Rekam Jejak

Prabowo : Banyak Yang Lebih Hebat dari Saya

By  | 

Namanya berkibar tak hanya di kalangan prajurit baret merah. Rakyat Timor Timur pun sangat kagum pada komandan yang selalu memperhatikan kesejahteraan anak buahnya itu. Tapi ia menolak kalau dianggap sering royal demi loyalitas anggota pasukannya. Soalnya, di mata Brigjen TNI Prabowo Subianto, tak seorang pun tentara yang mau mati demi uang.

Atau dengan kata lain, nyawa tentara hanya layak ditu­kar dengan kesetiaan kepada negara. Banyak ragam pendapat memang, tentang pangkat dan jabatannya yang cepat meroket. Pandangan yang positif menyebutkan, Komandan Kopassus yang baru diangkat menggantikan Brigjen TNI Subagio itu memang sangat layak menjadi jenderal karena kemampuannya. Tapi, ada juga suara minor yang menghu­bungkan karier Prabowo karena ia menantu Presiden.

Tahun demi tahun terus berlalu. Bersama itu pula, satu demi satu lahir jenderal baru. Seperti yang terjadi pada 1 Desember 1995, lahir seorang jenderal yang selama ini menjadi perbincangan banyak kalangan. Dialah Brigjen Prabowo Subianto, lulusan Akabri tahun 1974 yang dipromosikan menjadi Komandan Pasukan Khusus ke-15, menggantikan pendahulunya, Brigjen TNI Subagio Hadisiswoyo.

Menjadi Komandan Kopassus, yang rata-rata berlangsung satu sampai lima tahun, memang bukan hal luar biasa. Tapi, ketika Prabowo hadir di puncak pimpinan Pasukan Baret Merah, terasa ada nuansa “lain”. Itu bukan hanya karena lelaki kelahiran Jakarta, 17 Oktober 1951, itu meru­pakan salah satu putra “Begawan Ekonomi” Profesor Sumitro Djojohadikusumo. Juga bukan lantaran ia menikahi Siti Hediyati Heriyadi Soeharto, salah seorang putri Presiden Soeharto.

Pernah ia dinyatakan hilang selama beberapa hari, hingga akhirnya ditemukan dalam keadaan pingsan dan tubuhnya sudah dikerubuti ulat.

Lebih dari itu, karena Prabowo memang memiliki “nilai lebih” dibandingkan dengan para perwira seangkatannya. Perkara kelebihannya itu bukan hanya diungkapkan oleh para prajurit yang menjadi anak buahnya, tapi juga oleh banyak perwira tinggi yang pernah menjadi komandannya. Bahkan, pujian sebagai prajurit yang berani dan cerdas pun banyak mengalir dari kalangan sipil. “Prabowo itu prajurit yang meyakinkan,” ujar Komandan Kodiklat AD, Mayjen Hendro Priyono. Alasannya, pada diri Prabowo terintegritas unsur intelektual, ketangkasan, dan mental yang kualitasnya tinggi. Dedikasinya 100. “Sudah deh, untuk saat ini tak ada yang lebih pantas selain dia,” kata Hendro, yang mengaku kenal Prabowo sejak taruna.

“Puja-puji” semacam ini sebenarnya bukanlah hal baru. Hal itu sudah berlangsung ketika ayah satu putra ini menyandang pangkat letnan dua dan bertugas dalam aksi penumpasan Fretilin di Timor Timur. Pernah ia dinyatakan hilang selama beberapa hari, hingga akhirnya ditemukan dalam keadaan pingsan dan tubuhnya sudah dikerubuti ulat.

Begitupun ketika baru menikah empat bulan, saat pasukannya dikepung Fretilin. Prabowo sempat menghilang selama 14 jam. Selidik punya selidik, ternyata ia bersembunyi di sebuah lubang, karena ilalang tempatnya bersembunyi dikepung musuh dan dibakar. “Dari segi intelektual dan keprajuritan, dia memang bagus. Syukurlah kalau dia yang jadi komandan,” komentar Letjen (Pur.) Dading Kabualdi, salah seorang bekas komandan Prabowo. Sayang, ia tak mengenal Prabowo lebih dekat karena jauhnya perbedaan pangkat di antara mereka berdua. Yang diingat Dading, ia beberapa kali memberikan perintah langsung kepada perwira muda Prabowo melalui radio.

