Visi Prabowo

Kita Selamatkan Indonesia dari Korupsi 1000 Triliun

By  | 

Praktik korupsi yang masih tinggi di Indonesia, membuat negara merugi hampir 1000 triliun rupiah per tahun. Tingginya angka korupsi ini membuat pembangunan infrastruktur, dan ekonomi terhambat. Calon Presiden Partai Gerindra, Prabowo Subianto mengaku, memiliki kebijakan dan cara untuk memberantas korupsi jika ia terpilih menjadi presiden pada 2014.

Anak begawan ekonomi Indonesia Soemitro Djodjohadikusumo ini mengatakan, korupsi adalah penyakit yang membahayakan keberlangsungan hidup suatu bangsa. Tak hanya di Indonesia, semua bangsa mengalami persoalan korupsi. Semisal di Tiongkok. Saat negeri ‘Tirai Bambu’ itu dipimpin oleh pemerintahan Kuomintang, dan Chiang Kai Shek yang memiliki rezim sangat korup, yang saat itu didukung oleh Barat dan Amerika. Korupsi yang tinggi membuat rezim ini runtuh.

“Ketika penyakit korupsi itu sudah sangat-sangat berat, negara bisa jatuh. Seperti yang dialami Tiongkok. Rezim yang saat itu sangat-sangat korup ini membuat pembangunan tidak berhasil memakmurkan rakyat. Meski melalui proses yang lama, rezim yang korup di Tiongkok ini pun jatuh melalui perang revolusi, dan kembali diambil oleh partai komunis Tiongkok. Sekarang Tiongkok adalah negara dengan ekonomi yang maju,” tutur Ketua Dewan Pembina Gerindra.
Rakyat Indonesia, kata Prabowo, saat ini sudah memiliki kesadaran, bahwa korupsi dapat menghancurkan sistem pemerintahan, seperti yang dialami oleh bangsa lain.“Saya rasa masyarakat sadar korupsi di Indonesia sudah mendekati titik itu.”

Korupsi terjadi salah satunya karena adanya niat dari pemegang kekuasaan. Bekas Komandan Kopassus ini mencontohkan, pengalamannya ketika belajar ilmu kepemimpinan dasar di militer. Ajarannya sangat sederhana. Namun, konsep ini menjadi dasar kepemimpinan. Menurutnya, untuk menjaga uang negara dari tangan-tangan koruptor, harus dimulai dari atas, dan semua level kepemimpinan yang ada di pemerintahan.
“Tidak ada prajurit yang jelek, yang ada hanya komandan-komandan yang jelek. Tidak ada anak buah yang salah, yang salah adalah pemimpin,” tegasnya.

Alumni Akademi Militer pada 1974 ini mengklaim, memiliki sistem modern dan canggih untuk memberantas korupsi. Sistem ini dinilai mampu memberikan pengawasan dan transparansi anggaran dengan cepat, dan akurat. Ia menegaskan, dengan sistem ini tak sulit untuk mengawasi anggaran, seperti yang sudah dilakukan negara lain. Namun, ini perlu kehendak politik yang kuat.
“Sistem komputerisasi ini membuat kita mampu dengan cepat mengaudit dan mengolah data anggaran dengan cepat. Yang penting ada niat, kita bisa mampu mengawasi anggaran dengan cepat dan transparan. Yang penting niat! Ini adalah sistem electronic government.”
Ibarat pasien yang sakit, menurut Prabowo, korupsi di Indonesia tergolong sudah akut dan lanjut. Diperlukan strategi dan dorongan besar. Kondisi ini, kata dia, tak mungkin bisa ditangani dengan sederhana. Penghentian kebocoran anggaran untuk memperbaiki bangsa bukanlah usaha dan strategi kecil. Penanganannya pun tak bisa diserahkan ke pasar.
“Korupsi di Indonesia tak cukup hanya dengan –aspirin-. Harus ada pemerintah yang kuat dan tegas untuk melakukan strategi yang kuat, besar dan berani! Kekayaan Indonesia harus kita rengkuh kembali. Jangan biarkan negara lain menguasainya.”

Strategi pemberantasan korupsi itu, menurut Prabowo,nantinya harus disusun bersama dengan pemerintah yang kuat dan tegas. Tak hanya itu, pemberantasan korupsi harus disertai pula dengan pembukaan lapangan pekerjaan. Tak kalah pentingnya, lanjutnya, adalah menjaga kekayaan Indonesia.
“Selama ini kekayaan kita banyak mengalir ke luar negeri. Kita harus mempertahankannya. Agar bangsa kita tidak kerja bakti untuk bangsa lain. Ini kenyataan!”

Dalam segi devisa, Indonesia pun telah mengalami keuntungan sejak 15 tahun lalu. Perolehan devisa Indonesia saat ini 25 miliar dolar, 250 triliun rupiah setahun. Namun, kata Prabowo, tak semua dimiliki oleh Indonesia.
“Tetapi kalau kita tanya Bank Indonesia sekarang, devisa kita adalah 100 miliar dolar. Tetapi kalau kita tanya berapa milik kita, mungkin hanya 30 miliar dolar. Lantas kemana yang lain? Dua per tiga kekayaan kita, tidak ada di Indonesia,” jelas Prabowo.

Oleh : Sindhu Darmawan Editor: Arin Swandari, seperti disampaikan dalam portalkbr.com

Comments are closed.