Berita

Partai Gerindra Jawara di Media Sosial

By  | 

Jelang tahun politik, hampir semua partai politik memanfaatkan media sosial sebagai kanal komunikasi mereka. Media sosial menjadi penting bagi partai, lantaran dapat digunakan untuk membangun keterlibatan dengan masyarakat–sebagai calon pemilih. Termasuk, dimanfaatkan untuk membangun reputasi partai beserta politikusnya.

Lantas, siapa saja partai yang paling massif memanfaatkan media sosial? Studi Indsight tentang “Politic Social Media Report” baru saja merilis aktivitas 12 partai politik peserta Pemilu di media sosial. Ke-12 partai itu adalah Gerindra, Demokrat, Golkar, PDIP, PKB, PKS, PPP, PAN, Nasdem, Hanura, Perindo, dan PSI.

Dari ke-12 partai tersebut, ternyata Gerindra tercatat sebagai partai yang memiliki follower terbanyak di sejumlah media sosial. Per Janauri 2018, Gerindra memiliki jumlah pengikut di Twitter sebanyak 292.362, Facebook sebanyak 3.635.795, dan Instagram sebanyak 154.197. Itu artinya, di ketiga media sosial itu, Gerindra menjadi partai yang paling banyak memiliki pengikut.

Sebaliknya, ada juga partai yang memiliki jumlah pengikut paling buncit. Di Twitter, Hanura tercatat sebagai partai yang paling sedikit memiliki jumlah pengikut, yakni hanya 16.871. Sedangkan di Facebook, partai yang paling sedikit pengikutnya adalah Nasdem, yang hanya mencapai 5.115 pengikut. Adapun di Instagram, partai paling sedikit pengikutnya adalah Hanura, yakni cuma diikuti oleh 370 pengikut.

Sementara itu, salah satu tolok ukur keberhasilan kampanye komunikasi di media sosial adalah tingkat keterlibatan pengikut atau follower. Antara lain, dapat dilihat dari tingkat share atau retweet dan like atau favorite yang sukses tercipta dari setiap postingan. Dari ke-12 partai tersebut, kembali Gerindra memiliki tingkat retweet dan favorite tertinggi di Twitter, yakni 37.683 retweet serta 78.736 favorite. Sebaliknya, di posisi terendah ada Golkar, dengan tingkat retweet 135 dan favorite sebesar 232.

Di media sosial Facebook, tingkat share tertinggi masih jatuh pada Gerindra, yakni sebanyak 32.428. Sedangkan tingkat like tertinggi jatuh pada PPP, yakni sebesar 104.891. Sebaliknya, tingkat share terendah jatuh pada Hanura, yakni mencapai 34. Begitu juga dengan tingkat Like terendah di Facebook jatuh pada Hanura, yakni hanya mencapai 68 like.

Lantas, siapa yang memiliki tingkat engagement paling tinggi di Instagram? Dari Studi Indsight ini terungkap bahwa PKS sebagai partai yang memiliki tingkat Like paling tinggi di Instagram, yakni mencapai 144.834. Padahal, jumlah pengikut Instagram PKS tercatat berada di posisi keempat, yakni sebesar 36.566 pengikut, setelah Gerindra (154.197), PDIP (54.862), dan PSI (46.033).

Terkait Share of Voice, lagi-lagi, Gerindra menempati peringat teratas, yakni dengan angka 122.631. Selanjutnya, disusul oleh PKS (43.543), PAN (33.129), PDIP (22.508), PKB (21.593), PPP (20.801), Demokrat (16.075), Golkar (14.138), Nasdem (4.220), Hanura (1.569), Perindo (1.931), dan PSI (4.634).

Temuan menarik lainnya yang juga perlu diperhatikan adalah terkait sentimen di media sosial. Meski Gerindra sebagai partai yang paling banyak pengikut dan mendominasi pembicaraan, namun sentimen Gerindra juga terhitung paling negatif dibandingkan partai yang lain. Hal itu terjadi karena adanya berita mengenai kader Gerindra yang ada dibalik akun hoax @hallosamarinda. Isu tersebut mencapai 11.123 pemberitaan, dimana 10.677 pemberitaan bersentimen negatif, 213 pemberitaan bersentimen positif, dan 233 pemberitaan bersentimen netral. Adapun jumlah perbincangan dari isu tersebut mencapai 4.407.

Partai-partai besar lain juga memiliki top issue yang akhirnya mengundang pembicaraan hangat di media sosial. PDIP misalnya, memiliki top issue “Kemunduran Azwar Anas dari Pigub Jatim dan Kaitannya dengan Foto Syur yang Beredar”. Isu tersebut mendulang 2.339 pemberitaan dan 1.258 perbincangan. Akan tetapi, isu tersebut lebih banyak bersentimen netral (1.966). Sisanya, bersentimen negatif (317) dan positif (56).

Temuan dari studi ini juga mengungkapkan bahwa beberapa partai memiliki talk sentimen negatif yang lebih besar daripada sentimen positifnya. Hal itu karena adanya konflik internal partai, kader yang terlibat kasus, serta pencopotan ketua umum dan ketua DPW partai. (sumber : Marketing Communication)