Opini

Mendaki Jejak Keikhlasan: Ilmu, Pencak Silat, dan Berkuda

By  | 

Pernahkah terpikir oleh Anda mengapa Prabowo getol mengurus IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia) dan juga berkuda/polo? Pernahkah terpikir oleh kita mengapa olah raga yang dia mainkan adalah sepakbola dan bukan golf –sebagaimana pejabat atau anak keluarga kaya-?

Tentang pencak silat, karena inilah martial arts, bela diri asli Indonesia. Tidak ada orang kaya yang peduli. Prabowo mensedekahkan dirinya dan hartanya untuk setidaknya mempertahankan denyut jantung pencak silat agar tidak punah. Itu sudah dia lakukan hampir 20 tahun. Kalau tujuan utamanya untuk popularitas, paling gampang jadi ketua umum PSSI. Ternyata dia lebih milih konsisten di pencak silat.

Sekarang tentang sepak bola. Mengapa olahraganya bukan golf atau setidaknya tenis? Prabowo lebih suka sepak bola. Mengapa? Karena sepak bola itu permainan tim, melibatkan banyak orang dan tidak mengenal kelas. Olahraga kerakyatan. Sebagai olahraga paling popular di dunia, Prabowo ingin Bangsa Indonesia punya tim yang tangguh. Sudah enam tahun dia menggelar kompetisi sepak bola turnamen Garuda dengan tujuan mendapatkan talenta-talenta muda untuk dibina. Bukan mustahil, suatu saat Indonesia berpartisipasi di Piala Dunia, bahkan menjadi tuan rumah.

Terakhir, mengapa kuda? Banyak yang mencibir koleksi kudanya yang setiap ekor mencapai 2-3 M, walaupun tidak semuanya seharga itu. Koleksi kuda inilah yang dipakai oleh tim berkuda atau polo Indonesia. Kuda yang bagus memang segitu harganya, tidak beda dengan mobil mewah. Tanpa kuda yang berkualitas, maka tim Indonesia tidak dapat diandalkan. Baru-baru ini, saya baca tim berkuda/polo Indonesia menang di tingkat Asia. Bukan hanya di tingkat Sea Games, tim berkuda Indonesia sudah menang di tingkat Asia. Ini saya kutip berita yang lengkapnya bisa Anda buka di link:
[“Sebagai bangsa yang besar, kita harus tangguh, kita harus percaya diri, dan kita harus membuktikan prestasi kita di antara bangsa-bangsa besar. Hari ini kita telah membuktikan itu” ujar Novel menirukan pesan Prabowo yang menelepon dari Jakarta untuk memberikan selamat.]

ophttp://bola.liputan6.com/read/774122/berkuda-indonesia-sumbang-medali-emas
http://sports.okezone.com/read/2014/01/19/43/928448/tim-polo-berkuda-indonesia-berjaya-di-asia

Tim berkuda Indonesia diisi oleh anak bangsa dari segala kelas, termasuk anak petani dan wong cilik. Mengapa seperti ada ketidakkonsistenan? Dia membenci golf tetapi peduli olahraga berkuda yang mahal? Tahukah Anda bahwa di luar negeri, olahraga berkuda/polo itu adalah olahraga ‘the elite’, anak raja, taipan, dan sejenisnya. Prabowo ingin mensponsori dan menunjukkan, bahwa anak-anak wong cilik Indonesia sanggup bersaing dengan Pangeran Thailand, Brunei, Malaysia, atau negeri manapun. Bahwa kasta dan derajat itu tidak untuk dibanggakan. Kalau bisa sekatnya dihapuskan. Lewat olahraga (dan pendidikan) hal ini bisa terjadi. Keren khan?

Prabowo adalah sosok yang mudah tertampar ketika menyangkut harga diri bangsanya. Misal, ketika tahun 1997 Malaysia mengumumkan akan menancapkan benderanya di Puncak Everest. Darah Prabowo mendidih. Indonesia negeri besar dengan 200 juta jiwa. Tidak ada cerita Indonesia kalah dari negeri sebelah selama masih bisa dikejar. Dengan supercepat, dia kumpulkan prajurit Kopassus, wanadri, mapala UI, dan beberapa kelompok pendaki. Misinya satu, tancapkan Merah Putih terlebih dahulu, sehingga Indonesia mencatatkan sebagai bangsa Asia Tenggara pertama sekaligus negeri muslim yang paling awal. Prabowo-lah yang memimpin misi sekaligus masuk dalam tim. Dia ikut mendaki sampai batas kemampuan (2,000 meter) di basecamp. Meskipun tim awal berjumlah cukup banyak (40-an) hanya dua orang saja yang mencapai puncak, dua prajurit Kopassus. Himalaya merupakan medan yang ganas. Ada beberapa ‘pos’ pemberhentian. Prabowo-lah orang pertama yang punya ide menempatkan emergency camp diantara dua pos. Kelak, ide-nya ini diadopsi dan dipakai semua tim di dunia sampai sekarang.

Prajurit kopassus yang ditunjuk Prabowo adalah ‘wong cilik’, anak yatim piatu sejak umur 6 tahun, yang setiap hari berjalan 4 km ketika SD dan 7 km ketika SMP untuk mencapai sekolahnya di Malang. Karena tidak punya uang, anak ini sempat berhenti sekolah dan menjadi tukang buah. Satu-satunya harapan sekolah gratis dan digaji adalah masuk tentara. Untuk masuk Kopassus, tinggi badannya kurang 3 cm. Prabowo ‘memaafkan’, hatinya ‘terenyuh’ kita tahu prajurit di hadapannya memiliki masa kecil dan muda yang berat.

