Opini

Menilik Prestasi Kerja Jokowi vs Prabowo

By  | 

Saya mencoba menanggapi salah satu retorika Anies Baswedan. Dari 6 Presiden Indonesia, tunjukkan siapa yang pernah jadi gubernur atau walikota sebelumnya. Atau camat dan lurah juga boleh deh. Mungkin saya yang salah baca sejarah, Siapa tahu Bung Karno pernah jadi camat, Pak Harto pernah jadi carik. Di antara semua Presiden Indonesia, siapa yang tidak pernah punya cita-cita/ambisi terus tiba-tiba ujung-ujug njedhul menjadi presiden? Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Megawati, dan SBY jelas-jelas semua punya keinginan itu. Gus Dur juga iya, walaupun lebih santai dan tidak perlu repot. (Baca Juga : Prabowo : Banyak Yang Lebih Hebat dari Saya)

Kalau boleh, saya juga ingin bertanya, waktu Pak Anies menggagas “Indonesia Mengajar”, tentu itu niat sangat baik. Apakah terbersit dalam hati Bapak program itu sebagai bagian pencitraan, kendaraan untuk meningkatkan kepopuleran, supaya bisa nyapres atau minimal kena radar untuk jadi menteri? Kalau iya, tujuan yang ini sudah tercapai. Bukankah bapak sudah mencobanya lewat Demokrat. Tidak berhasil, Anda ‘menyeberang’ dari capres menjadi jubir. Yang bisa menjadi kendaraan menjadi menteri. Good job, Pak. Sangat rapi dan elegan.

Yang benar, apapun latar belakang capres cawapres, harus yang terbaik di bidangnya itu. Kedua, mengukur prestasi prajurit pakailah standar prajurit. Mengukur kepala daerah beda lagi. Cara paling mudah, bandingkan dengan yang sepantaran dengan profesi yang sama. Untuk kepala daerah, yang baik banyak, bukan hanya Jokowi. Bedanya banyak kepala daerah yang tidak dikinthili oleh wartawan dan puluhan juru potret.

Prabowo Subianto Perwira Terbaik Angkatan 1974

Sedangkan Prabowo Subianto (sebelum 1998 tentunya) tak terbantahkan adalah perwira terbaik di angkatan 1974. Apa indikatornya? Menjelang reformasi itu, dari sembilan Perwira Tinggi TNI-AD, enam orang dari 1970, dua orang dari 1973 (SBY dan Sjafrie Sjamsudin) serta Prabowo Subianto (1974). Artinya, dia melewati tiga atau empat angkatan. Jenderal bintang 3 termuda. Apakah kenyataan bahwa dia menantu Presiden ikut mengatrol pangkatnya? Mungkin iya. Tetapi, kalau saja Anda baca riwayat karier militernya, semua kenaikan pangkatnya sesuai prosedur. Dia sudah di KOPASSUS (waktu itu masih Kopassandha) jauh sebelum jadi menantu Soeharto.

Prabowo The Rising Star

Kenyataan bahwa dia masuk KOPASSUS pun sudah merupakan prestasi tersendiri. Ibaratnya di kampus, hanya sebagian kecil saja yang bisa masuk peringkat 5 besar. Semua tugas kemiliteran diselesaikan dengan baik. Ketika menjabat Danjen, KOPASSUS menjadi berita besar internasional lewat Operasi Mapenduma (silahkan google sendiri). Sejak itulah julukan the rising stars muncul, merujuk ke Prabowo, SBY, Sjafrie Sjamsudin dkk. Bahkan Wiranto sama sekali tidak masuk kategori ini. Kalau Anda baca riwayat militer Wiranto, dia melejit sejak menjadi ajudan Presiden. Sebelumnya Wiranto termasuk kategori prajurit yang biasa-biasa saja. Dan bisa Anda tebak, siapa yang ‘menempatkannya’ sebagai ajudan presiden, untuk memastikan anak didiknya yang memegang posisi kunci di militer ke depannya. Dialah L.B. Moerdani sebagai PANGAB saat itu.

Soekarno adalah pemimpin revolusi, memang yang terbaik dari stok pemimpin yang ada saat itu. Soeharto adalah PANGKOSTRAD (sama dengan Prabowo) saat menerima mandat Supersemar. BJ Habibie adalah teknokrat terbaik. Gus Dur sudah menjadi Bapak Bangsa, Pemikir Besar jauh sebelum menjadi Presiden. Saya tidak perlu menuliskan apa yang sudah dibuat Prabowo setelah menjadi sipil.

Saya juga tak perlu menuliskan prestasi Jokowi, sudah banyak bahan bertebaran di media yang fokusnya di sulapan, membandingkan gambar before vs after, sebelum dan sesudah disulap. Tentu punya pasar dan terminal yang rapi itu bagus, memfasilitasi proses-proses lebih baik. Begitu juga membersihkan sungai. Tapi, itu skalanya mikro. Contoh perubahan makro misal pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masuk 10 besar dunia. Ini tentu prestasi kerja SBY-Boediono (dengan menko ekuin Hatta Rajasa) yang harus kita syukuri. Kalau saya dan Anda merasa sekarang hidup lebih layak dari sebelumnya, ada jejak pemikiran mereka di dalamnya. Pelaksananya sih orang lain :).

