Opini

Prabowo, Jangan Bikin Prof Soemitro Menangis

By  | 

INILAHCOM, Jakarta – Suatu hari awal 1970-an, Prof Dr Soemitro Djojohadikusumo berkunjung ke Harvard University di 86 Brattle Street, Cambridge, Amerika Serikat. Ayatullah ekonomi Indonesia itu mengantar putranya yang diterima di universitas bintang lima kelas dunia. Putra Prof Soemitro yang diterima di Harvard itu, Prabowo Subianto.

Menurut Prof Soemitro (sekarang sudah almarhum), Prabowo sangat ngotot ingin bersekolah di Harvard College. Padahal, Ny Dora Sigar Sumitro, ibundanya menginginkan agar Prabowo tetap bersekolah di Universitas Indonesia Jakarta. Di universitas ini Prof Soemitro adalah guru besar yang sangat disegani dan sulit dicari tandingannya. Dia adalah arsitek ekonomi Indonesia.

Rupanya Prof Soemitro penasaran melihat Prabowo yang sangat ngotot ingin tetap kuliah di Harvard. Lantas ia pun bertanya, apa yang ingin diraih Prabowo dengan sekolah di Harvard? Di luar dugaan Prof Soemitro, ini jawaban Prabowo: “Saya ingin jadi Presiden Republik Indonesia.”

Mendengar jawaban Prabowo yang agak mengejutkan itu, Prof Soemitro dengan gaya khasnya penuh canda bilang: “Kalau ingin jadi Presiden Republik Indonesia, kamu salah memilih sekolah. Sekolahan calon presiden Indonesia adanya di Magelang, di Akademi Militer.”

Menurut Prof Soemitro, mendapat jawaban seperti itu Prabowo mengurungkan niatnya masuk Universitas Harvard dan minta kembali ke Indonesia. Maka, Prabowo yang dilahirkan pada 17 Oktober 1951 ini pun masuk AKABRI. Prabowo lulus pada 1974.

Cerita Prof Soemitro tentang Prabowo ini menarik untuk direnungkan. Sejak muda Prabowo memang sudah memimpikan kursi presiden. Cara Prabowo mewujudkan mimpi ini pada awalnya cukup menarik dan strategis. Salah satunya adalah dengan memperistri Siti Hediati Hariyadi, putri keempat Presiden Soeharto. Presiden yang sangat berkuasa dan disegani kawan maupun lawan pada waktu itu.

Keputusan Prabowo memilih Titiek (panggilan akrab Siti Hediati Hariyadi) tergolong kontroversial dan berani juga. Sebab, di masa itu hubungan Presiden Soeharto dengan Menko Ekuin Prof Dr Soemitro Djojohadikusumo sedang kurang harmonis. Prof Soemitro adalah tokoh PSI (Partai Sosialis Indonesia) yang sangat prorakyat. Sedangan Pak Harto adalah embahnya Golkar yang sedang gencar mengibarkan ideologi kekaryaan. Sehingga penikahan Prabowo-Titiek ini sempat menimbulkan isu kawin politik pada waktu itu.

Tetapi, keputusan Prabowo yang kontroversial ini kemudian membawa hikmah antara lain hubungan Prof Soemitro dengan Pak Harto menjadi lebih harmonis dan karier militer Prabowo sangat moncer. Diakui atau tidak, cemerlangnya karier militer Prabowo bukan semata-mata karena dia cerdas, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh statusnya sebagai menantu Jenderal Besar Soeharto.

Kini Prabowo tengah kembali berjuang mewujudkan mimpinya. Dia sudah mendeklarasikan sebagai calon presiden dari Partai Gerindra, partai yang didirikannya. Berbagai cara dan ikhtiar sedang dilakukan Prabowo bersama adiknya, Hashim Djojohadikusumo, salah satu konglomerat Indonesia.

Tentu, Prof Soemitro akan bangga dan tersenyum di alam baka sana ketika menyaksikan putranya menempuh cara-cara terpuji dalam mewujudkan mimpinya menjadi Presiden RI. Cara-cara terpuji versi Prof Soemitro tentu kita tak tahu persis. Namun ada sifat-sifat Prof Soemitro yang bisa dijadikan referensi untuk merumuskan kata cara terpuji itu.

Sifat-sifat menonjol dari Prof Soemitro antara lain: Kukuh memegang prinsip kebenaran. Lurus dalam menjalankan amanat rakyat. Pembelaannya terhadap rakyat, bisa dilihat dari pemikiran-pemikiran Prof Soemitro mengenai koperasi dan pedagang lemah. Tegas dalam bersikap. Lugas dalam bertindak, tidak suka basa-basi. Sangat menyintai kawan dan menghormati lawan. Yang paling menarik, Prof Soemitro tidak arogan dan sangat bersahaja.

Khusus untuk dua sifat terakhir ini perlu dijelaskan sedikit. Sebagai Begawan Ekonomi Indonesia yang pemikirannya selalu dinanti banyak kalangan, tidak membuat Prof Soemitro menjadi jumawa dan merasa paling hebat. Pak Mitro mudah diwawancarai di mana pun sepanjang dia punya waktu. Prof Soemitro adalah narasumber yang sabar melayani pertanyaan bodoh sekali pun.

Kesederhanaan Prof Soemitro bisa dilihat dari pilihan-pilihan kendaraan operasional yang dia pakai sehari-hari. Sebagai besan Presiden Soeharto yang sangat berkuasa dan sebagai ayah konglomerat Hashim Djojohadikusumo, tak sulit bagi Prof Soemitro untuk mendapatkan mobil ternyaman dan termahal pada waktu itu.

Tetapi itu tidak menjadi pilihannya. Bahkan Volvo yang disediakan negara pun tidak dia pakai. Pilihan Prof Soemitro adalah mobil Toyota Starlet kotak sabun 1.300 cc buatan tahun 1984. “Saya merasa nyaman menggunakan mobil ini, bensinnya irit dan lincah,” ujar Prof Soemitro kepada penulis ketika ditanya mengapa Pak Mitro tak pakai Volvo saja?

Siapapun tentu tak bisa mencegah Prabowo melakukan apapun untuk mewujudkan mimpinya menjadi Presiden RI. Tetapi jika Prabowo dan timnya melakukan praktik-praktik politik tak terpuji seperti menghambur-hamburkan uang untuk membeli simpati dan suara rakyat, menyebar isu dan intrik, apalagi memfitnah lawan politik, tentu Prof Dr Soemitro Djojohadikusumo akan menangis di alam baka sana.

Prabowo, bikinkan Pak Mitro tersenyum, jangan bikin orang terhormat ini menangis……!?

oleh : Alfian Mujani, seperti di muat di inilah.com 20/2/2014 dengan judul yang sama