Opini

“Restu” SBY dalam sinyal Perubahan “Bandul” Politik

By  | 

MEDIAPRABOWO.COM – Beberapa media yang sebelumnya condong mendukung Jokowi dengan berbagai berita positif dan memberitakan hal sebaliknya terhadap Prabowo rival Jokowi, akhir-akhir ini mulai memuat berita secara berimbang. Tak jarang media yang sebelumnya mendukung Jokowi, malah memberitakan hal yang cukup menohok capres ini. Detik.com misalnya, kemaren mengabarkan hal yang cukup mengejutkan hasil mewawancarai dengan Arif Rahman tentang konsep Revolusi Mental yang dicanangkan pasangan Jokowo-JK. Menurut Arif, Revolusi mental bertentangan dengan prinsip pendidikan.

“Saya terus terang aja, mental itu jangan direvolusikan lah, mental itu secara didaktif itu evolusi, saya tidak bisa mempercepat pembentukan mental seorang dengan waktu yang saya standarkan. Dan itu boleh dikatakan itu bertentangan dengan prinsip pendidikan,” kata Arif, Senin (1/7/2014).

Menurut Arif, mental seseorang tidak dapat direvolusi. Namun bisa dievolusi dengan proses yang sangat diperlukan.

“Mental kan tidak bisa direvolusikan, bagaimana kita bisa membuat seseorang dari mental A ke mental B, tanpa sesuatu proses, jadi proses itu sangat diperlukan,” ujarnya.

Saat ditanya detik.com apakah metode revolusi mental ala Jokowi bisa diterapkan atau tidak, Arif menilai metodologi soal revolusi mental adalah salah.

“Mungkin niatnya baik, tapi metodologisnya keliru, salah,” jawab Arif.

Detik.com mengekspos pendapat Arif Rahman ini apa adanya, tanpa mengedit atau memelintirnya untuk “mengamankan” Jokowi sebagaimana yang sebelumnya banyak dilakukan oleh media pendukungnya.

Bahkan detik.com mengutip kekaguman Arif Rahman terhadap Hatta Rajasa yang menawarkan konsep pendidikan inklusif pada saat debat cawapres melawan JK. Arif Rahman mengapresiasi gagasan tersebut sebagai sebuah terobosan baru dan memang sedang menjadi tren di dunia.

“Pendidikan yang berkeadilan, menjangkau yang tak terjangkau, pendidikan yang tanpa diskriminasi, pendidikan yang memperhatikan setiap kemampuan dari setiap anak, dan ini adalah terobosan yang luar biasa. Dan itu nanti akan mengemas kurikulum 2013 dengan suatu proses pembelajaran yang paling baru,” puji Arif Rahman.

Pendapat Arif Rahman yang merupakan orang yang tidak diragukan lagi kompetensinya di dunia pendidikan, bahkan boleh dibilang salah satu pionir dan ikon pendidikan di Indonesia, tentunya cukup menohok Jokowi, sekaligus membuka mata para praktisi pendidikan akan konsep pendidikan masa depan yang dibawa Hatta.

Hal ini juga memperkuat sinyalemen serupa yang disampaikan Kwik Kian Gie. Menurut Kwik, ide Jokowi untuk merubah kurikulum SD menjadi 60% karakter dan sisanya “knowledge”, hanya akan menghasilkan orang jujur tapi bodoh.

Sementara itu beberapa media lainnya seperti Tempo, Kompas, dan lain-lain, juga mulai mengambil jarak terhadap Jokowi dengan memuat berita-berita yang lebih berimbang.

Ikhwal apa yang menyebabkan perubahan kebijakan media tersebut, apakah mereka sudah dibeli oleh tim Prabowo?.

Tentu hal yang naif sekali, tidak mudah untuk membeli media-media besar dan sudah kaya tersebut, kalaupun memungkinkan tentulah harganya selangit. Media punya preferensi politik tentunya bukan semata karena tawaran uang, akan tetapi bisa disebabkan oleh motivasi ideologi, bisa pula karena pertimbangan bisnis mengingat media adalah sebuah industri. Alasan yang terakhir ini lebih netral dan lebih logis.

Tampaknya media mulai melihat perubahan bandul politik, banyak indikator yang sudah di baca oleh media, antara lain:

Pertama, dukungan Partai Demokrat atas restu SBY terhadap Prabowo-Hatta.

Mantapnya PD menjatuhkan dukungan terhadap Prabowo-Hatta dengan alasan adanya kesamaan visi dan keyakinan bahwa pasangan capres no.1 ini akan melanjutkan program dan kebijakan pemerintahan sebelumnya, bukanlah satu-satunya alasan. SBY dan PD sebenarnya terus mengamati keterpilihan kedua pasang capres yang akan berlaga ini. SBY tentu juga melakukan “sounding” untuk mengetahui kecendrungan dukungan dunia internasional terhadap masing-masing pasangan. SBY tidak ingin Indonesia dipimpin oleh orang yang tidak diterima atau dikucilkan oleh dunia internasional yang mana akan berdampak pada stabilitas dan kemajuan di dalam negeri. SBY sebagai orang yang cermat dan hati-hati akhirnya “firm” menjatuhkan pilihannya. Selain itu, hasil survey internal PD dikabarkan juga menunjukkan keterpilihan Prabowo-Hatta terus meningkat dan diyakini telah menyalip Jokowi-JK.

Kedua, Kehadiran Prabowo Subianto pada acara yang diadakan The Indonesian Council on World Affairs (ICWA) di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (30/6). Bertema ‘Reactualisation of Foreign Policy and National Interests‘, acara ini dihadiri berbagai perwakilan duta besar seperti Amerika, Singapura, Finlandia, Afrika Selatan, Argentina, Belanda, Perancis, Jordania, India, Filipina, Portugal, Meksiko, Kuba, Venezuela, dan Kanada, dll. Pada kesempatan itu Prabowo memaparkan visinya tentang Indonesia ke depan. Di hadapan para dubes, Prabowo tidak merasa perlu menjilat atau sekedar menyenangkan negara asing, beliau konsisten dengan sikapnya untuk berjuang bagi kepentingan nasional Indonesia. Prabowo memaparkan berbagai masalah Indonesia ke depan. Terutama soal pertumbuhan penduduk, cadangan minyak dan korupsi.

“Negara lemah tidak bisa mempunyai politik luar negeri. Negara miskin tidak sepenuhnya merdeka, ini fokus perjuangan politik saya,” kata Prabowo.

Prabowo juga menegaskan bahwa dirinya adalah seorang demokrat yang tidak mungkin akan menjadi diktator.

Orasi Prabowo yang sangat fasih berbahasa Inggris ini disambut antusias dan mendapat aplaus para dubes, bahkan Prabowo tidak jarang membanyol menyegarkan suasana pertemuan.

Sikap elegan Prabowo pada saat tiba di tempat acara juga mengesankan para hadirin, beliau berkeliling dan memberi salam kepada semua orang. Bahkan, Prabowo berlutut dan memberi salam kepada seseorang ibu yang duduk di atas kursi roda.

Pertemuan itu memperkuat sinyal bahwa Prabowo akan menjadi pemimpin yang bisa diterima dunia internasional, tanpa perlu tunduk pada kepentingan asing.

Media, PD dan SBY tampaknya sudah memahami akan kemana bandul politik berayun menjelang tanggal 9 Juli nanti.

Rizal Amri