Berita

Pengamat : Prabowo Tunjukkan Kapasitas Seorang Pemimpin

By  | 

Jakarta – Capres Prabowo Subianto menang mutlak dalam debat pilpres melawan Joko Widodo (Jokowi) pada acara debat capres tahap kedua semalam.

Pengamat psikolog politik Universitas Indonesia, Dewi Haroen mengatakan, kemenangan Prabowo terlihat dalam berbagai sisi. Baik dari segi isi debat, penggunaan istilah. Hingga sikap atau gesturnya memperlihatkan figur seorang pemimpin.

Dewi mencatat, pertama penggunaan istilah ‘saya’ dan ‘kita’ oleh dua capres pada sesi visi misi. Menurut pengamatannya Jokowi lebih sering menggunakan saya ketimbang kita.

Padahal jargon adalan capres tersebut adalah kita. Sebaliknya kata-kata Prabowo malah jauh lebih banyak menggunakan kata kita dalam debat kemarin. Meski sederhana, namun pilihan penggunaan istilah ini menggambarkan kecenderungan yang berbeda antara keduanya.

“Keterbatasan pemahaman Jokowi menyebabkan dia memakai istilah ‘saya’ pada sesi itu, karena dia bercerita tentang pengalamannya ketika jadi walikota Solo dan Jakarta. Visi misi harusnya merujuk pada sesuatu yang akan datang rencana yang akan dilakukan oleh kabinetnya. Bukan pengalaman dia sebagai walikota Solo atau gubernur Jakarta,” kata Dewi yang dihubungi Senin (16/6/2014).

Menurutnya, pemaknaan visi misi oleh Prabowo sudah tepat, sehingga dia memakai istilah ‘kita’ untuk menggambarkan pelaku pembangunan adalah pemerintah dengan rakyat. “Dia sudah benar dengan menggunakan istilah ‘kita’ dan bukan saya,” kata Dewi.

Selain itu, dari sisi sikap dan gestur, jawaban Jokowi sering disampaikan dengan gagap atau terbata-bata. “Sebagai psikolog saya tahu bahwa jawaban gagap artinya yang bersangkutan ragu dan tak yakin pada jawabannya sendiri,” imbuhnya.

Menurutnya, tanda bahwa Jokowi grogi tampak dengan suaranya yang melemah dan tidak bisa rileks.

“Saya mencatat tiga kali dia tergagap antara lain ketika menjawab dua anak ketika menyoal BKKBN dan lima kali terhenti sejenak,” kata Dewi. Jokowi juga sering terlihat melirik kanan kiri dan tidak fokus. Bahkan sesekali dia melihat contekan yang dibawanya. Itu tanda bahwa Jokowi belum menguasai masalah yang dikemukakan. Pengetahuannya terbatas meski mungkin sudah dikatrol. Itu tidak menyakinkan bagi yang melihat,” katanya.

Sebaliknya, Dewi mendapati suara Prabowo selalu bersemangat dan stabil. Hal ini terlihat dari bahasa tubuh Prabowo selama jalannya debat.

“Lihat saja ketika sampai soal ekonomi kreatif, Prabowo tak segan menghampiri Jokowi dan memeluknya. Itu menunjukkan kebesaran jiwanya. Itu pemimpin yang tepat untuk Indonesia. Jiwa besar seperti itu tidak serta merta bisa dimiliki semua orang. Mungkin karena dia pernah mengalami aneka pengalaman hidup sehingga dia bisa seperti itu,” terangnya.

Ketiga, adalah sikap Prabowo menggambarkan kenegawaranan dan cenderung dapat merangkul semua pihak. Sebab sebagai seorang Presiden mutlak harus bisa merangkul semua pihak, visioner dan berpandangan makro.

“Dia menang mutlak tadi malam. Presiden yang seperti itu biasanya tahu apa yang harus dikerjakan agar rakyat lebih sejahtera dan negara berjalan dengan baik. Dia harus memperhatikan kepentingan semua golongan,” tandasnya.[jat-inilah.com]