Tak bisa disangkal lagi, memang di Timtim lah mula-mula Prabowo mendapat nama besar. Seperti yang pernah dituturkan salah seorang anak buahnya pada tahun 1976. Kendati baru berpangkat letnan dua, ia sudah memiliki pengaruh kuat di kalangan pasukan yang dipimpinnya. “Pak Prabowo itu beda dengan komandan lainnya. Dia bukan hanya sangat dekat dengan prajurit seperti kami, tapi juga mampu menenteramkan hati para anak buahnya,” kata seorang anggota Kopassus berpangkat prajurit dua.

Salah satu contohnya, ketika itu banyak prajurit yang frustrasi karena terlalu lama di Tim-tim, atau kesal lantaran pasukan yang akan menggantikannya terlambat datang. Saking kesalnya, tak jarang mereka menembakkan senjatanya ke berbagai arah sebagai pelampiasan. Nah, menurut sang prajurit tadi, Prabowo bisa dengan mudah menenangkan prajurit yang frustrasi. Ditambah lagi, “Bapak juga selalu memperhatikan kesejahteraan kami,” katanya.

Kalau punya uang lebih, semuanya dia gunakan untuk kesejahteraan dan fasilitas anak buahnya,” katanya.

Nah, perkara perhatian ekstranya terhadap kese­jahteraan anak buah itu ternyata tak hanya dirasakan para prajurit, tapi juga terlihat jelas oleh para komandannya pada masa lalu. “Prabowo memang orang yang tepat dan pantas menduduki jabatan itu,” komentar Mayjen Adang Ruhiatna, Asisten Teritorial Kasad. Ia menganggap begitu, bukan hanya karena Prabowo merupakan perwira tangguh dan berwawasan luas, tapi juga gila kerja. “Hidup orang itu, dari hari ke hari, dari jam ke jam, hanya untuk prajurit,”’ katanya.

Hanya untuk prajurit? Betul. Buktinya, kendati masih pengantin baru, ia tak menolak untuk kembali bertugas di Timtim. Bahkan, kata Adangl, bukan hanya sebagian besar waktu dan perhatiannya ditumpahkan untuk pasukan, tapi materi yang dimilikinya pun acap dialirkan buat anak buahnya. “Kalau punya uang lebih, semuanya dia gunakan untuk kesejahteraan dan fasilitas anak buahnya,” katanya.

Keistimewaan lain yang dilihat Adang pada Prabowo adalah kemampuannya membangkitkan motivasi anak buah. Misalnya, ketika Prabowo menjadi anak buahnya, dan diberi tugas memimpin Batalyon 328, kemudian menjadi Kepala Staf Brigade (Kasbrig). Sebelum ditangani Prabowo, batalyon itu dalam kondisi kacau. Moral para prajuritnya sedang jatuh. Tapi, setelah dipimpin Prabowo, “Semua prajurit seakan bangkit kembali. Sampai-sampai tak ada orang yang tak kagum pada batalyon itu. Dan sampai kini, semua orang di batalyon itu bangga menjadi anggota 328,” kata Adang mengenang.

“Kalau dia bukan anak bekas menteri atau menantu Presiden, mungkin naiknya akan lebih cepat dari sekarang,” kata Adang lagi.

Hanya, seperti digunjingkan banyak kalangan selama ini, kendati berprestasi, Prabowo termasuk prajurit yang dianggap terlalu cepat naik pangkat. Untuk mencapai pangkat brigadir jenderal (dari letnan dua), ia hanya membutuhkan waktu 11 tahun. Maka, dari lulusan Akabri 1974, ia menjadi salah satu perwira yang paling awal mendapat bintang.

Tapi, lain orang lain pula penglihatannya. Pandangan Adang Ruhiatna justru sebaliknya. “Cepat apa? Menurut saya, dia itu justru terlalu lama di lapangan. Jadi komandan batalyon saja empat tahun. Bayangkan,” katanya. Jadi, Adang melihat, kenaikan pangkat Prabowo terlalu lambat. Padahal, sudah lama ia memiliki berbagai persyaratan yang dibutuhkan untuk menjadi Komandan Kopassus. “Kalau dia bukan anak bekas menteri atau menantu Presiden, mungkin naiknya akan lebih cepat dari sekarang,” kata Adang lagi.

