Seputar Prabowo

Prabowo di Mata Catatan Seorang Demonstran Soe Hok Gie

By  | 

Seandainya masih hidup, entah apa komentar tokoh muda Angkatan ’66 – Soe Hok Gie yang meninggal dunia dalam pendakian Gunung Semeru, Jawa Timur, tanggal 16 Desember 44 tahun silam, dalam usia 27 tahun, ketika mengetahui sahabatnya Prabowo Subianto yang dibilang kanak-kanak itu mencalonkan diri sebagai Presiden Indonesia 2014.

Dalam buku “Catatan Seorang Demonstran”, tertanggal 25 Mei 1969, Gie menuliskan, bagi saya Prabowo adalah seorang pemuda (atau kanak-kanak) yang kehilangan horizon romantiknya. Karena Gie menilai Bowo panggilan akrab Prabowo waktunya habis untuk urusan organisasi sehingga tidak terlalu memikirkan urusan asmara seperti kebanyakan ABG pada umumnya. Saat itu Prabowo berusia 18 tahun, terpaut 9 tahun dengan Gie yang kelahiran 17 Desember 1942, makanya dibilang kanak-kanak. Entah waktu itu Prabowo tidak kepergok pacaran atau waktunya sibuk oleh aktivitas organisasi, Gie pun menggoreskan catatannya, “Ia cepat menangkap persoalan-persoalan dengan cerdas tapi naïf. Kalau ia berdiam 2-3 tahun dalam dunia nyata, ia akan berubah.”

Dalam catatan harian tanggal 29 Mei 1969, adik dari tokoh demonstran Arief Budiman ini menuliskan, dari pagi keluyuran dengan Prabowo ke rumah Atika, ngobrol dengan Rachma, dan membuat persiapan-persiapan untuk pendakian Gunung Ciremai. Meski usianya terpaut 9 tahun menunjukkan bahwa keduanya berteman akrab. Kini, bahwa sahabatnya yang dipanggil Bowo itu mencalonkan diri sebagai Presiden 2014.

Gie telah tiada. Semasa hidupnya, Gie yang kuliah Jurusan Sastra – Universitas Indonesia, selain punya hobi mendaki gunung, penulis yang sangat kritis, juga dikenal sebagai intelektual, aktivis kampus dan tokoh demonstran Angkatan ’66. “… ditengah-tengah pertentangan politik, agama, kepentingan golongan, ia tegak berdiri di atas prinsip prikmanusiaan dan keadilan serta secara jujur dan berani menyampaikan kritik-kritiknya atas dasar prinsip-prinsip itu demi kemajuan bangsa,” tulis Harsya W. Bachtiar, Dekan Fakultas Sastra – UI, di harian Kompas, 26 Desember 1969.

Sementara Pembantu Rektor UI – Nugroho Notosusanto menuliskan bahwa Soe Hok Gie adalah seorang yang jujur dan berani. Dan mengerikan, karena ia maju lurus dengan prinsip-prinsipnya tanpa kenal ampun. Maka sringkali ia bentrol karna dianggap tidak taktis. Entah bagaimana komentar Prabowo Subianto, mengenai sosok sahabatnya ini, Soe Hok Gie.

Perjalanan hidup Gie sempat pula difilmkan oleh produser Mira Lesmana, berjudul “Gie”. Tanggal 16 Desember ini bertepatan 44 tahun meninggalnya Gie, kita diingatkan kembali pada sosok anak muda Gie dengan sebuah pertanyaan besar masih adakah spirit idealisme itu sebagaimana tulis Harsya W. Bachtiar?

Meski jasadnya sudah diperabukan dan ditebar ke laut, tapi setidaknya Gie masih meninggalkan kenangan salah satunya buku “Catatan Seorang Demonstran” dan batu nisan di pemakaman Belanda di Meseum Taman Prasasti – Jakarta Pusat, bertuliskan “Nobody knows the troubles I see nobody knows my sorrow…”

oleh : Alex Palit, Citizen Jurnalis, “Jaringan Pewarta Independen” dikutip dari harian tribunnews.

 

Comments are closed.