Opini

Tagar #ABJ dan Jurus Mabuk Partai Abu-abu

By  | 

Suara petahana dan #ABJ2019 cukup berimbang di Pilpres 2019. Tapi masalahnya suara #ABJ2019 juga kuat dan tersebar diakar rumput Partai Abu-abu.

Ada yang belum tahu peraturan kemenangan Pilpres ?

Berdasarkan Pasal 6 A ayat 3 UUD 1945:

”Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang mendapatkan suara lebih dari lima puluh persen dari jumlah suara dalam pemilihan umum dengan sedikitnya dua puluh persen suara di setiap provinsi yang tersebar di lebih dari setengah jumlah provinsi di Indonesia, dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden”.

Berkaca ke Pilgub DKI yang lalu, calon dari petahana selalu diuntungkan oleh posisi dan langkah Partai Abu-abu.

Semua yang paham peta politik masa itu sudah menyadari ketika Partai Abu-abu memutuskan membuka “front” sendiri, yang mereka pecah adalah suara masyarakat yang menginginkan perubahan.

Saya yakin waktu itu petahana juga bersorak kegirangan karena menyadari peluangnya untuk menang kalau calonnya ada tiga dan hanya ada di putaran pertama.

Baca Juga: Untuk Kebaikan, Yang Semula Berseberangan Pun Dirangkul Jokowi
Syukurlah, kesolidan suara petahana tidak sampai 50% plus 1, karena kalau tidak, sejarah pasti belum berubah dan “ta*k… ta*k, nenek lo, bang*at dan makian lainnya”, masih akan tetap bertebaran memenuhi dan membuat busuk udara Kota Jakarta.

Sebagai pegiat #ABJ2019, bagi saya dan kawan-kawan yang paling penting adalah perubahan kepemimpinan Nasional di Pilpres mendatang.

Saya mengakui kalau saya condong mendukung Prabowo untuk 2019 nanti.

Saya punya “feeling”, kalau Jenderal “Pecatan” ini punya kemampuan dan ketegasan untuk memotong “invisible hand“, yang selama ini mencengkeram Istana Negara.

Ibarat Kapal, Negara ini hampir tenggelam di cengkram lengan monster Kraken. Kita mungkin bisa bertahan untuk tidak tenggelam, tapi perjalanan bangsa ini akan lambat dan akan terus-menerus dihambat menuju dermaga tujuan.

Dibutuhkan sosok Pemimpin tegas dan tidak mencla-mencle yang pagi ngomong tahu tapi sore-nya sudah berubah jadi tempe.

Menurut saya untuk saat ini sosok tegas itu diwakili Prabowo Subianto.

Tapi bagi #ABJ2019, tidak penting apakah Prabowo, Anies Matta, Aher, TGB, Gatot, AHY, Azwar Siregar atau bahkan Tiang Listrik sekalipun yang akan menjadi penantang petahana sekarang.

Sekali lagi paling penting adalah menggantikan petahana karena pemimpin yang sudah jelas dan terang-benderang gagal total tidak layak melanjutkan kegagalannya.

Kegagalan kok dilanjutkan, apa kata Wanda Hamidah…?

Karenanya langkah Partai Abu-abu menjadi hal yang paling menarik sekaligus sensitif untuk dicermati.

Untuk itu saya mohon maaf kepada kawan-kawan pendukung-nya, tapi mohon dipahami dan harus sama-sama kita sadari kalau strategi pemecah suara akan sangat berbahaya.

Analisa saya, suara petahana dan #ABJ2019 cukup berimbang. Tapi masalahnya suara #ABJ juga kuat dan tersebar diakar rumput Partai Abu-abu.

Kalau sampai Partai Abu-abu kembali membuka front baru, suara #ABJ2019 akan terpecah terbagi dua. Kemungkinan besar kedua calon penantang akan kalah suara dari petahana.

Karena suara petahana akan tetap solid dan kemenangannya sudah jelas membayang di depan mata, dia hanya butuh 50% + 1 ditambah ketentuan wajib 20 persen suara disetengah Provinsi di Negeri ini, cincaylah…itu masalah mudah.

Ayo #ABJ2019, mari kita suarakan dan dorong pertarungan Pilpres di 2019 dua calon, cukup antara petahana dan #ABJ2019.

Lagipula tiga putaran itu hanya membuang-buang waktu dan biaya.

Sebagai gambaran dari Pilpres 2014 yang lalu, KPU menganggarkan hampir 4 triliun untuk setiap putaran Pilpres.

Itu bukan jumlah uang yang sedikit, lebih baik dana untuk putaran ketiga kita gunakan untuk membeli sekop baru pengganti sekop lama yang sudah hilang dibanting Pak Lurah kemarin.

Opss…hampir lupa, sekalian Pak Lurahnya kita ganti yang baru juga.

Note: Tagar kita untuk ganti Lurah baru adalah #ABJ2019.

Azwar Siregar dalam tulisannya di Pepnews.com