Ketika mendaki Everest, umurnya 25 tahun. Dialah Asmujiono. Demi supaya wajahnya kelihatan dia buka penutup kepala diganti dengan baret merah Kopassus. Dia buka masker yang menutupi wajahnya supaya wajahnya nampak jelas di foto, bukan wajah bangsa lain. Padahal di ketinggian 8848 m perlu full protection, termasuk kacamata dan masker. Pelatih/pendamping asal Rusia (atau Polandia, saya lupa) menuliskan memoar itulah momen paling mengharukan yang ia saksikan seumur hidupnya. Orang kampung yang tidak pernah melihat salju sebelumnya, pengalaman pertama langsung ke Everest. Banyak yang meragukan bocah-bocah tropis sanggup menaklukkan Everest. Bahkan dia tidak peduli bahwa saat di puncak, masker itu sangat penting. Ketika Asmujiono berdiri gagah dengan baret merah menggenggam Merah Putih, meneriakkan takbir dan menyanyikan ‘Padamu Negeri’ dengan sisa-sisa tenaga terakhir, pelatihnya tak dapat menahan haru. Bocah yang dia ragukan telah merampungkan misi-nya. Di belakang mereka sepuluh meter, satu prajurit Kopassus lainya (Iwan) telah pingsan. Kelak, setelah kembali ke tanah air, momen sesaat melepas penutup kepala dan masker demi menunjukkan ke dunia wajah Indonesia itu harus dibayar mahal. Dinginnya Everest merusak kornea matanya (karena kacamata dan masker dilepaskan) sehingga harus menggunakan kornea palsu setelahnya. Demi Merah Putih yang dibanggakan. Masa persiapan pendakian itu tergolong cepat. Kekuatan kaki Asmujiono dalam mendaki, boleh jadi sudah dipersiapkan Tuhan sejak lam, ketika setiap hari harus berjalan 4 km, dan kemudian 7 km ketika masa-masa sekolah. Siapa sangka, kelak dia membawa kehormatan bangsanya lewat kakinya yang kuat.

Dia banyak memberi, tanpa berharap sesuatu untuk dirinya sendiri. Banyak manusia salah memahaminya. Tentu dia juga punya ambisi dalam hidup, sebagaimana kebanyakan kita. Satu hal lagi yang saya tahu dengan pasti. Prabowo banyak membantu tim Tim Olimpiade Fisika Asia yang pelatihannya dipusatkan di Surya University. Dalam beberapa hal, Olimpiade Asia lebih berat dibanding Olimpiade Internasional karena siswa-siswa yang tangguh berasal dari Asia. Dia percaya, anak-anak Indonesia mampu bersaing, sebuah keyakinan yang juga dimiliki oleh Professor Yohanes Surya. Mereka bekerja bersama, mengibarkan Merah Putih. Dia bukan manusia sempurna, tapi tidak berlebihan jika laki-laki ini adalah pemimpin paling ikhlas kepada rakyatnya.

Oh ya, berhubung kemarin disebut tentang Palestina di dalam debat, orang ini sudah menyumbangkan 500 juta melalui partainya, ketika gaza digasak oleh Israel. Saat walikota termuda negeri Palestina datang ke Indonesia, dia sampaikan doa untuk kemerdekaan Palestina. Pernah tinggal di Amman Yordania, pintu gerbang ke Palestina, dia tak pernah melangkahkan kaki ke Palestina. Dia hanya ingin ke Palestina, saat negeri ini sudah merdeka.

***

Sekitar 8 tahun yang lalu, ada seorang dokter masih muda kesulitan mencari beasiswa untuk melanjutkan study S3 di luar negeri. ternyata ada seorang dermawan yang membiayainya tanpa pamrih. sekarang dokter tersebut kembali ke tanah air dan giat meneliti. sang dermawan itu sekarang jadi calon presiden. siapakah dia / tak ada yang tau dan mungkin juga tak perlu ada yang tahu.

Sedikit juga yang tahu, karena memang tak pernah ada publikasi guna menarik simpati, bukan dilakukan hanya ketika mau maju nyapres saja. Bahwasanya seseorang dermawan itu juga mempunyai lbh dari 8000 anak asuh di papua. Begitu cintanya beliau pada tanah papua, hingga ingin daerah itu maju krn memilki SDM asli papua yg handal utk mengelola daerah mereka sendiri. Bukan seperti sekarang justru kekayaan mereka didominasi para pendatang bahkan bangsa asing, hingga masyarakat asli terpinggirkan.

Sedikit juga yang tahu, bahwa si dermawan ini rela jadi peternak ratusan sapi dan kuda, untuk apa? sudah puluhan tahun si dermawan ini merawat kuda dan sapi/kambing gembalanya untuk mensejahterakan rakyat sekitar. kuda diperuntukkan atlet-atlet pemuda pemudi Indonesia untuk berlatih kuda, sehingga atlet berkuda itu sudah mengharumkan nama Indonesia, sudah berpuluh tahun juga si dermawan ini rela memproduksi susu sapi/kambing untuk dibagikan secara sukarela kepada tetangga dan warganya.

Tapi hebatnya, si dermawan ini walau tak lagi punya istri, dia masih memberi santunan kepada janda-janda veteran, tak satupun kamera menyorot ktifitas sosial beliau karena beliau menolak untuk di sorot kamera. walau dihujat , di hina, di cela sebagai duda tak punya istri, beliau tetap sabar, dan ikhlas, tak satupun dari ucapan beliau untuk membalasnya. dan kini si dermawan itu jadi Calon Presiden. siapakah dia,,, bisa Anda tentukan sendiri dengan cerdas.

(Gabungan Tulisan Sidrotun Naim dan Prayudi Azwar)