Memang, sebagai bekas komandannya, Adang juga tahu masih banyak teman seangkatan Prabowo yang “ketinggalan kereta”. Bahkan tak sedikit dari seniornya yang masih berpangkat letnan kolonel. “Tapi itu biasa. Dari semua angkatan, yang benar-benar dianggap ‘bintang’ bisa dihitung dengan jari,” katanya. Di angkatan 1973 (setahun di atas Prabowo), misalnya, hanya ada Bambang Yudhoyono, yang bulan lalu dinaikkan pangkatnya menjadi brigjen.

Tapi, ya itu tadi. Tak semua orang, memang, bisa mero­ket seperti Prabowo dan Bambang. Dan itu wajar. Apalagi Prabowo memiliki banyak nilai plus, misalnya kemam­puannya menguasai bahasa Inggris, Perancis, Jerman, dan Belanda, serta pengetahuannya yang luas. ABRI di era globalisasi memang dibutuhkan orang seperti dia. Jadi, “Kalau promosi kenaikan pangkat harus urut kacang (maksudnya berdasarkan angkatan), kapan kita bisa maju?” tanya Adang.

Kalau diteliti secara seksama, sebenarnya karier Prabowo tak semulus yang dilihat orang. Ketika menjadi taruna Akabri, misalnya, ia kerap mendapat hukuman karena sering tidak memahami perintah komandan. Itu acapkali terjadi terutama ketika ia masih duduk di tingkat satu. Maklum, sebelumnya, pemuda Prabowo hidup di luar negeri, sehingga bukan hanya gaya kebarat-baratannya yang masih tampak waktu itu, kemampuan berbahasa Indonesianya pun masih “belepotan”.

Hal itu, misalnya, pernah dituturkan Mayor Poltak Manurung, salah seorang dosen Akabri, kepada majalah Tempo 12 tahun lalu. Ketika baru masuk, katanya, Prabowo sangat sulit memahami bahasa Indonesia. Apalagi kalau yang memerintah atau mengajaknya berbicara menggunakan istilah daerah. Maka, “Buat dia, sampai perlu diadakan les bahasa Indonesia,” tutur Manurung.

Biarlah orang menilai macam-macam. Yang penting saya harus bisa menunjukkan hasil kerja. Banyak memang yang mengait-ngaitkan karier saya dengan posisi saya sebagai menantu Presiden. Tapi, mau apa lagi? Saya memang menantu Presiden. Itu kenyataan.”

Namun, kesulitan komunikasi bukanlah satu-satunya hambatan yang dihadapi Prabowo di Akabri. Untuk mena­namkan disiplin pun, pemuda itu harus berjuang keras. Soalnya, ia pernah harus membayar mahal untuk sebuah pelanggaran. Tepatnya, ketika di Akabri, pangkatnya pernah diturunkan setingkat gara-gara ia keluar dari garnisun.

Ceritanya, pada suatu ketika, para taruna memperoleh cuti ke Yogya, tapi Prabowo malah menggunakan kesempatan itu untuk nyelonong ke Jakarta. Itulah sebabnya, ketika lulus, ia kalah cepat setahun dibanding Bambang Yudhoyono.

Penunjukan Anda sebagai Komandan Kopassus memperoleh perhatian besar dari berbagai kalangan.

Ya, benar. Saya juga melihatnya begitu. Tapi, kita tak boleh bilang itu karena saya Prabowo. Banyak yang lebih hebat dari saya. Saya sendiri hanyalah bagian kecil dari totalitas ABRI. Sangat  kecil. Siapa pun, para komandan, pimpinan, bahkan Panglima ABRI sekalipun, itu hanya merupakan bagian kecil dari ABRI. Itu yang besar. Sehingga, ada pergantian komandan saja menimbulkan perhatian ekstra dari masyarakat.

Jadi …?

Saya ini tak perlu ditonjol-tonjolkan. Semua orang sudah tahu Prabowo. Yang perlu ditampilkan itu yang kecil-kecil. Itu tidak ada orang yang mau tahu. Padahal, mereka itulah yang bekerja mati-matian. Kalau tak ada mereka, saya bukan apa-apa.

Maksudnya?

Banyak teman saya yang mati terbunuh di Timtim. Bahkan ada teman saya yang mati sebelum sempat menjadi letnan. Saya sendiri sangat bersyukur karena sampai sekarang masih diberi hidup.

Pengangkatan Anda itu juga menuntut tanggung jawab yang besar. Dan merupakan beban

Sekali lagi saya minta, tolonglah jangan dibesar­-besarkan. Saya belum berbuat apa-apa. Saya mau bekerja dulu. Bukannya saya sok, ya. Saya berterima kasih atas perhatian pers. Saya hanya mohon diberi kesempatan untuk berkonsentrasi.

