Opini

Teguhnya Prabowo dalam Terpaan Gelombang Yang tak Berkesudahan

By  | 

Terhenyak membaca kalimat luhur ini. Yang meluncur lugas dari pribadi yang terbingkai sebagai tak punya hati. Sosok kejam di dalam sejarah bangsaku. Sejarah yang berisikan kisah-kisah agung perjuangan pembebasan. Dari keterjajahan. Dari pengurasan sumberdaya alam. Dari keterpurukan dalam kebodohan dan hilangnya harga diri.
Kalimat agung ini mengalir saat Prabowo Subianto memimpin episode pembebasan anak-anak manusia. Terjadi tahun 1996, tepat. 2 tahun sebelum dirinya dinistakan dalam tragedi fitnah terbesar dan terlama yang pernah negeri ini ciptakan untuk satu anak bangsa.

Dalam tatapannya yang dalam penuh makna, lelaki tegar itu menitikkan air mata. “Kita semua adalah ciptaan Tuhan. Kita semua sama. Semua punya keluarga dan sanak famili. Kita punya ibu yang telah melahirkan kita. Kelompok penyandera itu juga punya ibu dan dan keluarga”.

“Karena itu, dalam melaksanakan operasi pembebasan sandera, upayakan jangan ada korban, usahakan ditangkap saja. Apapun yang kita lakukan disini, jangan sampai ada nyawa yang melayang, dari manapun mereka”.

“Jika ada perempuan dan anak-anak disekitar daerah itu, amankan dan kita bina kembali ke masyarakat, karena mereka adalah saudara-saudara kita”. Begitu tegas penuh wibawa sang komandan tempur kepada pasukannya. Sesaat sebelum memulai operasi pembebasan yang mengharumkan nama Indonesia itu.

Baginya, nyawa setiap manusia teramat berharga. Nilai kemanusiaan sangat utama. Meski itu dalam situasi peperangan paling mengerikan dibelantara hutan terlebat sekalipun. Baginya, nilai satu “nyawa” pasukannya setara nilai satu “nyawa” para sandera, dan bahkan satu “nyawa” mereka yang bergabung dalam aksi separatisme Organisasi Papua Merdeka (OPM) sekalipun. Semua dihargai, dijaga, dinilai.

Nilai yang hanya akan terlahir dari pribadi yang memiliki akar kecintaan luar biasa kepada segenap anak-anak bangsanya. Tak peduli dari latar belakang apapun ia berasal. Tidak ada yang membedakan manusia, satu dengan yang lain baginya. Semua sama, setara dihadapan Tuhan yang menciptakannya. Maka sejarah lalu menorehkan satu lagi tinta emas prestasi gemilang. 9 dari 11 sandera itu selamat. Setelah tersandera 129 hari lamanya.

Sejarah seringkali ditutupi oleh kepentingan yang bertentangan dengan nilai kebangsaan. “Saya tahu dibalik itu ada orang lain. Sama seperti saya. Saya victim, korban. Kalau saya bilang, berapa orang saya buka untuk bisa balas dendam. Jadi diam sajalah. Kita kembalikan saja kepada Yang Diatas. Kalau kita bicara dendam, kapan habisnya?” kata mantan Presiden RI, Megawati, 21 Juni 2009.

Kebenaran pasti akan terkuak. Kebusukan walau setitik akan terbongkar. Meskipun Prabowo tidak lantang bersuara membela diri, orang-orang yang tulus hatinya mendekat, membelanya.

Prabowo, boleh jadi seorang psikopat yang gila bagi ketidakadilan, bagi aksi pengkhianatan dan ketidakjujuran di negerinya. Tapi rekam jejaknya adalah inspirasi bagi nurani.

Maka fitnah tak mampu membunuh karakternya. Meski menerpa dalam gelombang seolah symphoni tak berkesudahan. Fitnah itu makin membesar, setiap dirinya mendekat ke jalur kekuasaan. Karena kejujurannya menggetarkan hati para pengkhianat negeri. Keluhuran budinya melelehkan nyali-nyali para anarki. Keteguhannya menjadi inspirasi pagi para pencinta kemanusiaan dan nurani.

Karena itulah, orang-orang yang terbukakan semakin berbaris rapi berjalan mengiringi perjuangannya untuk negerinya. Elemen-elemen yang terserak, dari ujung ekstrim yang satu ke ujung ekstrim yang lain kian merapat kepadanya. Karena setiap kata-katanya mewakili rekam jejak dan kualitas pribadinya.

“Siapa yang mengaku orang Indonesia, yang hidup di Indonesia, yang ingin berkarya di Indonesia, ingin membela Indonesia, adalah saudara saya. Jadi wajib saya melindunginya, membantunya, mempertahankan hak-haknya. Ini adalah sumpah saya kepada diri saya sendiri dan kepada Tuhan”

Maka saksikanlah. Tak lama lagi, sejarah gemilang negeri ini akan mencatat. Sosok yang tegar diterpa fitnah paling berat, di tempa alam paling keras dan teruji keikhlasan baktinya ini, akan mengantarkan negeri ini ke level peradaban yang belum pernah kita raih sebelumnya.

Maka sudah seharusnya setiap diri kita bertanya, dimana semestinya kita berdiri? Apa yang mestinya yang kita perjuangkan bagi negeri tercinta ini?

Prayudhi Azwar, Perth, 14 Juni 2014, dengan judul asli “Lembut Hatinya telah Ajarkanku”
5:48 AM, dilembutnya pagi yang menyapa hati.