Rekam Jejak

Prabowo Korban Intrik Politik di Tubuh TNI 1998

By  | 

Mantan Pangdam V Brawijaya, Mayjen (Purn) TNI, Suwarno menilai Prabowo Subianto hanya sebagai korban politik 1998. Menyebarnya surat pemecatan atas Mantan Danjen Kopassus itu, akibat perebutan jabatan sebagai menteri pertahanan, Panglima TNI dan KASAD, di masa transisi pasca-reformasi 98.

“Akibat intrik politik itu, Prabowo diberhentikan dan diminta bercerai dengan istrinya. Saya tahu betul intrik politik di tubuh TNI. Saat Prabowo menjabat sebagai Pangkostrad, di tubuh ABRI sekarang TNI, muncul satu dinamika atau turbulance politik, dan yang dikorbankan adalah Prabowo ,” papar Suwarno usai acara deklarasi Buruh Jawa Timur dukung Prabowo – Hatta di Surabaya, Rabu (11/6).

Akibat dinamika politik ini, lanjut dia, membuat Prabowo diberhentikan. “Diberhentikan dengan hormat, bukan dipecat. Sampai hari ini Prabowo masih menerima pensiun. Tapi saya tidak tahu diambil atau tidak.”

Namun, kata mantan Komandan Paspampres ini, saat Prabowo mencalonkan diri sebagai presiden di Pilpres 2014, surat pemecatan muncul dengan tujuan untuk menjatuhkan Prabowo .

“Kenapa ini (surat pemecatan) muncul saat beliau mencalonkan diri sebagai presiden? Kenapa saat beliau maju sebagai calon wakil presiden mendampingi Ibu Mega ( Megawati Soekarnoputri ) pada Pilpres 2009 silam, ini tidak dibahas. Ini adalah intrik politik,” tegas dia mempertanyakan peredaran surat pemecatan Prabowo .

Ketua Dewan Pengarah Tim Pemenangan Prabowo – Hatta ini juga mengimbau, yang perlu dipikirkan saat ini adalah, akan dibawa ke mana bangsa ini, seperti apa sebaiknya bangsa ini ke depannya?

“Memimpin negara dan membawa kemajuan bangsa bukan getol melakukan black campaign, melainkan bagaimana membangun perubahan yang lebih baik. Baik prajurit maupun purnawiran lainnya, bukanlah orang yang bodoh. Mereka tentu mengetahui dengan jelas bagaimana track record para senior-seniornya,” papar dia.

Menurutnya, para purnawiran, baik TNI maupun Polri, wajib memberikan contoh yang baik kepada junior-juniornya yang masih aktif di militer. Suwarno mengaku melihat adanya kepentingan politik, menjadikan para senior-senior TNI, ikut terlibat dalam dukung-mendukung calon di Pilpres 9 Juli mendatang.

“Padahal, keluarga besar TNI ini diikat oleh sumpah prajurit, jiwa Korsa, dan Sapta Marga yang melekat di hati sanubari. Kami berharap jangan sampai jiwa ini luntur hanya untuk kepentingan sesaat yang mendukung pribadi seseorang dan bisa berdampak tidak bagus bagi keluarga besar TNI,” imbau dia. [hhw – merdeka.com]