Berita

Tidak Lupa Jasa Pemimpin, Prabowo Mikul Dhuwur Mendhem Jero

By  | 

JAKARTA – Capres yang diusung koalisi merah putih, Prabowo Subianto dinilai memahami falsafah Jawa mikul dhuwur, mendhem jero (memikul tinggi-tinggi, memendam dalam-dalam).

Kehadirannya pada haul almarhum Soeharto, menunjukkan Prabowo tidak lupa pada jasa seorang pemimpin atau orang tua dijunjung tinggi sedangkan kesalahannya harus ditutupi.

“Prabowo tidak pernah mempermasalahkan kesalahan yang terjadi pada masa lalu. Selain tegas dan berani, Prabowo juga sangat pemaaf. Kehadiran Prabowo di haul Pak Harto menunjukkan Prabowo menghayati falsafah Jawa mikul dhuwur, mendhem jero yang diperolehnya dari Pak Harto. Salah atau benar, sebagai orang tua yang telah berjasa, Pak Harto harus tetap dihormati,” kata tim pemenangan Prabowo-Hatta, Suryo Prabowo dalam rilisnya, usai mengikuti haul Soeharto di Astana Giri Bangun, Karanganyar, Jawa Tengah (8/6).

Menurut Suryo, Prabowo selalu menghormati siapa saja yang ingin atau telah berjasa pada bangsa Indonesia.

“Prabowo menghormati Habibie, Gus Dur, Megawati dan SBY bahkan Jokowi saja dihormati oleh Prabowo. Prabowo menghormati Pak Harto karena jasanya sangat besar bagi Indonesia dan stabilitas politik kawasan. Di zaman Pak Harto stabilitas dalam negeri selalu terkendali. Indonesia disegani sebagai macan di Asia,” ujarnya, mengenang.

Kehadiran Prabowo dalam haul Pak Harto juga dinilai Suryo menunjukkan Prabowo berjiwa besar.

“Tidak mudah melakukan itu, hanya orang yang berjiwa besar yang dapat melakukannya. Semua paham, sebagai mantan menantu Soeharto, Prabowo pernah dikucilkan. Prabowo menyadari, bangsa Indonesia tidak akan maju kalau terus melihat ke belakang. Kehadiran Prabowo juga merupakan tanda sudah tidak ada masalah antara dirinya dengan keluarga Pak Harto,” tegasnya.

Menurutnya, dalam hitungan politik kehadiran Prabowo ke haul Soeharto dapat saja merugikan. Pasalnya, sampai saat ini masih ada orang yang tidak suka dengan Pak Harto.

“Tapi itulah Prabowo, dia selalu melihat orang dari sisi baiknya. Prabowo tidak pernah negative thinking. Dia sadar betul, setiap orang bisa saja keliru atau khilaf dalam hidupnya. Tapi yang lebih penting bagi Prabowo bangsa ini tidak bisa dibangun dengan rasa benci dan saling bermusuhan,” pungkasnya.(fas/jpnn)