perjalanannya To” kira-kira begitu isi teguran Paspampres kepada saya.

Tetapi saya tetap menyapa Gus Dur dengan gaya saya bila sang presiden dan ring satunya melintas di depan wartawan.

“Gus, apa kabar ? Ini Mega Simarmata”

Dan Gus Dur juga pasti akan tetap menjawab ….

Dalam sebuah acara santainya kepada staf terdekatnya (masih dalam kapasitas Gus Dur sebagai Presiden), Adhie Massardi selaku jurubicara kepresidenan era Gus Dur, pernah bercerita kepada saya bahwa nama saya disinggung Gus Dur dalam pertemuan mereka.

“Mega itu kawan lama saya. Anak itu rajin datang ke rumah di Ciganjur. Lah wong dia yang ngajari saya, Gus kalau ditanya wartawan Mayjen K itu siapa … jawab aja Mayjen Kunyuk” demikian Adhie Massardi menceritakan kembali apa yang disampaikan Gus Dur dalam pertemua. tersebut.

Hal ihwal tentang inisial Mayjen K muncul adalah saat Gus Dur ditanya wartawan siapa dalang kerusuhan Ambon di tahun 1999.

Gus Dur yang memang sering ceplas ceplos, menjawab saja seenaknya.

“Dalangnya Mayjen K” kata Gus Dur kala itu.

Akibatnya, Mantan Ketua Umum PBNU ini terus menerus dikejar oleh kalangan pers untuk menanyakan siapa sebenarnya yang dimaksud Gus Dur dengan Mayjen K.

Oleh karena saya termasuk wartawati yang hampir setiap hari bertemu Gus Dur di kediamannya di Jalan Warung Silah Ciganjur maka saya berusaha membantu.

Saya katakan pada Gus Dur ketika itu, “Jangan sebut-sebut nama orang sembarangan Gus. Nanti kalau salah sebut, orangnya bisa marah. Gus Dur bisa dibilang memfitnah. Gini aja, kalau ditanya wartawan lagi, bilang aja Mayjen K itu adalah Mayjen Kunyuk” kata saya saat berkunjung rutin ke kediaman Gus Dur.

Gus Dur ketawa ngakak.

Bagi yang mengenal betul bagaimana watak asli dan kepribadian Gus Dur, pasti akan tahu bahwa kalau sudah tertawa senang maka ketawa Gus Dur bisa menggelegar keras sekali seperti petir.

Ternyata candaan saya tentang “Mayjen Kunyuk” benar-benar diingat dan dipinjam Gus Dur saat ia ditanya lagi oleh kalangan pers, siapa sebenarnya Mayjen K yang dimaksud oleh Gus Dur.

Dan kejadian itu tetap membekas didalam ingatan Gus Dur bahwa yang mengajari dirinya mengatakan Mayjen Kunyuk adalah seorang wartawati yang menjadi kawan lamanya.

Dulu, banyak sekali tokoh-tokoh nasional yang sangat terkenal, baik sipil atau militer, yang selalu datang berkunjung ke rumah Gus Dur di Ciganjur.

Enaknya menjadi teman Gus Dur, saya boleh nguping pembicaraan Gus Dur dengan tamu-tamunya tetapi harus dari balik lemari yang ada di dekat ruang tamu.

“Denger aja lho ya, tapi jangan diberitain” kata Gus Dur setiap kali saya iseng ingin dengar omongan-omongan rahasia Gus Dur dengan para tamunya.

Sepanjang pengetahuan saya sepanjang menjadi sahabat Gus Dur, dua tokoh nasional yang kerap memberikan perhatian dan bantuan kepada Gus Dur adalah (Almarhum) Taufiq Kiemas dan Prabowo Subianto.

Tapi yang dekat, bertemu, berkomunikasi dan membantu Gus Dur dalam kegiatan-kegiatannya masih banyak lagi.

Saya hanya mengambil 2 contoh nama saja, yang paling banyak diceritakan Gus Dur pada diri saya dalam pertemuan-pertemuan kami.

Misalnya, almarhum Taufiq Kiemas yang secara tiba-tiba mengutus orang untuk mengantarkan satu unit mobil berukuran besar dan mewah untuk Gus Dur.

“Saya dikasih mobil sama Mas Taufiq. Katanya, Mas jangan naik mobil yang kecil. Aku kirim mobil yang bagusan ya” demikian kata Gus Dur menceritakan isi omongan Almarhum Taufiq Kiemas yang tidak tega melihat Gus Dur bila harus menumpang di mobil yang tidak nyaman.

Kalau soal Prabowo Subianto, namanya cukup sering diceritakan Gus Dur kepada saya.

Salah satunya adalah saat Mas Bowo (Prabowo Subianto) datang ke rumah Gus Dur di Ciganjur membawa satu buah panser di tengah memanasnya situasi di Jakarta akibat kerusuhan Mei 1998.

