Opini

Petruk Dadi Ratu

By  | 

Awalnya, KPU sudah mengumumkan jadwal lima kali debat yang urutannya: capres, cawapres, capres, cawapres, dan terakhir berpasangan. Jadwal ini ‘direvisi’ sedikit, sebagaimana kemarin ada satu kubu yang minta visi-misi direvisi karena ada yang harus diperbaiki. Lima kali debat jadinya dimulai dengan pasangan, baru kemudian capres, capres, cawapres, dan diakhiri dengan pasangan.

Sekarang saya paham apa maksud novel “Para Priyayi” Umar Khayam. Sebuah tradisi itu tidak bisa diubah dalam hitungan cepat. Kalau seseorang memang tidak lahir dan tumbuh dalam tradisi priyayi (yang disiapkan menjadi pemimpin), mau sudah jadi juragan kayak apapun, nilai-nilai sebagai priyayi yang diterima sejak kecil, tidak bisa benar-benar dicerap. Pendidikan dan pengalaman tentu bisa mengangkat ‘derajat’ seseorang, tapi tidak bisa ‘sulapan’. Perlu jam terbang.

Pak Karno tumbuh di keluarga elit (utk zamannya tentunya), begitu juga semua presiden Indonesia. Mohon maaf ini bukan bermaksud elit-elitan, tetapi memang kepemimpinan itu tidak dapat diberikan ke sembarang orang. Bahkan, Nabi Muhammad pun juga lahir dari keluarga Bani Hasyim yang terhormat, pemuka masyarakat dari generasi ke generasi walaupun bukan berarti harus kaya. Nabi Isa/Jesus tumbuh di keluarga Imran, pemuka pada zaman itu. Nabi Musa sejak bayi sampai dewasa tinggal di istana raja, dalam asuhan seorang perempuan zuhud, Asiyah istri Fir’aun.

Petruk dadi Ratu itu hanya bertahan sehari. Mengapa hampir di semua sejarah, yang namanya perubahan itu dimulai dari para dokter yang berkumpul, atau para mahasiswa yang berdemo? Karena mereka-lah representasi the elite, kaum terpelajar. Gerakan mereka kemudian diikuti masyarakat luas.

Wes lah sak-karepmu pakdhe. Ngadepin capres lain saja gemetar, entah kalau ngadepin presiden-presiden beneran. Mungkin selalu menghindar dan didelegasikan ke menlu atau dubes. Mana itu revolusi mental? Petruk ketika jadi ratu itu iseng saja, bukan beneran pingin. Petruk sudah mengawal banyak raja, dan pingin sebentar saja merasakannya dengan melakukan ‘kudeta’. Dia memoles dirinya, sehingga tidak ada yang tahu bahwa itu Petruk sampai saat bapaknya (Semar) melihat, “Le, aku ora iso mbok apusi. Wis, Petruk bali dadi Petruk wae.” Dengan nasihat bapaknya, kembalillah dia menjadi Punakawan. Hidup lebih santai, tidak stress, dan mengabdikan dirinya untuk pemimpin.

Mereka yang bukan terlahir sebagai the elite tentu bisa menjadi elite beneran. Contoh Clinton dan Obama. Lahir di keluarga biasa, mengalami pendidikan sampai level tertinggi dan dididik untuk berpikir keras, untuk percaya diri dalam mengambil keputusan. Pidato, debat, cipika-cipiki adalah bagian dari tugas penting Presiden. Memang mbosenin, tapi diplomasi mensyaratkan ini. Keluarga priyayi sdh biasa yg spt ini dari kecil, sdh latihan dgn jam terbang cukup. Walaupun tak sedikit yg njengkelin. Foya-foya dan manja tidak karuan.

prabowo subianto deklarasi pemilu damai

Dimana-mana, presiden itu pekerjaan melelahkan. Butuh nyali besar. Kita butuh presiden yang bisa bekerja, sama pentingnya butuh presiden yang paham aturan main hal-hal mbosenin yg sdh saya sebutkan. Kalau dari awal ga suka dan ga mau ikut arus yg mbosenin, bisa repot krn itu bagian penting ‘diplomasi’, menghargai pihak lain lewat kata, lewat bahasa tubuh. Jika ini sebuah event internasional, ada yg melucu ga ikut tertawa, tepuk tangan diam sendiri, yg lain saling ngobrol terus diam sendiri, bisa dikira tidak paham atau lebih parah lagi dianggap mengucilkan diri. Kita semua juga paham capres itu capek. Apalagi presiden beneran. Bukan alasan untuk bersikap ‘aneh’. Emangnya capres satunya dan dua cawapres ga capek? Makanya jangan terlalu memforsir diri Pakdhe.

Jadi, ketika saya mengkritik ada yang pidato tdk sesuai waktu dan tempat (event), ada yang menghindari debat head to head di awal, atau ada yang bersikap ‘kurang wajar’ dalam acara kumpul2, itu sama sekali bukan berarti bhw pandai pidato dan debat itu syarat utama. Tiap orang tentu punya karakter masing2. Pidato dan debat itu supaya kita bisa baca sikap dan pikirannya. Emangnya kita punya ilmu telepati, bisa menebak? Bukankah yg paling ideal itu orang yang hati, pikiran, kata, dan perbuatannya sama?

Kalau bertanding di awal harus dikawal cawapres-nya, dimana rasa percaya dirinya? Rupanya filosofi tambahan tentang dua: kemana-mana kalau bisa berdua. Padahal, kalau berpikir dan bertindak itu hanya perlu satu kepala, satu hati untuk menggerakkan tangan, kaki, dan lainnya. Bukankah yg paling ideal itu yg satu hati, kata, pikiran, dan perbuatan? Menyapa lawan dan kawan, menggunakan bahasa tubuh yg akrab dimana saja, nilainya tidak kalah penting dgn kerja di lapangan. Jadi capres apalagi presiden memang perlu punya kemampuan minimal dalam keduanya.

– Sidrotun Naim-