Pengangkatan itu merupakan tantangan berat?

Ya. Saya ditantang untuk kerja berat. Tapi saya tidak takut. Bagi saya, posisi baru itu merupakan kesempatan untuk mengabdi. Pokoknya, apa saja yang saya kerjakan tidak untuk yang lain kecuali demi Merah-Putih, itu saja.

Selama ini, banyak gunjingan orang tentang Anda…

Biarlah orang menilai macam-macam. Yang penting saya harus bisa menunjukkan hasil kerja. Banyak memang yang mengait-ngaitkan karier saya dengan posisi saya sebagai menantu Presiden. Tapi, mau apa lagi? Saya memang menantu Presiden. Itu kenyataan.

Soal mulusnya kenaikan pangkat Prabowo, yang banyak dikaitkan orang dengan keberadaannya sebagai orang yang dekat dengan puncak kekuasaan, dikomentari pula oleh Mayjen Hendro Priyono, bekas Pangdam Jaya itu.Prabowo itu menantu Presiden sekaligus putra bekas menteri. Tapi dia tetap tentara tulen dengan segala kelebihannya, kata Hendro.

Ada yang bilang, Anda sering memberi uang ke anak buah, sehingga mereka menjadi sangat loyal kepada Anda.

Ya, memang banyak yang menuduh saya begitu. Menurut saya, itu tuduhan orang gila.

Kenapa?

You pernah perang tidak? Tidak mungkin ada orang yang mau mati hanya untuk uang. Tidak ada prajurit yang mau mati seperti itu. Tentara itu baru mau mati kalau demi kesetiaannya kepada negara.

Lantas, apa rencana Anda di Kopassus?

Nantilah, kalian akan saya undang kalau Kopassus bikin kegiatan atau punya konsep baru. Bagi saya, pers merupakan mitra dialog. Tapi bukan hanya dengan Anda, dengan siapa pun saya siap berdialog, asal demi kemajuan. Saya terbuka.

Wajar, memang, jika Prabowo terlihat sebagai tentara yang menganut prinsip demokrasi. Soalnya, jauh sebelum memasuki dunia ABRI, ia hidup di lingkungan masya­rakat yang selalu bersikap blak-blakan. Sejak masa kanak­-kanak, ia menghabiskan waktunya di luar Indonesia, mulai dari Singapura, Malaysia, Thailand, lalu Hongkong, Swiss, kemudian Inggris. Maklum, waktu itu, ayahnya dituduh bersekongkol dengan PRRI/Permesta dan berselisih paham dengan Bung Karno, sehingga Sumitro memutuskan untuk meninggalkan tanah air.

Di tempat-tempat yang menjadi “pertapaan” ayahandanya itulah, Prabowo kecil menempa dirinya menjadi seorang pemuda demokrat. Ia, misalnya, kuat berlama-lama menyimak perdebatan yang berlangsung di parlemen Inggris. Kegemaran lain putra ketiga dari empat bersaudara itu adalah membaca buku.

Tentang kepulangannya ke korps baret merah, ada ceritanya tersendiri. Sutiyoso, yang ketika itu menjabat Wakil Komandan Kopassus, membutuhkan waktu lama untuk menarik Prabowo kembali. Soalnya, konon, Prabowo itu telah “diperebutkan” banyak panglima. “Saya tahu persis, siapa Prabowo dan bagaimana kemampuannya,” kata Brigjen Sutiyoso, yang kini menjabat Kasdam Jaya.

Selain itu, ia juga cukup dikenal sebagai pelari dan perenang yang andal. Belakangan, hobinya bertambah dengan terjun payung dan panjat tebing. Yang menarik dari Prabowo, ia tak segan-segan belajar, bahkan dari orang yang usianya lebih muda. Dalam latihan panjat tebing, contohnya, Prabowo dan anak buahnya di Kopassus tidak “malu” belajar dari kelompok Skygers, sebuah perkumpulan panjat tebing yang dipimpin anak-anak muda dari Bandung.

Sekembalinya ke tanah air, bersama keluarga, 1967, sebentar ia sempat aktif dalam kegiatan KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia). Dasar anak cerdas, setelah mengikuti penyesuaian SMA selama setahun, Prabowo langsung tes di Akabri (1970) dan langsung diterima. Tapi bukan hanya di sana ia bisa lolos. Pada saat yang sama, ia juga diterima di Universitas Colorado dan Berkeley, Amerika Serikat.

