Visi Prabowo

Visi Prabowo Subianto di Depan Anggota JFFC

By  | 

 

Pertemuan JFCC (Jakarta Foreign Correspondents Club)  menghadirkan Letjen (Purn) Prabowo Subianto sebagai pembicara utama. Prabowo melihat ada hal yang menjadi tantangan Indonesia selama 20 tahun ke depan:

Sumber daya energi yang mulai habis, karena saat ini Indonesia mengonsumsi 500 juta barel minyak mentah per tahun, naik 10 juta barel. Dia menyarankan 30-50 tahun ke depan, Indonesia harus mengembangkan teknologi nuklir.

Ledakan penduduk dari 241 juta orang saat ini, dengan 4,8 juta angka kelahiran bayi setiap tahunnya. Dengan pertumbuhan itu, setiap 10 tahunnya, penduduk Indonesia akan bertambah enam kali dari penduduk Singapura dan Malaysia. Hal itu menimbulkan tantangan di bidang perumahan, kesehatan, makanan, dan pekerjaan.

Lemahnya pemeirntahan, inefisiensi, dan korupsi, yang dicerminkan dari 17 gubernur yang ditahan (baik sebagai terperiksa maupun baru indikasi) dari total 33 gubernur. Dari 487 bupati, 138 orang di antaranya diduga atau diperiksa karena korupsi. Sekitar 30% kepala daerah sedang dituntut atas kasus korupsi.

Ketidakseimbangan ekonomi Indonesia karena 60% uang di Indonesia berputar di Jakarta saja. Sebanyak 30% lain di kota besar lain dan hanya 10% yang di daerah. Padahal, 60% penduduk Indonesia tinggal di pedesaan dan hanya 3% APBN 2012 yang dialokasikan untuk agrikultur. Sebanyak 60% penduduk bekerja di bidang agrikultur.

Ketidakseimbangan itu menciptakan ketidakpuasan, ketidakadilan, dan ketidaksetaraan kaum miskin dan generasi muda. Selama 68% kemerdekaan, kemajuan ekonomi hanya menguntungkan sebagian pihak.

Prabowo menawarkan beberapa solusi, yaitu: pemerintahan yang baik dan bersih, ekonomi kerakyatan, perlindungan rakyat miskin, dan penghematan US$100 miliar per tahun dari APBN. Dia meyakini sosialisme murni tidak akan berhasil, tetapi kapitalisme murni juga berbahaya. Saat ini sebanyak 1% rakyat Indonesia yang mengontrol 41% GDP.

Misalokasi anggaran Indonesia saat ini dan pemborosan US$100 miliar per tahun dari rendahnya pemasukan pajak (rasio pajak hanya 12% dibandingkan dengan Thailand 17%), dan pengeluaran yang sia-sia. Sebagai gambaran, Jokowi dalam bulan-bulan pertamanya menjabat gubernur Jakarta telah memangkas 25% anggaran propinsi dan memotong subsidi BBM.

Dalam sesi tanya jawab, Prabowo menjawab tiga topik, yaitu proteksionisme, perlindungan HAM, dan hubungan dengan Australia.

Proteksionisme adalah dilema karena seharusnya tidak ada dan semua orang seharusnya berkompetisi. Namun, bagaimana seseorang dapat bersaing dengan titik awal yang sangat tertinggal? Jadi dibutuhkan level bermain yang sama, sehingga harus dilihat pada kasus per kasus.

Untuk proteksi dan dampaknya pada investor langsung asal luar negeri, Prabowo menyatakan Indonesia dapat belajar dari sejarah dan dari negara lain.

Hak minoritas dipertanyakan, terutama yang baru menimpa Syiah di Madura. Prabowo mengatakan GERINDRA memiliki minoritas terbesar di dalam partaninya dan telah menyebabkan tsunami politik ketika mencalonkan seorang Kristen keturunan China sebagai wakil gubernur. Dia menyatakan partainya melawan segala diskriminasi dan intoleransi.

Untuk hubungan luar negeri, Prabowo memilih untuk fokus di permasalahan domestik. Untuk pertanyaan yang menanyakan pendapatnya tentang gelagat Australia yang seakan-akan ingin memisahkan Papua dari Indonesia, Prabowo menyatakan dia meyakini pemimpin Australia menghormati integritas teritorial Indonesia.