“Mas Bowo datang tadi malam, naik panser. Ngobrol sama saya berdua di kamar. Katanya dia diminta berhenti. Lalu saya nasehati, sudahlah Mas. Sabar aja. Nanti Tuhan yang membukakan, yang mana yang salah dan yang mana yang benar” demikian kata Gus Dur kepada saya dalam sebuah kesempatan di tahun 1998.

Lalu saya tanya lebih mendalam, apalagi yang disampaikan Prabowo saat berbincang berdua dengan Gus Dur dalam kamar ?

“Ndak ada. Ya ngomong bola (soal sepakbola). Saya guyon-guyon. Kamu ini wartawan, gimana sih? Saya kan ngerti perasaannya. Dia jenderal, dicopot seenaknya. Saya ngerti dia pasti sedih. Lah dia datang ke saya, karena dia anggap saya ini seperti orangtuanya” lanjut Gus Dur.

Gus Dur mengisahkan bahwa Prabowo adalah sosok yang santun dan murah hati secara luar biasa.

Apa yang disampaikan Gus Dur tentang Prabowo, perlu disampaikan juga ke hadapan masyarakat sebagai bentuk keseimbangan informasi.

Bahwa ada sisi kemanusiaan Prabowo yang belum terungkap secara jujur.

Ia bukan jenderal brutal yang kasar.

Saat dicopot dari jabatannya sebagai Panglima Komando Cadangan Stategis (Pangkostrad), dua jenderal berbintang empat yang kala itu menjadi atasan langsung Prabowo, juga menyampaikan kesaksian pribadi mereka secara informal kepada saya selaku jurnalis yaitu Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Subagyo Hadi Siswoyo dan Menhankam / Panglima TNI Jenderal Wiranto.

Saya yang kala itu memang meliput di lingkungan Politik Keamanan (Polkam), serta tercatat sebagai salah seorang wartawan yang memegang kartu peliputan di lingkungan Mabes TNI dan Mabes TNI Angkatan Darat pernah menanyakan perihal Prabowo kepada kedua orang jenderal tadi.

Prabowo menemui KSAD Subagyo terlebih dahulu, dibandingkan Jenderal Wiranto.

Dalam pertemuannya dengan KSAD Subagyo yang notabene pernah 8 tahun menjadi Dan Walpri (Komandan Pengawal Pribadi) bagi Presiden Soeharto, dikisahkan bahwa pertemuan itu sangat baik dan tidak ada sedikitpun ketegangan.

Prabowo datang dan berbicara berdua dengan KSAD Subagyo.

Setelah mendapat kepastian bahwa ia dicopot dari jabatannya, Prabowo menaruh di atas meja yang ada di hadapannya, tongkat komando dan pangkat.

Sebelum dan sesudah pertemuan, Prabowo tetap memberikan sikap hormat kepada atasannya ini.

Mengenai pertemuan dengan Prabowo, Jenderal Wiranto juga pernah mengisahkan masalah ini kepada saya.

“Saya dilapori bahwa Bowo mau ketemu. Saya bilang ya gak papa, silahkan. Saya terima. Dia datang, menghormat. Saya duduk berdua. Saya yang tanya duluan …. Kenapa Wok ?” ungkap Jenderal Wiranto kepada saya mengisahkan pertemuannya dengan Prabowo.

Ada benang merah antara kesaksian Gus Dur dengan informasi yang disampaikan oleh kedua atasan Prabowo tadi bahwa mantan Danjen Kopassus ini datang dengan kesatria dan bersikap santun.

Satu-satunya orang luar yang dimintai nasehat oleh Prabowo tentang apa yang harus dilakukannya disaat yang terpojok seperti itu adalah Gus Dur.

Ia mengikuti dan melakukan apa yang disarankan Gus Dur ketika itu, “Sabar saja Mas”.

Dan kini, baik Prabowo, termasuk juga saya sebagai wartawan, kini tak punya lagi kawan yang bisa kami datangi ke Ciganjur untuk sekedar bergosip, mencurahkan isi hati, belajar dan menimba ilmu tentang kehidupan pada seorang Kyai yang sangat membumi.

Apalagi saya sebagai jurnalis yang selalu ingin tahu tentang banyak hal. Dan Gus Dur adalah sumber informasi yang paling lengkap di negara ini.

Kocaknya guyon-guyon Gus Dur, bisa membuat kita tertawa lepas dan melupakan sejenak segala kepenatan.

Salah satu contoh saat Gus Dur menceritakan bahwa Ibu Negara Shinta Nuriah memarahi anak bungsu mereka, Inayah, yang kerap kali mencat rambutnya dengan warna yang mencolok.

“Ini lho pak, anak perempuan kok rambutnya di cat begitu” begitu kira-kira omongan Ibu Shinta Nuriah.

Dan Gus Dur malah membela sang anak dengan mengatakan, “Biarin aja, ya kalau kepalanya botak, suruh pakai kopiah” jawab Gus Dur.

Kepergian Gus Dur sungguh merupakan kehilangan tersendiri bagi siapapun yang mengenalnya secara dekat atau mengagumi tokoh Nahdatul Ulama yang sangat mengagumkan ini.

Comments are closed.