Tapi, tak seperti ayahnya, Prabowo tak hendak menjadi ekonom. Ia tetap teguh pada cita-citanya sejak kecil, yakni mengikuti jejak Letnan Sujono dan Sersan Subianto, yang gugur bersama Daan Mogot saat revolusi fisik di Tangerang. Di Akabri, kendati sempat turun pangkat, ia dikenal sebagai taruna yang tak mau menelan mentah-mentah setiap materi pelajaran yang diberikan para gurunya.

Dalam perkuliahan, Prabowo hampir selalu mendebat setiap materi yang dianggapnya tidak pas. Lebih dari itu, ia juga dikenal sebagai mahasiswa yang tekun mendengar tapi jarang mencatat. “Tapi, pas ujian, hasilnya baik,” kata Mayor Poltak Manurung. Kelebihan lainnya sebagai taruna adalah, karena ia fasih berbahasa asing, Prabowo sering bertindak sebagai pemandu setiap ada tamu dari luar negeri.

Lulus dari Akabri, Letda Prabowo langsung terjun ke Timtim dengan bendera RPKAD (nama Kopassus saat itu). Baru setelah menjadi Wakil Komandan Detasemen 81, sebuah unit antiteroris di Kopassus, dengan pangkat mayor, ia dialih-tugaskan ke korps baret hijau, Kostrad. Di situlah ia menjadi anak buah Adang Ruhiatna, hingga menduduki jabatan Kepala Staf Brigade Lintas Udara 17.

Pada 1993, ia pulang kandang ke Kopassus untuk menjadi Komandan Grup 3, yang menangani Pusat Pendidikan Pasukan Khusus. Selanjutnya, November 1994, ia naik menjadi Wakil Komandan Kopassus, hingga bulan November.

Tentang kepulangannya ke korps baret merah, ada ceritanya tersendiri. Sutiyoso, yang ketika itu menjabat Wakil Komandan Kopassus, membutuhkan waktu lama untuk menarik Prabowo kembali. Soalnya, konon, Prabowo itu telah “diperebutkan” banyak panglima. “Saya tahu persis, siapa Prabowo dan bagaimana kemampuannya,” kata Brigjen Sutiyoso, yang kini menjabat Kasdam Jaya.

Seperti halnya Adang Ruhiatna, Sutiyoso pun menganggap Prabowo sebagai sosok tentara profesional yang sarat referensi. Perhitungan itu terbukti ketika ia diserahi tugas memimpin Grup 3. Ketika itu, Prabowo berhasil menyusun kurikulum pendidikan yang diselenggarakan di Batujajar, Bandung, sedemikian rupa, sehingga menarik minat tentara asing untuk ikut berlatih di situ.

Tentu, sebuah ajang pendidikan tak akan menarik jika tak memiliki sarana dan prasarana yang lengkap. Sedangkan pemerintah, cerita Sutiyoso, tak memiliki dana yang cukup. Nah, “Untuk mengurus perkara dana yang kurang itu pun, Prabowo sanggup melakukannya,” kata Sutiyoso kepada Wahyu Muryadi dari FORUM.

Sudah bisa dipastikan, kemampuan Prabowo menyusun kurikulum pendidikan Kopassus itu tidak hanya diperolehnya dari buku-buku berbahasa asing yang dibacanya. Juga bukan hanya karena ia pernah mengikuti pendidikan militer di luar negeri. (Ia adalah lulusan terbaik dari US Army Special Force, US Army Infantry School, dan pendidikan antiteroris di Jerman Barat). Lebih dari itu, kurikulum tersebut disusun berdasarkan pengalaman langsungnya di medan tempur.

Memang, bukan hanya di Timtim Prabowo memperoleh pengalaman berperang. Ia juga terlibat dalam operasi di Irian Jaya (penumpasan Organisasi Papua Merdeka, OPM) dan di Kalimantan (PGRS/Paraku). Tapi, bintang terangnya tetap ada di Timtim.

Persis pada malam tahun baru 31 Desember 1978, misalnya, Tim Nanggala 18 yang dipimpinnya berhasil menembak mati Presiden Fretilin Nicolao Labato, dan seorang panglimanya, Guido Soares.

Salah satu kepedulian Prabowo pada masyarakat Timtim, misalnya, terlihat ketika ia mengambil puluhan putra daerah itu untuk dijadikan anak angkat. Menurut Abilio Jose Soares, Gubernur Timor Timur, ada belasan anak Timtim yang berhasil masuk Akabri, yang beberapa di antaranya disekolahkan Prabowo sejak SD.

