Opini

Prabowo dan Jejak Politik Islam di Indonesia

By  | 

Salemba pada tahun 1930 merupakan kawasan permukiman elite. Di kawasan itu pula keluarga Margono Djojohadikusumo tinggal. Namun, berbeda dengan keluarga elite lainnya di kawasan itu, atau perilaku keluarga elite pada umumnya di zaman itu, keluarga Margono rutin mengadakan pengajian dan mendatangkan guru agama ke rumahnya. Menurut Margono, pelajaran agama itu penting bagi anak-anak, terutama bagi para pelajar yang sekolah dimana pelajaran agama sama sekali tidak diberikan di dalamnya. Malah, menurut Margono, sekolah-sekolah yang ada pada zaman itu memiliki tendensi untuk menjauhkan anak-anak dari agama.

Mohammad Roem pernah memberikan ulasan yang menarik kenapa sekolah-sekolah Belanda telah menjadi perantara yang menjauhkan kaum terpelajar Bumiputera dari pengetahuan agama yang memadai. Sedikitnya jumlah sekolah lanjutan, yang itupun hanya terdapat di kota-kota besar seperti Batavia, Bandung dan Surabaya, menurutnya telah membuat mereka yang bisa melanjutkan pendidikan akhirnya jadi tercerabut dari pendidikan agama dalam keluarga. Itu yang menyebabkan kenapa kemudian banyak kaum terpelajar Bumiputera berpandangan nyinyir terhadap agama. Karena mereka memang tidak memiliki cukup pengetahuan mengenai agama.

Kembali ke kisah keluarga Margono, pengajian dan pemberian pelajaran agama itu pada mulanya dimaksudkan untuk memberikan pelajaran agama bagi anak-anaknya, anak-anak koleganya, dan anak-anak tetangganya. Belakangan, pengajian itu juga diikuti oleh ibu-ibu yang tinggal di sekitar rumahnya.

Seperti yang pernah ditulis oleh Mohammad Roem, pengajian sebagaimana yang diadakan oleh keluarga Margono pada zaman itu adalah sesuatu yang tidak lazim pada masanya. Apalagi mengingat bahwa keluarga Margono adalah keluarga intelektual dan elite, yang pada masa itu identik dengan cara pandang sekuler. Karena merupakan pengajian kaum elite, maka ceramah dan pelajaran agama yang diberikan pun dilakukan dalam bahasa Belanda. Tokoh yang sering diundang ceramah di rumah keluarga Margono adalah H. Agus Salim.

Menurut Roem, keberanian Margono untuk mengundang H. Agus Salim mengisi acara-acara di rumahnya juga merupakan hal yang istimewa. Mengingat, pada masa itu Agus Salim adalah tokoh politik yang tidak disukai oleh pemerintah kolonial, sehingga banyak orang merasa takut untuk berhubungan dengannya.

Namun tidak demikian halnya dengan Margono, meskipun Margono sendiri adalah seorang birokrat dalam pemerintahan kolonial, yaitu merupakan Inspektur Koperasi. Ia sangat terbuka terhadap sesepuh Jong Islamieten Bond tersebut. Roem sendiri sering ikut H. Agus Salim dalam pengajian-pengajian yang diadakan di rumah Margono itu.

Dalam buku “Cendekiawan Islam Zaman Belanda” (1990), yang ditulis Ridwan Saidi, Agus Salim disebut sebagai pelopor dalam penyiaran Islam secara modern di Hindia Belanda. Ia, misalnya, adalah orang pertama yang berani menuliskan naskah khutbah Jumat dalam huruf latin berbahasa Belanda, yang kemudian dimuat dalam surat kabar yang dikelolanya. Agus Salim pula yang pertama kali berani memberikan terjemahan bahasa Belanda atas ayat-ayat al Quran, yang pada masa itu masih dianggap “terlarang” oleh sebagian ulama.

Relasi antara Margono, Agus Salim dan Roem ini menurut saya menarik. Agus Salim berusia sepuluh tahun lebih tua dari Margono, dan Roem berusia empat belas tahun lebih muda dari Margono. Roem kelak menjadi salah satu tokoh Masyumi, sementara keluarga Margono, tentu saja melalui Sumitro Djojohadikusumo, salah satu anaknya, merupakan penyokong dan merupakan tokoh pimpinan PSI (Partai Sosialis Indonesia).

Jika kita mundur kembali ke belakang, koalisi antara PSI dengan Masyumi pada masa Demokrasi Parlementer, selain karena kedua partai itu sama-sama banyak disokong oleh kaum terpelajar, sebenarnya juga terjadi karena relasi interpersonal di antara elite-elitenya. Sjafruddin Prawiranegara, misalnya, yang merupakan salah satu tokoh Masyumi, oleh Sjahrir pernah dianggap sebagai salah satu “murid terbaiknya”, meskipun Sjafruddin enggan memilih PSI yang dipimpin Sjahrir sebagai wadah politiknya. Agus Salim sendiri, meskipun bukan orang Masyumi, merupakan tokoh Islam yang dihormati oleh Masyumi. Dan meskipun pasti bukan tokoh PSI, ia adalah kerabat sepuhnya Sjahrir.

Di situ pula rekam jejak pengajian keluarga Margono memainkan peran diplomasi politik penting. Menurut Dawam Rahardjo, Natsir sangat mudah menerima PSI karena faktor Sumitro. Dalam pandangan Natsir, Sumitro dianggap sebagai tokoh PSI yang religius. Berbeda dengan Sjahrir, yang tak mau disebut atheis, tapi juga tidak terlalu suka diasosiasikan sebagai cendekiawan muslim, religiusitas dan identitas Islam tidak pernah dibuang oleh Sumitro. Secara kebetulan, Sumitro adalah anak Margono. Itu yang membuatnya disukai oleh orang-orang Masyumi. Apalagi dia juga sangat menghormati Natsir.

Relasi sejarah itu pula yang telah “menyelamatkan” Prabowo sewaktu dirinya menjadi taruna Akmil. Ketika Prabowo menjadi taruna junior, menurut sejumlah kesaksian dia memang sering dijadikan obyek risak oleh para seniornya. Dia sering dijadikan obyek risak terutama karena bahasa Indonesianya waktu itu masih terbata-bata. Prabowo memang melewatkan sebagian masa kecil dan seluruh masa remajanya di luar negeri. Latar belakangnya yang berasal dari keluarga elite, anak menteri, juga menjadi alasan kenapa ia pernah jadi bulan-bulanan seniornya.

Tapi, menurut kesaksian Djoko Santoso—mantan Panglima TNI, di Akmil itu pula Prabowo mendapatkan teman-teman baru yang kemudian melindunginya. Ia mendapat perlindungan dari para taruna senior yang berasal dari keluarga santri. Salah satunya adalah Kivlan Zen. Para taruna senior yang melindungi Prabowo itu, menurutnya, umumnya berasal dari keluarga Masyumi. Mereka sangat menghormati Prabowo karena ia adalah anak Sumitro, yang merupakan kawan baik Natsir.

Cerita terakhir barangkali bersifat anekdotal. Namun, cerita itu bisa ikut menjelaskan kenapa Prabowo, seorang jenderal militer yang tak punya latar belakang keluarga santri, kemudian bisa memiliki asosiasi yang kuat dengan kelompok politik Islam, terutama gerakan politik yang dibangun oleh kelas menengah Muslim. Membaca kembali semua kisah tadi, asosiasi itu cukup jelas tak terbangun begitu saja sejak kemarin sore, tetapi telah memiliki jejak sejarah yang panjang.

Jakarta, 24 April 2018 Jam 20.06
Tarli Nugroho