Berita

Surat Tanggapan Pius Lustrilanang Untuk Franz Magnis Suseno

By  | 

MEDIAPRABOWO.COM – Saudara-saudari, Pertama-tama, saya minta maaf kepada Romo Franz Magnis-Suseno dan saudaraku kaum muslimin yang sedang berpuasa. Setelah membaca surat Romo Magnis, saya jadi terdorong untuk ikut bersuara.

Berbeda dengan Romo Magnis, saya mantap memberikan suara buat Prabowo Subianto. Saya juga tidak bicara program, karena saya percaya semua pemimpin beretikad baik untuk menyejahterakan rakyatnya. Pemimpin bisa dengan mudah mengundang ribuan ahli untuk menyusun program bagi kemakmuran negara.

Berbeda dengan Romo Magnis, saya tidak khawatir sama sekali dengan Amien Rais dan jargon perang badarnya. Tidak juga dengan kelompok Ormas Islam Radikal. Bagi saya Amien Rais tetaplah salah satu tokoh reformasi. Jika ia berniat jahat, pasti itu sudah dilakukannya saat menjadi Ketua MPR. Bukankah beliau yang memimpin perubahan demi perubahan UUD kita di masa awal reformasi? UUD yang menjadi fondasi demokrasi kita sekarang.

Kita juga sudah punya UU Ormas untuk menangkal aksi kekerasan dan anarkhisme. Kita cuma butuh pemimpin yang tegas, yang bisa melindungi keberagaman kita. Saya kutip pernyataan Prabowo saat menanggapi aksi kekerasan berbau agama di Yogyakarta.

“Kita harus benar-benar menjaga setiap warga negara, harus dilindungi dan tidak boleh ada ancaman kekerasan apapun. Kita akan berupaya sekeras mungkin untuk menegakkan hukum dengan baik dan menciptakan kerukunan dengan sebaik-baiknya,” tegasnya. Prabowo berjanji, jika terpilih menjadi Presiden RI, akan memberikan sanksi tegas kepada pelaku pelanggaran tersebut.

Dalam negara demokratis di manapun selalu ada kelompok radikal keagamaan. Kebebasan mengutarakan pendapat dilindungi sepanjang tidak menggunakan cara-cara kekerasan. Kita punya semua semua perangkat hukum buat menangkalnya. Yang belum kita punya cuma pemimpin yang tegas.

Sayat idak meragukan ketegasan Prabowo. Saya tidak meragukan semangat toleransinya. Pemimpin, yang di dalam keluarga inti dan keluarga besar mempraktekkan kebebasan menganut agama dan menjalankan ibadah, dapat kita percaya untuk melindungi keberagaman.

Fatwa haram untuk memilih seseorang dalam sebuah kompetisi politik bukan hal baru di negara kita, bukan hal yang aneh. Megawati juga pernah diharamkan untuk dipilih oleh ulama di Jawa Timur. Tapi tetap saja Megawati memperoleh banyak suara. Mungkin itu cara yang sah bagi politik di kalangan kaum muslimin.

Soal menjamin kemurnian ajaran agama yang ada dalam manifesto Gerindra pun sudah dihapus. Kalaupun masih tercantum dalam website Gerindra, itu tak lebih dari kelalaian. Banyak website partai maupun instansi yang selalu terlambat diperbarui. Manifesto Gerindra disusun dalam waktu yang singkat. Ada banyak kekurangan. Konstitusi negara saja mampu kita sempurnakan. Menyempurnakan manifesto partai tidak serumit menyempurnakan konstitusi.

Romo menyinggung juga soal kasus penculikan aktivis. Sebagai aktivis yang diculik, saya tahu bahwa hal tersebut tidak mungkin atas inisiatif Prabowo sendiri. Kasus penghilangan orang adalah sebuah kejahatan rezim (Soeharto), bukan tindakan koboi para petinggi militer. Jika ada yang salah, maka yang salah adalah doktrin. Kesalahan doktrin adalah kesalahan institusi. Menyalahkan Prabowo semata, bagi saya, hanyalah upaya pengkambinghitaman.

Tuduhan Romo yang menggambarkan Prabowo sebagai orang yang tidak taat konstitusi dan aturan militer saat masih aktif pun, saya anggap berlebihan. Jika Prabowo betul sedigdaya itu, mengapa dia membiarkan dirinya dicopot dari jabatan Pangkostrad?. Bukankah itu berarti dia tunduk pada konstitusi, aturan militer dan hierarki?

Mohon maaf Romo Magnis, apa yang Romo khawatirkan tidak ada yang baru. Buat saya, semuanya hanyalah resume dari kampanye negatip yang selama ini diarahkan buat Prabowo. Jika ada yang salah dari apa yang saya utarakan, saat ini juga saya mengaku dosa. Mohon kiranya Tuhan Yesus mengampuni dosa saya. Amin.

Bogor, 3 Juli 2014

Pius Lustrilanang