Kedua tokoh Fretilin itu, menurut Lopes Da Cruz, salah seorang pemimpin fraksi prointegrasi di Timtim saat itu, memang sangat dicari ABRI. Dalam perburuan, kata Lopez, ABRI melancarkan “Operasi Betis” yang melibatkan puluhan batalyon. Ternyata, Prabowolah yang berhasil menembus markas Fretilin. “Saya tidak tahu, siapa yang menembak Labato. Tapi, sejak itu, nama Prabowo menjadi sangat terkenal di Timtim,” katanya.

Atas prestasi itulah, Prabowo dan seluruh pasukannya mendapat kenaikan pangkat luarbiasa, yang langsung disematkan oleh Pangab Jenderal M. Yusuf. “Kau harus menjadi orang besar seperti ayahmu,” pesan Pangab ketika itu.

Tak lama kemudian, setelah berhasil menumpas sisa­-sisa Fretilin, Prabowo kembali memperoleh kenaikan pangkat luar biasa, dari mayor ke letnan kolonel. Bahkan, Yon 328 yang dipimpinnya dinobatkan menjadi batalyon terbaik. Nah, dengan dua kali kenaikan pangkat istimewa plus pengabdiannya yang habis-habisan, “Coba, siapa lagi yang pantas menjadi Komandan Kopassus kalau bukan dia,” kata Kasad Jenderal Hartono, yang mewakili Pangab dalam peryematan bintang pertama bagi Prabowo.

Cuma, bukan hanya di hati anak buah dan komandannya pamor Prabowo berbunga. Ia juga sukses dalam merebut hati masyarakat Timtim. “Dia itu punya perhatian yang luar biasa terhadap rakyat Timtim,” kata Lopez, yang mengenal Prabowo pada 1975, ketika kelompok prointegrasi bertemu dengan ABRI.

Salah satu kepedulian Prabowo pada masyarakat Timtim, misalnya, terlihat ketika ia mengambil puluhan putra daerah itu untuk dijadikan anak angkat. Menurut Abilio Jose Soares, Gubernur Timor Timur, ada belasan anak Timtim yang berhasil masuk Akabri, yang beberapa di antaranya disekolahkan Prabowo sejak SD.

Tapi, kepeduliannya itu tidak hanya terbatas pada anak-anak angkat semata. Ketika PON IX berlangsung di Jakarta, misalnya, Prabowo dengan senang hati membawa semua atlet Timtim berjalan-jalan dan berkunjung ke rumahnya. Kebetulan, ayahnya juga merestui langkah anak ketiganya itu. Bahkan mendukung. Karena, Prof. Sumitro pun menyediakan rumahnya untuk menampung anak-anak Timtim untuk disekolahkan sekaligus dicarikan pekerjaan.

Tak bisa disangkal lagi, bukan hanya Sumitro yang bangga terhadap putranya. Presiden Soeharto pun tampaknya terkesan pada menantunya itu. Ketika mempersiapkan pernikahan Prabowo dengan Siti Hediyati Heriyadi, misalnya, Pak Harto turun tangan langsung mengatur pelaksanaan pesta, dan turut memasang tarub di depan rumahnya di Jalan Cendana. Kenapa? Itu mungkin karena, “Bapak kan tentara. Tapi anak-anaknya tak ada yang jadi tentara. Ya, jadinya senang juga,” komentar Ny. Prabowo kepada Tempo, saat pernikahannya berlangsung.

Kini, setelah menjadi Komandan Kopassus, akankah perhatian Prabowo pada rakyat Timtim berubah? Mudah-mudahan tidak. Itulah harapan Lopes Da Cruz. Soalnya, menurut Lopes, perwira tinggi itu sudah kadung lekat di hati masyarakat Timtim. Dan Lopes pun berdoa, “Mudah-mudahan, dengan menjadi Komandan Kopassus, dia bisa melakukan pendekatan pada masyarakat dengan lebih intensif,” kata bekas Presiden UDT yang prointegrasi itu.

Lagi, sebuah tuntutan dan tanggung jawab yang harus dipikirkan oleh sang brigadir jenderal. (Budi Kusumah, Karni Ilyas,Tony Hasyim dan Hanibal W.Y.W.)

*) Dimuat dalam Majalah FORUM No. 18/Th. IV, 18 Desember 1995