Seputar Prabowo

Kyai Cholil : Prabowo Dekat dengan Kalangan Islam

By  | 

Prabowo bukanlah berlatar keluarga Islam yang puritan. Ia besar di lingkungan gaya hidup yang cenderung sekuler, dan banyak menghabiskan masa remaja di luar negeri. Walau demikian, ia tetaplah seorang Muslim, dan titel haji yang melekat pada dirinya karena ia memang melaksanakan haji beberapa kali umroh dengan penuh khusuk. Cholil Ridwan dalam sebuah acara Pengajian Politik Islam pernah menyanggah isu miring menjelang Pilpres yang menyebutkan Prabowo, bukan Islam, tidak pernah shalat.

Kyai Cholil bercerita dahulu ia pernah bersama-sama Prabowo dalam perjalanan di Timur Tengah dalam jangka dua minggu dan tidur di hotel yang sama dan ia selalu shalat jamaah Subuh bersama Prabowo. Prabowo shalat dan Islam. Entah karena keberpihakannya yang mendalam kepada Islam, tatkala banyak tokoh Islam memprakarsai berdirinya Partai Bulan Bintang, pada 1998, Prabowo bertindak mengulurkan bantuan finansial, sebagai dana awal untuk sosialisasi Partai Bulan Bintang yang baru berdiri pada 1998, ke seluruh Indonesia.

Bagi umat Islam jika ingin membaca jatidiri seorang Prabowo dari kacamata inilah bisa dibaca dengan jernih. Sebagai tambahan sikap persahabatan Prabowo terhadap kalangan Islam, baik dicatat tatkala ia hampir mengakhiri jabatannya sebagai Danjen Kopassus dan hendak diangkat sebagai Pangkostrad, Januari 1998, Prabowo mengundang tokoh-tokoh Islam dan ribuan santri untuk acara Buka Puasa Bersama di Markas Kopassus Cijantung Jakarta Timur.

Di hadapan ribuan santri dan prajurit serta silih berganti berpidato Prabowo di mimbar, Prabowo menjanjikan untuk membersihkan para pengkhianat bangsa yang kini (saat itu 1998) mencengkeram NKRI sehingga terjeremus dalam krisis ekonomi yang berkepanjangan. Deretan tokoh saling berpidato bergantian, mulai Ketua MUI. KH. Basri, Ketua Dewan Dakwah Dr. Anwar Haryono, Sekjen Dewan Dakwah Hussein Umar, Ketua Kisdi Ahmad Sumargono, Cholil Ridwan, KH. Abdul Rasyid, bahkan Rhoma Irama, Jimly Asshidiqie, Din Syamsuddin, Said Agil Munawar pun hadir di forum yang mengguncangkan para komprador itu.

Kedekatannya dengan kalangan Islam menjelang Pilpres Juli 2014 sekarang, seperti dirinci di muka, seperti kedekatan dengan para kyai niscaya bukan pura-pura, seperti ditampilkan peserta Pemilu, yang tiba-tiba menjadi akrab dengan pesantren, atau tiba-tiba mengenakan peci, dan berkalung sarung dan sorban. Kunjungan Prabowo ke kyai-kyai bukanlah hal baru.

Tatkala ia menerima deraan tuduhan di sekitar lengsernya Presiden Soeharto, (1998), bahkan berakibat ia dicopot sebagai Letnan Jendral dan dinas TNI, ia menyingkir dan mendapat perlindungan dari para sahabatnya di dunia Islam. Prabowo mengungsi ke Jordania dalam perlindungan Pangeran Abdullah (kini Raja). Penulis berkesempatan menjenguk Prabowo di Amman Jordania dan mendapati Prabowo yang sangat dihormati para pemimpin Dunia Islam.

Bersama ulama Indonesia KH. Cholil Ridwan (kini Ketua MUI), Prabowo direkomendasi Raja Jordania mengunjungi Qadafi di Libya, Pangeran Abdullah Raja Saudi Arabia di Istana Ryad. Karpet merah selalu dibentangkan menyambut kedatangan Prabowo di Negara-negara Islam itu. Bukti lain bersama-sama Ketua MPR Amien Rais, Ketua PP Muhammadiyah Syafii Maarif, Fadli Zon dan Muchdi PR, serta Ahmad Muzani, pada tahun 2000 kembali Prabowo mengunjungi Libya, Jordania, Irak, dan Iran di mana selalu dibentangkan karpet merah dan setiap kepala pemerintahan menyambut dengan hormat kedatangan Prabowo dkk dari Indonesia, negeri dengan jumlah penduduk Islam terbesar di dunia.

Perhatiannya yang berlebih kepada Islam dipastikan karena sikap ksatrya sekaligus logika intelektual dan jiwa keadilannya karena memandang Islam memang pemilik negeri ini yang terbanyak dan sah. Ia pantas mendapat kue yang terbesar. Dalam perspektif itulah bisa dibaca pendiriannya berkaitan Islam menjelang dan menyongsong Pilpres 2014, di mana ia maju menjadi Capres bersaing dengan Joko Widodo. Bagi umat Islam jika ingin membaca jatidiri seorang Prabowo dari kacamata inilah bisa dibaca dengan jernih.

Hal ini untuk sekadar mengingat betapa Prabowo pernah sangat dekat bersama Islam. Karena prakarsa acaranya ini, Prabowo dituduh sektarian, anti minoritas. Dan kiranya untuk menetralisir tuduhan seperti inilah, belakangan Prabowo bersikap lebih luwes, dan teduh agar bisa dimengerti oleh semua kalangan yang beragam di negeri ini.