Jadi, tidak benar SBY-Boediono tidak bekerja. Kalau ‘terkesan’ lambat memang iya. Namanya pemikir, memang begitu ritmenya. Kalau bisa memilih, pasangan ideal itu menurut saya pemikir-eksekutor (SBY-JK). Kalau tidak ada, pemikir-pemikir (SBY-Boediono). Pilihan terakhir, baru eksekutor-eksekutor. Ngomong-ngomong, berbahagialah warga Jakarta, mulai bulan Juli tol ERP akan diujicobakan. Salah satu yang mendapat kontrak projek ini (besar lho) adalah Jenderal Luhut Panjaitan, yang sangat gigih membela jokowi, tanpa perlu tender. Alasan Pemda DKI, kalau tender bikin lama, padahal kita mau cepat (berhubung pilpres awal Juli, hehehe). Siapa bilang Nepotisme itu tidak ada? Siapa bilang jenderal kancil itu bantu-bantu dengan gratis?

Metro TV Tidak Fair

Oh ya, sebenarnya MetroTV tidak fair. Kalau Ketua pemenangan Timses, ditandemnya ya dengan padanannya, itu bukan interview mereka-mereka kenapa gagal nyapres trus mendukung ke salah satu pasangan yang ada, tapi tentang kapasitas pekerjaan sekarang, persiapan, agenda pemenangan dll. Machfud MD mestinya head to head dengan Tjahyo Kumolo. Kalau Anies Baswedan, cukup dikasih Tantowi Yahya saja, atau Marwah Daud Ibrahim. Level-nya khan jubir doang. Saya akui, PDIP cerdik dalam menunjuk Anies Basweda sebagai Jubir, sebagai garda terdepan di media. Meskipun, sebenarnya ini tidak wajar dan bukan pendidikan politik yang baik. Anda bisa lihat, di negara manapun, posisi Jubir ini biasanya diisi oleh kader partai. Karena itulah, kubu Prabowo-Hatta menempatkan Tantowi Yahya, Marwah Daud Ibrahim, Nurul Arifin dkk.

Apa artinya? Saya tetap meragukan kapasitas intelektual ‘tim inti’ Jokowi-JK. Visi-misi dibuatkan oleh ‘tim pakar’ dari UGM, UI, Unpad, dan Airlangga (bukan pemikiran dan ide orisinal Jokowi-JK). bahkan, ketika dikumpulkan pertama kalil belum sempat dibaca. Ada beberapa yang ternyata salah sampai harus direvisi. Tidak salah tentunya membentuk tim ahli, tetapi ide besarnya harus orisinal capres-cawapresnya. Sedangkan visi-misi dan program Gerindra, Prabowo Subianto terjun langsung menuangkan pikirannya yang kemudian dirumuskan bersama dengan dewan pakar. Kedua, untuk Jubir Tim Pemenangan yang membutuhkan artikulasi bagus, lagi-lagi Jokowi-JK mencomot orang luar.

Baik PDIP, Nasdem, PKB, Hanura tidak punya stok. Saya yakin, kalau kemarin itu head to head-nya Anies dengan Tantowi Yahya, akan lebih berimbang karena porsi kerja mereka sama dan keduanya memiliki artikulasi yang baik. Sama-sama Jubir. Sekarang saya bertanya-tanya, fungsi Pak Anies Baswedan itu sebenarnya ketua tim pemenangan atau jubir? Boleh jadi, MetroTV (yang memang sudah berpihak ke Jokowi tentunya), memang sengaja membuat dagelan dalam framing (seolah-olah) diskusi cerdas dengan cara mengundang tim tapi tidak satu level.

Capres Pemikir VS Capres Blusukan

Jam terbang’ membaca Prabowo vs Jokowi (anggap di umur yang sama) sudah pasti Prabowo jauh lebih unggul. Punya presiden yang tipikal eksekutor itu sebenarnya salah jaman, ga musim lagi. Lihatlah semua negara besar dan negara yang mulai besar. Presiden-presidennya adalah tipikal pemikir/ konseptor. Wapres-nya yang eksekutor. Mirip dulu SBY-JK. Konsep bagus, pelaksanaan di lapangan cepat. Punya presiden pemikir itu bukan hanya penting untuk urusan dalam negeri, juga untuk ‘kontes’ luar negeri. Para pemimpin dunia kalau ketemu bukan untuk blusukan, tapi adu gagasan. Gus Dur dalam masa kepresidenan yang singkat, mampu meninggalkan jejak yang banyak karena beliau pemikir sejati.

Sidrotun Naim, Boston, 29 Mei 2014, di rumah kelahiran John F. Kennedy (JFK). Di hari ulang tahunnya. Saat nyapres 1960, slogannya ada dua “A Time for Greatness” dan “Leadership for the 60’s”. Dalam popular vote saat itu, dia hanya menang tipis seratus ribuan. Saat JFK lahir di Brookline 1917, tepat di hari yang sama, lahirlah ‘kembarannya’ di Kebumen, Soemitro Djojohadikusumo.

Sekarang anaknya nyapres dengan slogan “Selamatkan Indonesia“.