Berita

Prabowo-Hatta Gunakan Peci Sebagai Jati Diri dan Kebanggaan Bangsa

By  | 

Jakarta – Pasangan calon presiden (capres) Prabowo Subianto dan wakil presiden Hatta Rajasa selalu mengenakan peci dalam setiap kampanye pemilihan presiden (pilpres). Apa alasan kedua calon pemimpin bangsa tersebut selalu memakai peci?

Ternyata, Prabowo-Hatta memakai peci karena menjunjung tinggi titah Pemimpin Revolusi dan Proklamator Kemerdekaan RI Presiden Soekarno. “Peci adalah jatidiri bangsa Indonesia. Dan asli milik rakyat kita.” Begitu kata Bung Karno sebagaimana dikutip Tim Sukses (Timses) Prabowo-Hatta kepada INILAHCOM, di Jakarta, Rabu (18/6/2014).

“Karena itulah kami, capres cawapres Prabowo Hatta mengenakan peci. Jati diri dan kebanggaan Indonesia,” tandas timses tersebut.

Dia kemudian mengutip kisah Bung Karno yang bertekad mengenakan peci sebagai lambang pergerakan rakyat Indonesia dimaksud.

Berawal dari sekolah dokter pribumi, STOVIA, pemerintah kolonial punya aturan: siswa inlander (pribumi) tak boleh memakai baju Eropa. Maka para siswa pun memakai blangkon dan sarung batik jika dari Jawa. Bagi siswa asal Manado atau Maluku, yang beragama Kristen, boleh pakai pakaian Eropa: pantalon, jas, dasi, dan mungkin topi.

Dari sejarah ini, tampak usaha pemerintah kolonial untuk mengkotak-kotak kan penduduk dari segi asal-usul etnis dan agama. Banyak aktivis pergerakan nasional menolak memakai blangkon. Apalagi mereka umumnya bersemangat kemajuan, dan modernisasi. Jadi penolakan terhadap kostum tradisi mengandung penolakan terhadap politik kolonial (divide et impera) dan penolakan terhadap adat lama.

Lalu apa gantinya? Untuk pakai topi seperti Belanda-Belanda itu akan terasa menjauhkan diri dari rakyat. Pada Juni 1921, Bung Karno menemukan solusinya. Bung Karno datang, dan ia memakai peci. Awalnya Bung Karno ragu, takut ditertawakan. Tapi ia berkata pada dirinya sendiri, kalau mau jadi pemimpin, bukan pengikut, harus berani memulai sesuatu yg baru.

Waktu itu, menjelang rapat mulai, hari sudah agak gelap. Bung Karno berhenti sebentar. Ia berkata kepada diri sendiri: “Hayo maju. Pakailah pecimu. Tarik napas dalam-dalam. Dan masuk SEKARANG!!!. Kalau bukan sekarang kapan lagi. Kalau bukan kita, siapa lagi”.

Lalu Bung Karno pun masuk ke ruang rapat. “Setiap orang memandang heran padaku. Diam seribu basa”, kata Bung Karno mengenangkan saat itu.

Untuk mengatasi kekikukan, Bung Karno bicara. “Kita memerlukan suatu lambang daripada kepribadian Indonesia. Peci,” tegas Bung Karno pula. “Peci adalah jatidiri bangsa Indonesia. Dan itu asli milik rakyat kita”.

Itulah sebabnya capres-cawapres Prabowo-Hatta mengenakan peci sebagai jati diri dan kebanggaan Indonesia. [yeh -inilah.com]

Berikut adalah video kisah penggunaan peci di Indonesia.