Seputar Prabowo

Prabowo Subianto dan Jejak Sang Paman

By  | 

KARENA menolak perintah tentara pendudukan Jepang di Indonesia (1942-1945) untuk menggunduli kepala, sejumlah mahasiswa memilih keluar dari Sekolah Tinggi Kedokteran (Ika Daigaku) Jakarta. Mereka antara lain Soedjatmoko, Subianto Djojohadikusumo, dan M. Kamal.

Ketika pada Juli 1945 berdiri Sekolah Tinggi Islam (STI, kini Universitas Islam Indonesia, UII, Yogyakarta), sebagian mantan mahasiswa Ika Daigaku itu masuk STI. Mereka antara lain Suroto Kunto, Bagdja Nitidiwirja, dan Subianto.

Pada hari-hari menjelang proklamasi kemerdekaan, peranan Subianto cukup menonjol. Ia tercatat sebagai salah seorang yang turut mendesak Bung Karno dan Bung Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan.

Subianto yang aktif membrifing mahasiswa STI mengenai perkembangan terkini perjuangan bangsa merebut kemerdekaan, akhirnya didaulat menjadi Ketua Persatuan Pelajar (kemudian menjadi Dewan Mahasiswa, DEMA, dan Badan Eksekutif Mahasiswa, BEM) STI. Dalam kapasitasnya sebagai Ketua PP STI, Subianto turut mendorong terbentuknya Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) yang dideklarasikan pada 2 Oktober 1945.

Setelah proklamasi kemerdekaan, Subianto menjadi salah seorang kepercayaan Bung Hatta, dan berkiprah di dunia militer dengan pangkat Letnan.

Pada 25 Januari 1946, dalam perundingan perlucutan senjata dengan tentara Jepang di Lengkong, Tangerang, terjadi insiden yang tidak diharapkan. Dalam insiden itu, Letnan Satu Subianto Djojohadikusumo gugur bersama 36 anggota Tentara Republik Indonesia (TRI) dan taruna Akademi Militer Tangerang.

Di saku jenazah Subianto ditemukan secarik kertas berisi kutipan sajak penyair Belanda, Henriette Roland Holst, sebagai berikut:

“Wij zijn de bouwers van de temple niet//Wijn zijn enkel de sjouwers van de stenen//Wij zijn het geslacht dat moest vergaan//Opdat een oprijze uit onze graven.”

Oleh Rosihan Anwar, sajak tersebut diterjemahkan ke bahasa Indonesia:

“Kami bukan pembina candi//Kami hanya pengangkut batu//Kamilah angkatan yang mesti musnah//Agar menjelma angkatan baru//Di atas kuburan kami lebih sempurna.”

Untuk mengenang patriotisme pejuang muda itu, sang kakak, Sumitro Djojohadikusumo mengabadikan nama adiknya itu dalam nama putra ketiganya PRABOWO SUBIANTO.

Riwayat singkat ini menunjukkan bahwa darah pejuang mengalir deras dalam tubuh Prabowo. Keterikatan Subianto kepada gerakan Islam, rupanya mengalir juga ke tubuh Prabowo.

Saat masih sebagai militer aktif, Prabowo-lah satu-satunya Jenderal yang berta’ziah ketika mantan Ketum Partai Masyumi/mantan Perdana Menteri NKRI/Ketum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), M. Natsir, wafat pada 6 Februari 1993.

Prabowo juga satu-satunya Jenderal aktif yang berani bersilaturrahmi ke rumah Ketua DDII, Dr. Anwar Harjono, SH. Padahal mantan Ketua Umum GPII itu sedang dicekal dan dibunuh hak-hak sipilnya oleh rezim Orde Baru lantaran turut menandatangani Petisi 50 yang mengeritik Presiden Soeharto. [*]

* Lukman Hakiem (Politisi Senior PPP)