Catatan Media

Pengamat Asing : Jokowi Biasa Saja, Tidak Istimewa

By  | 

MELAMBUNGNYA nama Joko Widodo atau Jokowi bukan karena kapabilitasnya. Teratas dalam urusan elektabilitas, nama Jokowi unggul karena tokoh-tokoh lain yang tidak sesuai dengan harapan rakyat.

Hal ini disampaikan peneliti KITLV Belanda, Ward Barenscot, Senin (19/5), di Jakarta. Ward mempertanyakan survei-survei yang dirilis beberapa lembaga di Indonesia selama ini.

Berbasis kuantitatif, hasil survei ini selalu mengunggulkan nama Jokowi. Survei hanya mengukur tingkat keterpilihan dan popularitas, bukan kapabilitas.

“Menurut saya Jokowi tidak cerdas, punya kharisma tapi biasa saja,” Kata Ward saat menjadi pembicara dalam diskusi hasil survei tentang kepemimpinan nasional.

Jokowi, menurutnya, muncul menjadi idola baru saat pemimpin lain dinilai rakyat telah menjadi sosok yang oportunis dan tidak punya idealis.

Selama ini, publik dan pengamat seperti dirinya menunggu Jokowi memaparkan apa visi misinya sebagai calon presiden. “Belum jelas, saya belum mendengar dalam ceramah politiknya,” kata Ward.

Jika nantinya akan menjadi Presiden, apa yang akan dilakukan mantan Wali Kota Solo itu juga belum diketahui. Jika memang ingin membuat revolusi mental, Ward meminta, Jokowi menjadi penulis buku saja.

“Lebih baik jadi penulis buku saja untuk bisa mempengaruhi orang,” katanya.

Revolusi mental adalah sebuah judul tulisan opini yang dimuat sebuah koran nasional. Tulisan itu disebutkan penulisnya adalah Jokowi meski ada yang meragukannya.

“Sampai sekarang, saya menunggu kebijakannya akan seperti apa,” ujar Ward. (Jurnas.com)