Opini

Membandingkan Transformasi Prabowo dan Jokowi

By  | 

TANGGAL 9 Juli nanti, Kita akan melaksanakan Pemilihan Umum Presiden RI. Terdapat dua kandidat Presiden, yaitu Prabowo Subianto dan Joko Widodo (Jokowi).

Dari perjalanan dua Capres tersebut, saya melihat ada beberapa transformasi dari keduanya, mulai dari sebelum pencapresan sampai sekarang. Sebelumnya saya melihat ada karakter yang melekat dan menjadi “jargon” untuk masing-masing Capres.

Jika kita menyebut Prabowo Subianto, maka masyarakat akan mengingat karakter tegas. Namun, terkadang ketegasan Prabowo memang terstigmakan menjadi sifat arogan. Sedangkan untuk Jokowi, kita selalu mengenal dia sebagai sosok yang merakyat, sederhana, dan apa adanya.

Lambat laun, kita bisa lihat beberapa perubahan karakter dari para capres. Saya mulai dari Jokowi. Jokowi yang punya “karakter” merakyat memang masih kuat mempertahankan karakter itu. Namun dari pengamatan saya, karakter sederhana dan apa adanya dari Jokowi mulai terdistorsi. Prabowo yang mendapat kesan sangar dan arogan dari beberapa orang, sedikit demi sedikit mulai berubah menjadi santun dan murah senyum. Dan juga, kesan apa adanya terlihat dari Prabowo.

Kita ambil contoh dari saat pengambilan nomor urut Capres-Cawapres 1 Juni lalu, dari kendaraan yang ditumpangi, Pasangan Prabowo-Hatta menaiki Mobil mewah Lexus Putih dengan Atap terbuka untuk melambaikan tangan pada para pendukungnya. Buat saya apa yang ditunjukkan Prabowo lebih apa adanya karena memang biasanya juga beliau memakai mobil untuk pergi ke manapun. Sedangkan Pasangan Jokowi-JK menaiki Bajaj. Apa iya sehari-hari Pak Jokowi menggunakan Bajaj?

Selanjutnya, ketika Prabowo memberi Hormat kepada Megawati, menunjukkan kedewasaan berpolitik di mana dia menghormati lawan politiknya. Lalu dalam debat kandidat, Prabowo lebih rileks dan santai menanggapi pertanyaan dari moderator dan dari Jokowi. Bahkan ketika terdapat kesamaan ide dengan Jokowi, Prabowo membenarkan pandangan Jokowi dan lebih cair.

Bandingkan dengan Jokowi yang terlihat lebih kaku dan tegang. Entah mengapa kesan rileks dan apa adanya dari Jokowi seakan hilang. Mulai dari saat pengambilan nomor urut, lalu saat deklarasi kampanye damai, dan saat debat kandidat. Ada juga yang mengatakan kalau Jokowi sekarang terlihat ambisius dengan keputusannya maju Sebagai Capres.

Terlepas dari apa yang saya sampaikan, silahkan memilih Capres mana yang diyakini masing-masing. Karena memang dalam prinsipnya, pilihan masing-masing orang adalah hak Pribadi. Saya tidak akan mengkampanyekan salah satu Capres, saya hanya menyampaikan apa yang saya amati secara pribadi.

Yang terpenting dari momentum Pemilu ini, jangan sampai kita masyarakat Indonesia larut dalam permusuhan karena perbedaan pilihan. Karena kita adalah saudara satu Bangsa dan Slogan Negara kita berbunyi “Bhineka Tunggal Ika” yang Berarti “Berbeda-Beda Tetapi Tetap Satu”.

M Baihaqi Nabilunnuha
Jl. Semanggi 2 no 87 b, Ciputat Timur, Tangsel, Banten